Jurnal Riset Gizi

Unduh sebagai pdf atau txt
Unduh sebagai pdf atau txt
Anda di halaman 1dari 6

Hubungan Promosi dan Pelayanan Gofood....

JRG Jurnal Riset Gizi


p-ISSN: 2338-154X e-ISSN: 2657-1145

Submitted : 13 Sept 2020 Revised : 01 Okt 2020 Accepted : 30 Nov 2020 Published : 30 Nov 2020

Hubungan Promosi dan Pelayanan Gofood dengan Perilaku Konsumsi Pangan Obesogenik dan Status
Gizi Remaja

The Relationship between Promotion and Gofood Services with Obesogenic Food Consumption Behavior
and Nutritional Status In Adolescents

Amanda Alifa1, Dian Luthfiana Sufyan1, Ikha Deviyanti Puspita1


1
Jurusan Gizi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Corresponding author: Amanda Alifa


Email: amandaalifa8@gmail.com

ABSTRACT

Background : Adolescence is a period that is easily influenced by external factors and easy to follow the trends
such as online food ordering that is evolve. Adolescent consumption habits are now classified as unhealthy, such
as consuming fast food and sweetened beverages that if consumed continuously, excessively, and without
physical activity can lead to obesity.
Objective: This study aimed to determine the correlation between GoFood promotion, GoFood service, and
obesogenic food consumption behavior with adolescent nutritional status (overweight and obesity).
Method : The study used a cross sectional design with chi-square test method. Assessment of GoFood
promotion and GoFood service using questionnaires, and consumption of obesogenic food using FFQ (Food
Frequency Questionnaire), and anthropometric measurements included weight and height for 64 adolescents.
Result : The analysis showed that GoFood promotion (p=0,880), GoFood service (p=0,149), and consumption
of obesogenic food (p=0,773) have no correlation with overweight and obesity.
Conclusion : There was no correlation between GoFood promotion, GoFood service, and obesogenic food
consumption behavior with adolescent nutritional status (overweight and obesity).

Keywords : Gofood Promotion; Gofood Service; Obesogenic; Overweight; Obesity

Introduction pangan obesogenik. Pangan obesogenik adalah


(Pendahuluan) pangan yang meningkatkan risiko obesitas seperti
makanan cepat saji dan minuman berpemanis3.
Perubahan gaya hidup terkait pola makan Penelitian oleh Nusair dkk (2010) menunjukkan
menggunakan jasa online, akhir-akhir ini semakin bahwa banyaknya potongan harga yang ditawarkan
meningkat dan dengan adanya kemudahan tersebut, untuk memasarkan atau menginformasikan suatu
manusia cenderung memiliki budaya konsumtif yang produk makanan ada pengaruhnya terhadap
juga meningkat. Meningkatnya budaya konsumtif peningkatan keinginan seseorang untuk membeli
tersebut berpengaruh terhadap dan bagaimana makanan4. Studi menunjukkan bahwa ada hubungan
perilaku konsumsi. Semakin meningkat perilaku antara pemesanan makanan secara online dengan
konsumsi manusia akan meningkakan status gizi kejadian obesitas di Universitas area Medan5. Promosi
seseorang. iklan pangan melalui media massa juga berhubungan
Manusia harus mengimbangi perkembangan dengan kejadian obesitas6.
teknologi yang berdampak pada kebutuhan hidup, Hasil penelitian oleh Health Education Authority
salah satu untuk memenuhi kebutuhan pangan1. pada tahun 2002, konsumen terbanyak yang
Akibat, konsumen menginginkan segala proses nya mengonsumsi fast food adalah usia 15 hingga 34
dapat dilakukan dengan mudah, salah satu melalui tahun7. Remaja sangat mudah dipengaruhi oleh
promosi produk2. Menurut Baskara (2016), dalam lingkungan, teman dekat, dan mudah terbawa arus
promosi produk, biasanya perusahaan menawarkan mode serta trend yang sedang banyak
potongan harga untuk menarik perhatian serta minat diperbincangkan khususnya dalam hal pangan8.
beli konsumen. Salah satu promosi produk yang Minuman dengan pemanis banyak mengandung zat
sedang banyak diperbincangkan adalah promosi gizi seperti karbohidrat, lemak, kolesterol, serta

