0% found this document useful (0 votes)
315 views27 pages

(The Quality Control System) : Bab Viii Sistem Pengendalian Mutu

Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
You are on page 1/ 27

BAB VIII SISTEM PENGENDALIAN MUTU (THE QUALITY CONTROL SYSTEM)

Sasaran belajar, diharapkan setelah membaca topik ini, anda dapat: 1. Mendefinisikan tentang pengendalian kualitas 2. Menghitung batas kendali x-bar dan R 3. Menggambar grafik peta kendali x-bar dan R

8.1. PENDAHULUAN Agar suatu organisasi dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, bergantung pada

kelangsungan di dalam kemampuannya untuk memberikan kepuasan kepada konsumen atau kebutuhan masyarakat kepada masyarakat luas. luas melalui produk dan jasa yang dijual kepada konsumen atau

8.2. BEBERAPA DEFINISI Menurut Kostas N Dervitsiotis (h. 668, 645 dan 670) adalah: Quality control is exercised by comparing the variation observed in the process output with the variation allowed in the product specification. Quality control as one aspect of performance control is the function within firm whose purpose is to measure and evaluate quality in the inputs and outputs of a process. Process control is a procedure designed to identify any significant departure from the natural range of variation of some critical product or process characteristic. The presence of nonrandom variations is attributed assignable causes and generally prompts management to corrective action to bring the process under control. to take

107

Menurut Siegmund Halpern (h. 5, 65 dan 66) adalah : Quality is the extent to which a particular product satisfies the expectations of its consumer. Control means to exercise restraint or direction someone or something to assure the results desired. over

Quality control is a system for verification and maintenance of desired level of quality in a product or process by careful planning, the use of proper equipment, continuing inspection, and corrective action where required. Quality control is a modern decision-making tool employed by management to assure a desired quality level of manufactured goods. Verification is determining whether a performs as intended, i.e., Debugging program. Menurut Eugene L. Grant (h. 1) adalah : The measured quality of manufactured product is always subject to a certain amount of variation as a result of chance. Some stable system of chance causes is inherent in any particular scheme of production and inspection. Variation within this stable pattern is inevitable. The reasons for variation outside this stable pattern may be discovered and corrected. Mutu (Kualitas) terukur suatu produk yang dihasilkan selalu beragam sebagai akibat dari faktor acak. Beberapa sistem sebab acak yang stabil adalah bawaan dalam suatu skema produksi dan pemeriksaan tertentu. Keragaman dalam pola yang stabil ini tak dapat dihindari. Alasan keragaman yang terjadi di luar pola yang stabil ini dapat ditemukan dan dikoreksi. 8.3. BEBERAPA ASPEK DI DALAM MUTU (THE ASPECTS OF QUALITY) Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan di dalam Pengendalian Mutu, yaitu: 1. PRODUCT DESIGN 2. PRODUCTION/ CONFORMANCE QUALITY 3. PERFORMANCE QUALITY simulation model the computer

108

8.3.1. DESAIN DARI PRODUK (PRODUCT DESIGN) Ada beberapa kepentingan di dalam mengamati aspek desain suatu produk, yaitu: - Untuk meningkatkan ketelitian atau PRECISION, - Untuk membuat lebih baik tampilan (A BETTER APPEARANCE), - Untuk memperbaiki spesifikasi/ persyaratan.

8.3.2. PERFORMANCE QUALITY PERFORMANCE QUALITY dibatasi oleh Mutu dari desain (DESIGN QUALITY) dan bisa ditingkatkan konsumen dengan memberikan jaminan (warranties) yang disampaikan kepada

mengenai kemampuan tenaga kerja dan bahan baku yang digunakan untuk

jangka waktu yang tertentu.

8.3.3. PRODUCTION/ CONFORMANCE QUALITY Bergantung pada seberapa baik desain dari suatu produk atau jasa yang dengan kapabilitas/ kemampuan dari pemerosesan. telah disesuaikan

8.3.4. DESIGN AND PERFORMANCE QUALITY Design and performance quality dari suatu keluaran (output) merepresentasikan sasaran yang diperlihatkan pada proses produksi.