Copyright @2020; Jurnal Riset Gizi, Vol.8 No.2 2020


95
Hubungan Promosi dan Pelayanan Gofood....

garam. Maka apabila frekuensi konsumsi sering dan UI) prevalensi pengguna GoFood sebesar 35% berada
tidak diimbangi dengan aktivitas fisik akan pada usia 18 hingga 25 tahun sedangkan 25% nya
mengakibatkan status gizi lebih serta berisiko pada usia 26 hingga 35 tahun19. Hasil penelitian di
mengalami penyakit degeneratif8,9. Malang, jika promosi, mitra, dan pelayanan GoFood
Berdasarkan penelitian di Bangladesh pada tahun meningkat sebesar 10% maka tren keputusan
2014, siswa yang mengonsumsi fast food sebanyak ≥2 pembelian produk ayam olahan menggunakan aplikasi
hari per minggu, berisiko 2,2 kali mengalami GoFood akan meningkat sebesar 6,82% (melalui
obesitas10. Menurut Johnson (2010), minuman promosi dan mitra) dan 4,04 % (melalui pelayanan) 20.
berpemanis yang mengandung tinggi gula sederhana Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu
(fruktosa) juga berkontribusi besar terhadap kejadian dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan
obesitas11. Berdasarkan data hasil Riskesdas (2018), promosi dan pelayanan GoFood serta perilaku
penduduk dengan status gizi gemuk nomor dua adalah konsumsi pangan obesogenik dengan status gizi lebih
provinsi DKI Jakarta yaitu sebesar 12,8% dan status remaja.
gizi obesitas DKI Jakarta berada pada urutan pertama
yaitu sebesar 8,3%. Pada penduduk DKI Jakarta usia Methods
>18 tahun berada pada urutan kedua dengan status (Metode Penelitian)
gizi obesitas yaitu sebesar 29,8% setelah provinsi
Sulawesi Utara12. Kemudian, berdasarkan Profil Penelitian ini menggunakan desain cross sectional
Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2017, status dengan pendekatan kuantitatif. Populasi target dari
gizi obesitas menurut jenis kelamin, kecamatan, dan penelitian ini adalah remaja di lingkungan RW 02
Puskesmas tertinggi pada Kabupaten/Kota Cilandak Barat Jakarta Selatan. Besar sampel yang
Administrasi Jakarta Selatan yaitu sebanyak 25.515 digunakan sebanyak 64 responden. Pengambilan
(3,86%)13. sampel melalui non probability sampling, yaitu
Pemilihan pangan oleh remaja dipengaruhi oleh dengan insidental teknik sampling. Analisis bivariat
faktor alokasi pengeluaran pangan, pengetahuan gizi, menggunakan uji Chi Square. Instrumen yang
serta alokasi waktu dalam menyiapkan makanan14. digunakan adalah kuesioner, formulir FFQ,
Penyajian makanan cepat saji yang praktis, rasa yang microtoise, dan bathroom scale.
lezat, cocok dengan selera, serta frekuensi
mengonsumsi makanan cepat saji yang sering Results
membuat status sosial remaja menjadi naik serta tidak (Hasil)
tertinggal dalam hal globalitas15. Remaja yang ada