Ada dua istilah yang muncul di dalam mengamati aspek ini, yaitu: 1. Overmatched, dan 2. Undermatched.

8.3.4.1. OVERMATCHED Overmatched terjadi apabila suatu mesin dapat memproduksi suatu barang, misalnya poros

dengan peluang untuk diterima sebesar 99,7% dari spesifikasi yang telah ditentukan dengan kisaran (RANGE) sekitar 0.2560 + 0.0060 INCHES, sedangkan spesifikasinya 0.2560 +

0.0120 INCHES. Dari data ini akan dapat meningkatkan ongkos, untuk itu dapat digunakan mesin dengan tingkat kepresisian yang relatif lebih rendah.

109

8.3.4.2. UNDERMATCHED Undermatched terjadi apabila suatu mesin dapat memproduksi suatu barang, misalnya poros

dengan peluang untuk diterima sebesar 99,7% dari spesifikasi yang telah ditentukan dengan kisaran (RANGE) sekitar 0.2560 + 0.0060 INCHES, sedangkan spesifikasinya 0.2560 +

0.0015 INCHES. Dari data ini akan dapat meningkatkan prosentase ukuran produk yang berada di luar batas kendali.

8.4. FUNGSI PENGENDALIAN MUTU Fungsi Pengendalian Mutu adalah untuk mengintegrasikan dan membuat setimbang dari beberapa faktor di dalam pengambilan keputusan yang penting seperti sektor pemasaran, produksi/ operasi, dan keuangan dengan sasaran untuk meningkatkan pencapaian tujuan dari organisasi. Dan dapat dilihat pada Gambar 8.1 berikut ini.

STRATEGI PERUSAHAAN
Pengembangan Produk baru Pasar baru

FINANCE POLICY PRODUCTION POLICY


Spesifikasi Feedback

MARKETING POLICY

SISTEM PENGENDALIAN MUTU


Tindakan Ac or Re

Informasi Feedback

Informasi

Lanjutkan atau stop

Feedback

5M PROSES TIE Wastes

Information Products Services

users

INPUT

PROCESS

OUTPUT

Catatan: 5M = Men, Money, Material, Machines, and Methods TIE = Technology, Infomration, and Energy Gambar 8.1. Hubungan antara Sistem Pengendalian Mutu dan Organsasi.
110

8.5. OPTIMALISASI TINGKAT MUTU Dengan memperhatikan banyak faktor yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan

untuk menentukan Mutu, maka acuan yang terbaik adalah optimalisasi terhadap mutu. Artinya bahwa mutu yang tinggi dari suatu produk dan jasa akan berdampak terhadap higher price and pride.

Kedua hal tsb. yang akan menjadikan alasan manajemen untuk menetapkan strategi untuk mengantisipasi kompetitor/ pesaing di dalam memasuki new market. Ada hal yang dilematis, yaitu dengan meningkatkan mutu akan meningkatkan ongkos dan ada kecenderungan akan

menurunkan revenue. Untuk itu perlu dicarikan jalan keluar agar dicapai optimum quality level.

Dapat dilihat pada Gambar 8.2 berikut ini.

COST

TR TPC

OPT

LEVEL OF QUALITY

TR = TOTAL REVENUE, TPC = TOTAL PRODUCTION COST, OPT = OPTIMUM QUALITY LEVEL. Gambar 8.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi mutu.

111

8.6. SISTEM PENGENDALIAN MUTU Salah satu analisis yang digunakan untuk memecahkan permasalahan pada Pengendalian Mutu adalah dengan menggunakan I/O analysis. Artinya bahwa solusinya bukan merupakan

penyelesaian yang parsial, tetapi sistem.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Sistem Pengendalian Mutu dapat dilihat pada Gambar 8.3 berikut ini.

QUALITY CONTROL DECISIONS INSPECTION POLICY - WHAT? - HOW? WHEN? - WHERE? INPUTS PRODUCT DESIGN SPEC. PROCESS QUALITY CONTROL METHODS - ACCEPTANCE SAMPLING - PROCESS CONTROL MEASURE OF PERFORMANCE OUTPUTS ACCEPT REJECT CONTINUE STOP

PROCESS PERFORMANCE

Gambar 8.3. Komponen pada Sistem Pengendalian Mutu.

8.7. PERMASALAHAN DASAR PADA PENGENDALIAN MUTU Untuk memberikan jalan keluar dari penyelesaian permasalahan Pengendalian Mutu, bergantung dari : a. Spesifikasi (persyaratan), yang terdiri dari - Tingkat kualitas yang diinginkan sebagai target yang akan dicapai, - Pengendalian Mutu yang berkaitan dengan keragaman/ variabilitas, - Jumlah pengamatan yang aktual/ sesuai. b. Pengukuran. Pengukuran pengendalian Mutu dapat dilakukan terhadap seluruh atau sebagian dari produk diinspeksi. Pada dasarnya 100% inspection merupakan suatu alternatif yang paling ideal, tetapi

112

akan memberikan ongkos yang relatif besar. Untuk teknik sampling merupakan alternatif yang lain untuk dapat dijadikan pilihan.

Adapun kunci pokok pada pengukuran Pengendalian Mutu adalah untuk melakukan

seleksi

terhadap jumlah sampel yang dapat mewakili/ merepresentasikan seluruh populasi yang ada.

Tabel 8.1. Tipe kesalahan dan risiko QUALITY CONTROL DECISIONS KONDISI AKTUAL PROSES/OUTPUT UNDER CONTROL OUT OF CONTROL TYPE I ERROR, - STOP PROCESS, - INSPECTION OK - START PROCESS TYPE II ERROR, - REJECTS, - REWORK, - REPAIRS, - LOSS OF GOODWILL

REJECT OUTPUT AS BAD

ACCEPT OUTPUT AS GOOD

OK

8.8. TUJUAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU Manajemen mengharapkan untuk meningkatkan mutu dari keluaran dengan tetap konsisten terhadap spesifikasi produk yang telah ditetapkan dan kapabilitas dari sistem produksi.

Adapun tujuan dari Sistem Pengendalian Mutu adalah: untuk memberikan jaminan kepada pengguna (users) terhadap tingkat mutu yang diinginkan/ sesuai dengan spesifikasi dengan meminimisasikan ongkos, dan untuk meminimisasikan ongkos dengan (Optimalisasi). memperhatikan imbalan yang maksimum

8.8.1. VARIABEL KEPUTUSAN PADA SISTEM PENGENDALIAN MUTU Beberapa variabel yang mempengaruhi pengambilan keputusan pada sistem pengendalian mutu adalah: - 1. WHAT TO INSPECT? - 2. HOW TO INSPECT?
113

- 3. WHEN TO INSPECT? - 4. WHERE TO INSPECT?

8.8.1.1. WHAT TO INSPECT? Ada satu hal yang perlu menjadikan perhatian di dalam pengendalian mutu yaitu Critical Characteristics. Kriteria ini merupakan suatu nilai untuk menentukan apakah suatu keluaran memberikan kepuasan kepada konsumen (users) atau telah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.

8.8.1.2. HOW TO INSPECT? Ada dua hal di dalam membahas How to Inspect? meliputi: 1. Tipe pengukuran - Pengukuran berdasarkan variabel, - Pengukuran berdasarkan atribut. 2. Metoda pengukuran Dasar dari metoda pengukuran adalah: - Precision, - Consistency, - Accuracy.

8.8.1.3. WHEN TO INSPECT? Keputusan saat yang tepat untuk melakukan inspeksi adalah sesuatu hal yang sangat penting, karena berkaitan dengan penentuan metoda Pengendalian Mutu yang akan digunakan. Inspeksi dapat dilakukan pada saat proses produksi sedang berlangsung atau Sedangkan tipe-tipe inspeksi adalah sbb: - Quality control, - Acceptance sampling. setelah berakhir.