pada kota Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Hasil penelitian (Tabel 1) hampir sepertiga
Surabaya, dan Denpasar sebesar 15% hingga 20% dari (32,8%), frekuensi terbesar berada pada usia 22 tahun
471 remaja di Jakarta mengonsumsi fried chicken dan yaitu sebesar 32,8%. Distribusi data jenis kelamin
burger sebagai makan siang, kemudian sebesar 1% remaja terbagi menjadi 31 jenis kelamin laki-laki
hingga 6% mengonsumsi hotdog, pizza, dan spaghetti (48,4%) dan jenis kelamin perempuan (51,6%).
dan sebanyak 22,6% remaja di Bogor sering Distribusi status gizi lebih yaitu berjumlah (25%) dan
mengonsumsi minuman berpemanis tiap minggunya frekuensi status gizi normal yaitu berjumlah (75%).
(>7 kali/minggu) 16,17. Distribusi data promosi GoFood kategori promosi
Dalam memilih pangan, remaja sering melihat baik sebanyak 23 responden (35,9%) dan kategori
promosi serta potongan harga. Promosi yang promosi kurang baik sebanyak 41 responden (64,1%).
ditawarkan oleh perusahaan salah satunya melalui Distribusi data promosi GoFood kategori promosi
internet. Menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa baik sebanyak (35,9%) dan kategori promosi kurang
Internet Indonesia), tahun 2015 pengguna internet di baik sebanyak (64,1%). Distribusi data pelayanan
Indonesia sebesar lebih dari 100 juta, tahun 2016 GoFood kategori pelayanan baik sebanyak 32
mencapai 132,7 juta, dan pada tahun 2017 mengalami responden (50%) dan kategori pelayanan kurang baik
peningkatan menjadi 143,26 juta jiwa18. Internet dapat sebanyak 32 responden (50%). Distribusi data
dijadikan sebagai peluang usaha, salah satunya oleh perilaku konsumsi pangan obesogenik yang sering
PT. GoJek Indonesia melalui fitur GoFood. mengonsumsi sebanyak 32 (50%) dan yang jarang
Salah satu fitur layanan GoJek untuk melayani mengonsumsi sebanyak 32 (50%).
food delivery service di Indonesia adalah GoFood. Hasil penelitian (Tabel 1) hasil menunjukkan
Menurut data statistik, penyediaan makanan dan promosi GoFood tidak berhubungan terhadap status
minuman tahun 2017 sebesar 83,96 % porsi makanan gizi lebih dengan nilai p-value=0,880 (p>0,05)
dan minuman terjual melalui delivery order dan cenderung menganggap promosi GoFood kurang baik
15,12% melalui ojek online. Di DKI Jakarta, sebesar sebanyak 30 responden (73,2%) memiliki status gizi
27,20% pemesanan makanan dan minuman dari normal, kemudian untuk responden dengan
restoran melalui ojek online dan berada pada provinsi menganggap promosi GoFood baik sebanyak 18
urutan pertama18. responden (78,3%) memiliki status gizi normal. Hasil
Berdasarkan riset Lembaga Demografi Fakultas analisis menunjukkan bahwa pelayanan GoFood tidak
Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB berhubungan terhadap status gizi lebih dengan nilai p-