Secara umum, seleksi terhadap Pengendalian Mutu akan lebih tepat bila: - ongkos inspeksi per unit relatif rendah, - adanya risiko terhadap produk yang cacat yang ditanggung konsumen dan produsen,
114

- Non Destructive Test (NDT), - tindakan yang akan dilakukan, seperti: - penyesuaian, - penghentian, - inspeksi, - memulai untuk operasi pada tingkat ongkos yang memungkinkan.

Seleksi terhadap acceptance sampling akan lebih tepat apabila: - ongkos inspeksi per unit relatif tinggi, - risiko terhadap produk yang cacat tidak begitu berpengaruh besar, - Destructive Test (DT), - studi kelayakan.

Metode inspeksi yang sesuai dapat dilihat pada Tabel 8.3. Tabel 8.3. Metoda inspeksi TIPE PENGUKURAN MACAM INSPEKSI ACCEPTANCE SAMPLING PROCESS CONTROL SAMPLING PLAN: - SINGLE, PETA KENDALI x - DOUBLE, PETA KENDALI R - SEQUENTIAL. SAMPLING PLAN: - SINGLE, - DOUBLE, - SEQUENTIAL.

VARIABEL

ATRIBUT

PETA KENDALI p PETA KENDALI c

8.8.1.4. WHERE TO INSPECT? Dimana saja dapat dilakukan inspeksi? Salah satu cara yang paling sederhana adalah bila menggunakan model I/O, yaitu inspeksi dapat dilakukan pada sisi masukan, pada saat proses sedang berlangsung dan di akhir proses (Input, Process, and Output). Dapat dilihat pada model yang paling sederhana, seperti yang terlihat pada Gambar 8.1.

115

8.9. PENGENDALIAN KUALITAS STATISTIK Beberapa formula yang akn digunakan di dalam perhitungan untuk pengendalian kualitas statistik akan dibahas sebagai berikut:

8.9.1. BEBERAPA FORMULA Dua macam formula yang akan digunakan, yaitu yang berkaitan dengan variabel dan atribut.

8.9.1.1. Formula untuk peta kendali variabel

a. Untuk Peta kendali x-bar :

- Rataan (Grand mean of sample means): = x 1 = k _ xi k i=1

_ x

n = xi n i=1

- BKA = Batas Kendali Atas (Upper control limits/ UCLx) = _ BKA = x + A2 R - BKB = Batas Kendali Bawah (Lower control limits/ LCLx) = _ BKB = x - A2 R b. Untuk Peta kendali R 1. Peta Kendali untuk R (Kisaran) bila diketahui (Control-Chart values for on R Chart ( known)) adalah:

116

- Rataan (Mean Sample Range) atau Garis Tengah (Central Line): Ri _ R _ _ = (xi max - xi min) = Kisaran (Range) k Ri k i=1 _ = D2 R 1

CLR - BKA

= Batas Kendali Atas (Upper control limits/ UCLR) : _ UCLR = D2 R = Batas Kendali Bawah (Lower control limits/ LCLR :

- BKB

_ UCLR = D1 R Dimana, D1 = d2 - 3 d3 D2 = d2 + 3 d3 Dan harga-harga A2, d3, dan d4 dapat dilihat pada Tabel 8.4. 2. Peta Kendali untuk R (Kisaran) bila tidak diketahui (Control-chart values for on R chart ( unknown) adalah :

- Rataan (Mean Sample Range) atau Garis Tengah (Central Line): CLR _ = R

- BKA = Batas Kendali Atas (Upper control limits/ UCLR): _ UCLR = D4 R - BKB = Batas Kendali Bawah (Lower control limits/ LCLR):

_ LCLR = D3 R
117

Dimana,

- Simpangan baku (Standard Deviation): _ = _ = _ = 2 2 (x1 - x) + (x2 - x) + . + (xn - x)2 n-1 atau _ = (xi - x)2 n-1

s =

s =

Contoh Soal: Sebuah perusahaan pembuat bearing (bantalan), PT BEARING INDO NUGRAHA, ingin melakukan pengendalian mutu terhadap diameter dalam [mm] dari produknya. Untuk itu pimpinan LITBANG meminta kepada Sdr. untuk melakukan penelitian/ observasi di lapangan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 8.5. Tentukan: _ a. Batas kendali x dan R, _ b. Bagan kendali x dan R

118

Tabel 8.4. Factors For Determining form R the 3-sigma control limits for x and R Charts

No. Of observations in Sub Group N 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Factor For x Chart A2 1.88 1.08 0.73 0.58 0.48 0.42 0.37 0.34 0.31 0.29 0.27 0.25 0.24 0.22

Factor For R Chart LCL D3 0 0 0 0 0 0.08 0.14 0.18 0.22 0.26 0.28 0.31 0.33 0.35 0.36 0.38 0.39 0.40 0.41

U C L D4 3.27 2.57 2.28 2.11 2.00 1.92 1.86 1.82 1.78 1.74 1.72 1.69 1.67 1.65 1.64 1.62 1.61 1.60 1.59

16 0.21 17 0.20 18 0.19 19 0.19 20 0.18 Sumber: Eugene L Grant (SQC, hal. 631) Dimana : = x k _ = xi k i=1 1 1

_ R

k = Ri k i=1

n = xi n i=1 = _ BKA = x + A2 R = _ BKA = x - A2 R

_ x

UCLR = D4 R LCLR D3 D1 _ = D3 R = D1/ d2 = D2/ d2

119

Penyelesaian: a. Untuk batas kendali x-bar dan R (Tabel 8.5 dan 8.6 dan Gambar 8.4 dan 8.5).

1. Untuk batas kendali x-bar.

- Rataan masing-masing sub-group, adalah: _ x 1 = n xi n i=1

_ 39,16 + 40,57 + 41,29 + 39,76 + 41,6 x1 = 5 _ 39,76 + 40,57 + 40,68 + 39,76 + 41,6 x2 = 5 . . _ 40,30 + 41,29 + 40,68 + 40,60 + 41,30 x20= 5 - Rataan total (garis tengah), adalah: = x k _ = xi k i=1 1

= 40,48

= 40,47

= 40,83

= 40,48 + 40,47 + ............... + 40,65 x= 20 - Kisaran (Range), adalah : Ri _ _ = ( xi max - xi min) = 2,44

= 40,43 mm

R1 = 41,6 - 39,16

120

R2 = 41,6 - 39,76 . . R20 = 41,29 - 40,30

= 0.92

= 0,99

- Rataan dari kisaran (Mean of sample range), adalah: _ R 1 = k Ri k i=1 2,44 + 1,84 + ............. + 0,99 = 20 - BKA = Batas Kendali Atas (Upper Control Limits/ UCLx) = _ = x + A2 R = 40,43 + 0,58 x 1,62 = 40.96 mm - BKB = Batas Kendali Bawah (Lower Control Limits/ LCLx) = _ = x - A2 R = 40,43 - 0,58 x 1,665 = 39.91 mm 2. Untuk batas kendali R = 1,62

_ R

- Rataan dari kisaran, adalah: _ R 1 = k Ri


121

k i=1 _ R 2,44 + 1,84 + ............. + 0,99 = 20 - BKA = Batas Kendali Atas (Upper control limits/ UCLR): = 1,62

_ UCLR = D4 R = 2,11 x 1,62 - BKB = 3,41

= Batas Kendali Bawah (Lower control limits/ LCLR):