Copyright @2020; Jurnal Riset Gizi, Vol.8 No.2 2020


96
Hubungan Promosi dan Pelayanan Gofood....

value=0,149 (p>0,05) cenderung menganggap status gizi lebih dengan nilai p-value=0,773 (p>0,05)
pelayanan GoFood kurang baik sebanyak 27 cenderung sering mengonsumsi pangan obesogenik
responden (84,4%) memiliki status gizi normal, sebanyak 25 responden (78,1%) memiliki status gizi
kemudian untuk responden dengan menganggap normal, kemudian untuk responden yang jarang
pelayanan GoFood baik sebanyak 21 responden mengonsumsi pangan obesogenik sebanyak 23
(65,6%) memiliki status gizi normal. Hasil analisis responden (79,1%) memiliki status gizi normal.
menunjukkan bahwa perilaku konsumsi pangan
obesogenik tidak signifikan berpengaruh terhadap

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden


n %
Usia Responden (Tahun)
19 17 26,6
20 14 21,9
21 12 18,8
22 21 32,8
Jenis Kelamin
Laki-laki 31 48,4
Perempuan 33 51,6
Status Gizi
Status Gizi Lebih 16 25
Status Gizi Normal 48 75

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Analisis Univariat


n=64 %
Promosi GoFood
Promosi Baik 23 35,9
Promosi Kurang Baik 41 64,1
Pelayanan GoFood
Pelayanan Baik 32 50
Pelayanan Kurang Baik
32 50
Perilaku Konsumsi Pangan Obesogenik
Sering 32 50
Jarang 32 50

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Analisis Bivariat


Variabel
Status Gizi Total p
Lebih Normal
n(%) n(%) n(%)
Promosi GoFood
Promosi Baik 5(21,7) 18(78,3) 23(100) 0,880
Promosi Kurang Baik 11(26,8) 30(73,2) 41(100)
Pelayanan GoFood
Pelayanan Baik 11(34,4) 21(65,6) 32(100) 0,149
Pelayanan Kurang Baik 5(15,6) 27(84,4) 32(100)
Perilaku Konsumsi Pangan Obesogenik
Sering 7(21,9) 25(78,1) 32(100) 0,773
Jarang 9(28,1) 23(79,1) 32(100)

Copyright @2020; Jurnal Riset Gizi, Vol.8 No.2 2020


97
Hubungan Promosi dan Pelayanan Gofood....

Discussion maka semakin konsumen tertarik dan percaya dengan


(Pembahasan) informasi tersebut27.
Hasil penelitian lain Khotimah (2004) dan
Hasil penelitian ini, dominan pada usia 22 tahun Imtihani (2012) tidak sejalan dengan penelitian ini.
dimana pada usia tersebut sudah memasuki tahap Motivasi dalam mengonsumsi fast food karena rasa
akhir remaja. Pada usia tersebut remaja sudah mampu ingin tahu terhadap rasa makanan serta adanya
melihat masalah dengan sudut pandang yang luas pengaruh dari iklan. Seringnya iklan pada makanan
serta kepribadian intelektual telah terbentuk21. menunjukkan rasa renyah, gurih, atau manis dapat
Hasil penelitian ini, dominan berjenis kelamin memicu mempengaruhi konsumen terhadap produk
perempuan. Perempuan lebih memperlihatkan emosi yang dipasarkan. Selain itu, responden pada penelitian
dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut ini adalah anak SD, dimana berada pada remaja
disebabkan karena laki-laki akan merasa direndahkan tingkat awal yang masih mudah terpengaruh dan
oleh orang lain apabila memperlihatkan emosi22. tertarik oleh lingkungan sekitar. Seringnya iklan
makanan atau minuman kemasan yang dilihat setiap
Hasil penelitian didominasi oleh status gizi normal hari oleh konsumen. Selain itu, produk yang
yang bisa disebabkan karena faktor penyebab status ditawarkan juga menarik konsumen6.
gizi lebih secara keseluruhan tidak terdapat pada Hasil penelitian ini dapat disebabkan karena tidak
responden, seperti genetik, rendahnya aktivitas fisik, seringnya responden terpapar promosi iklan dari suatu
pola konsumsi makanan, stress, uang saku, dan produk sehingga tidak mempengaruhi responden
sebagainya. Status gizi seseorang pada dasarnya untuk tertarik dan membeli pangan obesogenik. Selain
ditentukan oleh konsumsi gizi dan kemampuan tubuh itu, jenis media dalam promosi serta berbagai macam
dalam menggunakan zat-zat gizi. Status gizi normal promosi yang ditawarkan dari iklan makanan dan
berarti menunjukkan kualitas dan jumlah makanan minuman juga berhubungan terhadap frekuensi
yang sudah memenuhi tubuh23. konsumsi pangan obesogenik yang kemudian akan
Hasil penelitian didominasi oleh kategori promosi berlanjut pengaruhnya terhadap status gizi lebih
kurang baik. Strategi promosi yang dilakukan bisa remaja. Konsumen yang terkena dampak dari promosi
jadi kurang efektif, seperti potongan harga pada iklan tidak hanya yang sering terpapar promosi iklan
produk yang tidak sesuai dengan keinginan pangan obesogenik saja, namun juga dilihat dari
konsumen. Responden juga bisa jadi kurang terpapar faktor ketertarikan terhadap promosi iklan pangan
informasi yang dikeluarkan oleh GoFood, karena tersebut.