_ LCLR = D3 R = 0 x 1,62 =0

122

Tabel 8.5

123

Tabel 8.6

124

Gambar 8.4. Peta Kendali x-bar

Gambar 8.5. Peta Kendali R


125

8.9.1.2. Formula untuk peta kendali atribut _ Peta kendali p (peta kendali untuk proporsi cacat).

Seringkali bahwa tidak semua produk dapat diukur dengan skala kontinyu (Skala rasio), seperti observasi yang dilakukan secara visual (dengan mata tanpa bantuan peralatan uji). Contoh: kehadiran karyawan (hadir atau absen), gelas (cacat atau tidak cacat/ retak atau utuh), atau perkerjaan di bengkel mekanik (go-no-go gauge). Untuk itu dapat digunakan peta kendali p.

Definisi:

Peta kendali p adalah suatu peta kendali yang digunakan untuk memonitor suatu proses dengan melakukan observasi dari sejumlah sampel tertentu secara periodik.

Bila diketahui jumlah observasi adalah xj di dalam suatu sampel dengan jumlah nj yang diambil dari sejumlah N (sample group), maka:

- Harga proporsi masing-masing sample group adalah:

x1 p1 = n1 x2 p2 = n2 . . xN pN = nN - Harga rataan proporsi total adalah:

126

_ p =

N pN j=1 N

_ p1 + p2 + ............+ pN p = N - Harga simpangan baku adalah: _ _ p(1-p) sp = n sehingga,

- CLp = Garis tengah (centre line) adalah: N pN j=1 = N - UCLp = Batas kendali atas adalah: _ UCLp = p + 3 sp - LCLp = Batas Kendali Bawah adalah: _ UCLp = p - 3 sp = CLp

_ p

127

Contoh soal: Sebuah perusahaan pembuat bearing, PT BEARING INDO NUGRAHA, ingin melakukan pengendalian mutu terhadap produk cacatnya. Untuk itu pimpinan LITBANG melakukan

penelitian/ observasi di lapangan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 8.7. Dengan batas spesifikasi cacat 5%. Tentukan: a. Batas kendali, b. Bagan kendali, dan c. Kesimpulan Sdr. Penyelesaian (Gambar 8.6): - Harga proporsi masing-masing sample group adalah:

4 p1 = 100 3 p2 = 100 . . 2 p10 = 100 - Harga rataan proporsi total adalah: = 0,02. = 0,03 = 0,04

_ p

N pN j=1 = N

_ p

0,04 + 0,03 + ........+ 0,02 = 10 = 0,037

128

- Harga simpangan baku adalah:

_ _ p(1-p) sp = n 0,037 ( 1 - 0,037 ) = 100 sehingga, = 0,0188

- Garis tengah (centre line) adalah:

_ p

N pN j=1 = N

_ p

0,04 + 0,03 + ........+ 0,02 = = 0,037

10 - Batas kendali atas (UCLp) adalah: _ UCLp = p + 3 sp = 0,037 + 3 x 0,0188 = 0,0934 - Batas kendali bawah (LCLp) adalah: _ LCLp = p - 3 sp = 0,037 - 3 x 0,0188 = -0,0194 ~ 0

129

Tabel 8.7

130

Gambar 8.6. Peta Kendali p 8.10. RINGKASAN Pada bab ini telah dibahas tentang: 1. Definisi Kualitas. 2. Formula peta kendali x-bar dan p. 3. Sistem pengendalian mutu.

8.11. SOAL-SOAL LATIHAN 1. Terangkan dengan jelas tentang definisi Kualitas. 2. Tuliskan formula peta kendali x-bar dan p. 3. Terangkan dengan jelas tentang Sistem pengendalian mutu.

131

4. Buat soal tentang pengukuran sesuatu (misal: diameter poros, lebar meja, tinggi kursi, dll) dengan menggunakan Tabel 8.8 dan buat peta kendali x-bar. 5. Buat soal tentang produk cacat sesuatu (misal: poros, meja, kursi, dll) dengan menggunakan Tabel 8.9 dan buat peta kendali p.
Tabel 8.8

132

Tabel 8.9

133

You might also like