seringnya terpapar promosi iklan membuat seseorang Faktor promosi juga bukan pengaruh langsung
cenderung terpengaruh pada produk yang dari kejadian gizi lebih. Meskipun responden tertarik
ditawarkan6. dan setuju dengan pernyataan bahwa promosi GoFood
Hasil penelitian seimbang antara pelayanan baik itu baik, namun harus dilihat lagi dari faktor yang
dan pelayanan kurang baik. Indikator dari kualitas mempengaruhi untuk membeli dan menyebabkan gizi
pelayanan yang baik, yaitu dilihat dari bukti langsung, lebih lainnya, seperti uang saku, pengetahuan gizi,
kehandalan, ketanggapan, jaminan, dan empati24. atau ketersediaan pangan di rumah.
Hasil penelitian seimbang antara perilaku Hubungan antara pelayanan GoFood dengan status
konsumsi pangan obesogenik yang sering gizi lebih menunjukkan bahwa pelayanan GoFood
mengonsumsi dan yang jarang mengonsumsi. tidak berhubungan terhadap status gizi lebih dengan
Beberapa faktor yang berhubungan dengan konsumsi nilai p-value=0,149 (p>0,05). Sejalan dengan
pangan obesogenik, yaitu akses ke sumber makanan, penelitian Harahap, Aritonang, dan Zulhaida tahun
uang saku, dan ketersediaan makan di rumah25. 2020 pada variabel pemesanan makanan online tipe
Kemudian salah satu faktor lainnya yaitu pengaruh makanan yang dipesan. Variablel tersebut tidak
iklan pada media massa26. menunjukkan adanya hubungan dengan kejadian
Hubungan antara promosi GoFood dengan status obesitas. Jenis makanan berperan dalam
gizi lebih menunjukkan promosi GoFood tidak meningkatkan risiko obesitas pada orang yang
berhubungan terhadap status gizi lebih dengan nilai p- mengonsumsinya, terutama pangan obesogenik yang
value=0,880 (p>0,05). Didukung oleh penelitian oleh tersedia pada aplikasi online GoFood. Rendahnya
Wardaningrum (2018) pada remaja di wilayah kerja pemesanan jenis makanan lengkap, seperti makanan
Puskesmas Purwosari Kota Surakarta, bahwa tidak pokok, lauk, sayur, dan buah disebabkan karena tidak
ada hubungan antara paparan promosi iklan junk food semuanya tersedia dalam aplikasi makanan online5.
dengan status gizi lebih remaja dengan hasil p- Tidak sejalan dengan penelitian Hollands tahun
value=0,786 (p>0,05). Macam-macam iklan pangan 2012 di Canada, bahwa pelayanan pada makanan
yang sering dilihat tidak akan mempengaruhi yang lengkap berhubungan dengan status gizi.
frekuensi mengonsumsi makanan cepat saji begitu Menurut literatur internasional, pelayanan makanan
juga dengan jenis media massa dalam mengiklankan khususnya akses terhadap makanan siap saji menjadi
produk. Selain itu, pemeran yang mengiklankan pengaruh utama terhadap pola makan seseorang
produk juga mempengaruhi. Apabila diperankan oleh dimana akan berisioko terhadap kejadian obesitas28.
artis atau tokoh terkenal yang digemari konsumen,

Copyright @2020; Jurnal Riset Gizi, Vol.8 No.2 2020


98
Hubungan Promosi dan Pelayanan Gofood....

Hasil penelitian Harahap, Aritonang, dan Zulhaida strategi penghematan dalam masa pandemi seperti
tahun 2020 menjelaskan bahwa sebagian besar jenis sekarang.
makanan yang dipesan adalah makanan cepat saji dan
aktivitas fisik yang kurang seperti tidak perlu usaha Conclusion
untuk membeli makanan keluar rumah, oleh karena (Simpulan)
itu akan terjadi penumpukkan lemak yang dapat
berhubungan dengan obesitas sering5. Berdasarkan penelitian yang telah diakukan, tidak
Pelayanan makanan yang baik juga diukur dari ada hubungan antara promosi GoFood, pelayanan
lengkapnya pilihan jenis makanan yang tersedia GoFood, dan perilaku konsumsi pangan obesogenik
dalam aplikasi. Tidak lengkap atau tidak adanya dengan status gizi lebih remaja.
pilihan jenis makanan yang biasa dikonsumsi dalam
layanan GoFood. Selain itu, responden juga Recommendations
mengukur dari seberapa seringnya suatu restoran (Saran)
dipesan oleh konsumen lain, yang dimana sudah
terpercaya memiliki kualitas pelayanan yang baik. Melakukan penelitian terkait status gizi lebih
Pelayanan juga bukan faktor langsung dari penyebab dengan beberapa variabel pendukung, seperti aktivitas
kejadian gizi lebih. fisik, uang saku, genetik, pengetahuan gizi,
Hubungan antara perilaku konsumsi pangan pendidikan ibu, pengaruh teman sebaya, pola
obesogenik dengan status gizi lebih menunjukkan konsumsi zat gizi, dan sebagainya.
bahwa perilaku konsumsi pangan obesogenik tidak
signifikan berpengaruh terhadap status gizi lebih References
dengan nilai p-value=0,773 (p>0,05). Sejalan dengan (Daftar Pustaka)
penelitian Widyantara, Zuraida, dan Wahyuni pada
tahun 2013, tidak ada hubungan yang bermakna 1. Putra EW, Kumadji S, Yulianto E. Pengaruh
antara kebiasaan makan makanan cepat saji dengan Potongan harga Terhadap Minat Beli Serta
status gizi dengan nilai p-value=0,118 (p>0,05). Dampaknya Pada Keputusan Pembelian (Study
Menurut WHO (2003), yang menyebabkan gizi lebih pada konsumen yang membeli produk potongan
pada konsumsi makanan cepat saji yaitu jumlah serta harga di Matahari Department Store Pasar Besar
ukuran porsi yang dimakan berlebihan29. Malang). J Adm Bisnis. 2016;38(2):184–93.
Sejalan dengan penelitian Ardin, Kartini, dan 2. Widodo T. Respon Konsumen terhadap Produk
Lestari tahun 2018, frekuensi makan yang diteliti Makanan Instan (Studi Kasus di Pasar Raya
selama waktu pengambilan data tidak Kota Salatiga). Among Makarti. 2013;6(12):10–
menggambarkan masalah status gizi secara spesifik. 28.
Faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan, yaitu 3. Sulistyaningrum E, Hadi H, Julia M. Persepsi
nafsu makan, rasa lapar, pantangan, kesukaan, emosi, Ibu Tentang Makanan Obesogenis Sebagai
serta tipe dari kepribadian remaja. Selain itu, menurut Faktor Risiko Obesitas pada Anak Sekolah
Barasi tahun 2007, faktor eksternalnya : budaya, Dasar. J Gizi Klin Indones. 2015;11(4):150.
agama, pengambilan keputusan secara etis, finansial, 4. Septiana P, Nugroho FA, Wilujeng CS.
norma sosial, pendidikan serta informasi yang Konsumsi Junk food dan Serat pada Remaja
didapatkan30. Bisa juga disebabkan karena sedentary Putri Overweight dan Obesitas yang Indekos. J
life style, aktivitas fisik yang kurang, serta Kedokt Brawijaya. 2018;30(1):61.
keturunan31. 5. Hasanah Harahap LA, Aritonang E, Zulhaida
Hasil yang berbeda terdapat pada penelitian Lubis. The Relationship between Type and
Susanti tahun 2016, dengan hasil nilai p-value=0,026 Frequency of Online Food Ordering With
(p<0,05). Responden didominasi oleh usia 15–16 Obesity in Students of Medan Area University.
tahun dengan pendapatan uang saku yang cukup, Britain Int Exact Sci J. 2020;2(1):29–34.
pendapatan keluarga lebih dari UMR, serta ibu yang 6. Agustina L, T. Maas L, Zulfendri Z. Analisis
lebih banyak bekerja daripada yang tidak bekerja. Faktor Perilaku Berisiko terhadap Kejadian
Kemudian, frekuensi remaja yang mengonsumsi Obesitas pada Anak Usia 9-12 Tahun di SD
makanan cepat saji dalam kategori sering akan Harapan 1 Medan. J Endur. 2019;4(2):371.
meningkatkan timbunan kalori dalam tubuh yang 7. Rahmi H F, Aprianti. Faktor-Faktor yang
dapat mengakibatkan status gizi menjadi lebih31. Mempengaruhi Frekuensi Konsumsi Fast Food
Dalam penelitian ini usia responden lebih pada Anak SMP Negeri 31 Banjarmasin.
didominasi oleh remaja akhir. Oleh karena itu, 2013;56(2):39–43.
responden tidak begitu terpengaruh dengan makanan 8. Syafriani. Hubungan Konsumsi Fast Food dan
cepat saji meskipun memiliki rasa yang lezat. Dalam Aktivitas Fisik dengan Kejadian Overweight
penelitian ini kondisi orang tua juga sedang pada Siswa di SMAN 2 Bangkinang Kota Tahun
melakukan Work From Home yang lebih banyak 2018. J Kesehat Masy. 2018;2(1):9–18.
menghabiskan waktu di rumah. Maka, orang tua akan 9. Widawati. Gambaran Kebiasaan Makan dan
lebih memilih untuk memasak sebagai salah satu Status Gizi Remaja di SMAN 1 Kampar tahun

Copyright @2020; Jurnal Riset Gizi, Vol.8 No.2 2020


99
Hubungan Promosi dan Pelayanan Gofood....

2017. J Gizi Nutr J [Internet]. 24. Fikri S, Wiyani W, Suwandaru A. Pengaruh


2018;2(2013):146–59. Tersedia pada: Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan dan
https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.p Loyalitas Mahasiswa (Studi pada Mahasiswa
hp/jurnalgizi/article/view/201 Strata I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
10. Goon S. Fast Food Consumption and Obesity Universitas Merdeka Malang). Pengaruh
Risk among University Students of Bangladesh. Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan dan
Eur J Prev Med. 2014;2(6):99. Loyal Mahasiswa (Studi Pada Mahasiswa Strata
11. Fatmawati I, Malkan I, Luthfiana D. Penyuluhan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Merdeka
Gizi Mengenai Bahaya Konsumsi Makanan Malang). 2016;120–34.
Tinggi Gula Sederhana Sebagai Penyebab 25. Saleh AJ. Hubungan Kebiasaan Konsumsi
Terjadinya Status Gizi Lebih pada Remaja SMP Makanan Siap Saji (Fast Food), Status Gizi dan
di Sukmajaya Depok. Pros Semin Has Pengabdi Kejadian Hipertensi dengan Fungsi Kognitif
Kpd Masy. 2017;1:5–9. pada Remaja. Universitas Sebelas Maret; 2019.
12. Kementerian Kesehatan RI. Laporan Hasil Riset 26. Ariani S. Hubungan Antara Faktor Individu dan
Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia Tahun Lingkungan dengan Konsumsi Minuman Ringan
2018. Riset Kesehatan Dasar 2018. 2018. hal. Berpemanis Pada Siswa/I SMA Negeri 1 Bekasi
182–3. Tahun 2012. Skripsi. Universitas Indonesia;
13. Kementerian Kesehatan. Profil Kesehatan. 2012.
2016;100. 27. Wardaningrum C. Hubungan Antara Paparan
14. Hardiansyah A, Yunianto AE, Laksitoresmi DR, Iklan Junk Food dan Frekuensi Konsumsi Junk
Tanziha I. Konsumsi Minuman Manis dan Food dengan Status Gizi Lebih Pada Remaja
Kegemukan pada Mahasiswa. J Gizi Univ SMP di Wilayah Kerja Puskesmas Purwosari
Muhammadiyah Semarang. 2017;6(2):20–6. Kota Surakarta. Publ Ilm [Internet].
15. Suswanti I. Faktor-faktor yang berhubungan 2018;1(1):1–8. Tersedia pada:
dengan pemilohan makanan cepat saji pada http://dx.doi.org/10.1016/j.cirp.2016.06.001%0A
mahasiswa. Skripsi. 2012;1–181. http://dx.doi.org/10.1016/j.powtec.2016.12.055
16. Anshari Z. Gambaran Pengetahuan , Sikap, dan %0Ahttps://doi.org/10.1016/j.ijfatigue.2019.02.0
Tindakan Pelajar Tentang Makanan Cepat Saji 06%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.matlet.2019.04.
(Fast Food) di Mts Al-Manar Medan. Best J 024%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.matlet.2019.12
(Biology Educ Sains Technol. 2019;2(1):46–52. 7252%0Ahttp://dx.doi.o
17. Yusup PM, Komariah N, Prahatmaja N, CMS S. 28. Hollands S. Association between the Fast-Food
Pemanfaatan Internet Untuk Penghidupan Di Environment and Obesity in Canada : A Cross-
Kalangan Pemuda Pedesaan. Baca J sectional Analysis The Association between the
Dokumentasi Dan Inf. 2019;40(2):217. Fast-Food Environment and Obesity in by.
18. Badan Pusat Statistik. Statistik Penyediaan Electron Thesis Diss Repos. 2012;
Makanan dan Minuman. Subdirektorat Statistik 29. Widyantara KI, Zuraida R, Wahyuni A. The
Pariwisata, editor. Jakarta: BPS RI/BPS- Relation of Fast Food Eating Habits, Physical
Statistics Indonesia; 2017. 82 hal. Activity And Nutrition Knowledge With The
19. Aryani Y. Pengaruh Harga, Kualitas Pelayanan Nutritional Status of First Year Medical Student
dan Nilai Pelanggan Terhadap Kepuasan of University of Lampung 2013. J Major.
Pelanggan GO-JEK (Studi Kasus pada 2014;3(3):77–85.
Mahasiswa Pengguna Layanan Go-Ride dan Go- 30. Ardin SH, Kartini TD, Lestari RS. Hubungan
Food). Skripsi. 2018;1–162. Kebiasaan Makan Fast Food dan Asupan Zat
20. Herdiansyah S R. Tren Penggunaan Aplikasi Gizi Makro dengan Status Gizi Remaja. Media
Go-Food dalam Pemesanan Produk Ayam Gizi Pangan. 2018;25:95–103.
Olahan di Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. 31. Susanti T. Hubungan Pola Konsumsi Fast Food
Skripsi. 2018; dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja Di SMA
21. Mahpolah, Mahdalena, Purnamasari V. Faktor- Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Kesehatan
Faktor yang Berhubungan dengan Kebiasaan [Internet]. 2016;5. Tersedia pada:
Mengkonsumsi Fast Food pada Remaja SMA http://elibrary.almaata.ac.id
Kartika V-1 Balikpapan Factors Related to the
Fast Food Consumption Habit in adolescent at
SMA Kartika V-1 Balikpapan. J Kedokt Yars.
2008;16(3):1–12.
22. Herlina. Perkembangan Masa Remaja (Usia
11/12 – 18 tahun). Mengatasi Masal Anak Dan
Remaja. 2013;1–5.
23. Pujiati, Arneliwati, Rahmalia S. Hubungan
Antara Perilaku Makan dengan Status Gizi Pada
Remaja Putri. JOM. 2015;2(37):1–31.

Copyright @2020; Jurnal Riset Gizi, Vol.8 No.2 2020


100

Anda mungkin juga menyukai