ID Hubungan Pola Makan Dan Aktivitas Fisik

Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
You are on page 1of 20

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP

OBESITAS PADA REMAJA DI SMA NEGERI 5 PEKANBARU

Tuti Restuastuti
Mailani jihadi
Yanti Ernalia
jihadimailanigmail.com

ABSTRACT

Obesity is a multifactorial disease, caused by excessive accumulation of fat tissue, which can
damage the health. Many factors can influence the occurrence of obesity, including age, sex, diet
and physical activity. Diet is the way or the behavior of a person or group of people in choosing,
using food ingredients in food consumption on a daily basis based on the type of food, amount of
food and frequency of consumption. The aim of this study is to describe the characteristics of
respondents by sex nutritional status, energy intake and macro-nutrients (carbohydrates,
protein, fat) and physical activity in adolescents in SMAN 5 Pekanbaru. This research is an
analytical study with cross sectional study design. The population studied were students of class
X and XI SMAN 5 Pekanbaru obese with a sample size of 40 people and non-obese with a sample
size of 40 people. This research instrument uses a measuring tape as a measuring tool and
questionnaire. Results of the analysis of the number of respondents 80 people, consists of 30 men
and 50 women. Based on the results obtained in the energy intake of 20 people declared quite
tends risky adolescent obesity, based on macro nutrients mostly shows the macro nutrient intake
(carbohydrate, protein, fat) fairly and in others a high intake of protein intake showed that in 20
(95.2 %) adolescents were high protein intake. Compared to non-obese adolescents showed 40
people had less energy intake. From the table 4.3 it can be seen that physical activity is less
active significant association with obesity and physical activity are less active have a greater
chance obese than students whose activities are more active
Key words : obesity; food pattern; activity pattern; adolescent

Page 1
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
Obesitas merupakan suatu penyakit untuk usia 16-18 tahun adalah 1% pada
multifaktor, terjadi akibat akumulasi tahun 2010 dan pada tahun 2013 menjadi
jaringan lemak berlebihan, sehingga dapat 2,4%.3,4 Salah satu penelitian yang
mengganggu kesehatan. Apabila seseorang dilakukan oleh Anisa M N terhadap siswa
mengalami bertambah berat badannya maka Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1
ukuran sel lemak akan bertambah besar dan Pekanbaru pada tahun 2012 menunjukkan
1
kemudian jumlahnya bertambah banyak. proporsi obesitas pada siswa SMAN 1
Berdasarkan hasil penelitian Pekanbaru sebesar 26,2%.5
National Health and Nutrition Examination Obesitas meningkat di kalangan
Survey pada tahun 2011-2014 di Amerika anak-anak dan remaja. Menurut segi
persentase obesitas pada usia 2-19 tahun kesehatan masyarakat, kecenderungan ini
sebesar 17% dengan kategori berdasarkan menghawatirkan, sebab berawal dari
kelompok umur, anak usia 2-5 tahun sebesar peningkatan resiko penyakit yang
8,9%, usia 6-11 tahun sebesar 17,5% dan berhubungan dengan obesitas. Kenaikan
usia 12-19 tahun sebesar 20,5%. Prevalensi berat badan terjadi bila asupan energi
obesitas di beberapa negara Asia Tenggara melebehi keluaran energi dalam jangka
juga menunjukkan cukup tinggi. waktu tertentu.6 Meskipun faktor genetik
Berdasarkan United Nations Children’s memegang peranan penting dalam
Fund (UNICEF) 2012 Indonesia menempati menentukan asupan makanan dan
urutan kedua setelah Singapura dengan metabolisme, faktor gaya hidup dan faktor
jumlah remaja obesitas terbesar yaitu 12,2% lingkungan merupakan penyebab utama
kemudian Thailand sebesar 8%, Malaysia obesitas. Berhubungan dengan dua faktor
sebesar 6% dan Vietnam sebesar 4,6%.2 tersebut dapat memicu terjadinya obesitas,
Hasil Riset Kesehatan Dasar dengan pola makan yang berlebih dan
(Riskesdas) menunjukkan terjadi aktivitas yang kurang aktif.7
peningkatan prevalensi anak usia 16-18 Hasil penelitian Hudha (2006)
tahun untuk kategori gemuk dari 1,4% pada mengenai hubungan antara pola makan dan
tahun 2010 menjadi 7,3% yang terdiri dari aktivitas fisik dengan obesitas menunjukkan
gemuk 5,7% dan obesitas 1,6% pada tahun bahwa pola makan remaja termasuk kategori
3,4
2013. Di Provinsi Riau prevalensi obesitas baik sebesar 71,44% dan aktivitas fisik

Page 2
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
termasuk jenis aktivitas ringan sebesar Teori menyebutkan sebagian besar
77,28%.8 remaja (12-20 tahun) memiliki pola
Kota Pekanbaru merupakan kota konsumsi tidak seimbang.10 Pemilihan
terbesar di Riau, sebagian besar makanan juga tidak didasari kandungan gizi
perekonomiannya di bidang pembangunan tetapi sekedar bersosialisasi, untuk
dan perdagangan, perkebunan.9 SMA Negeri kesenangan hal ini dapat memicu terjadinya
5 Pekanbaru merupakan salah satu SMA obesitas.11 Pada usia muda yang melakukan
yang lokasinya terletak di pusat kota latihan fisik menurun, hampir 50% usia
Pekanbaru. Banyaknya pembangunan dan muda tidak melakukan latihan fisik yang
perdagangan modern seperti pusat rutin. 12
perbelanjaan modern seperti mal dan café berdasarkan uraian diatas, peneliti
tempat nongkrong anak remaja diikuti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan restoran yang menyajikan makanan mengenai “Hubungan pola makan dan
jenis fast food dan junk food yang beresiko Aktivitas Fisik Terhadap Obesitas pada
pada anak remaja sekolah menengah bisa remaja di SMA Negeri 5 Pekanbaru”
menyebabkan obesitas

METODE dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi pada


Penelitian ini merupakan penelitian penelitian ini adalah remaja dengan berat
analitik dengan desain cross sectional. badan normal dan obesitas yang bersedia
Desain penelitian ini dipilih karena mengikuti proses penelitian dan mengisi
penelitian ini dilakukan untuk melihat kuesioner dengan lengkap. Sedangkan
“Hubungan pola makan dan aktivitas fisik kriteria eksklusi adalah siswa-siswi yang
terhadap obesitas pada remaja di SMA tidak hadir pada saat pengambilan data dan
Negeri 5 Pekanbaru” tidak mengisi secara lengkap kuesioner dan
Populasi penelitian ini pada remaja food record selama 3 hari.
SMA Negeri 5 Pekanbaru. Jumlah semua Penelitian ini menggunakan metode
siswa-siswi kelas X dan XI yang berjumlah tehnik random sampling dan berdasarkan
626 orang di SMA Negeri 5 Pekanbaru. jumlah populasi, cara mengambil data
Sampel pada penelitian ini adalah sekunder berupa jumlah total
populasi yang memenuhi kriteria inklusi

Page 3
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
menggmenggunakan rumus prosesive n = 61,7 + 10%
sampling yaitu: n = 67,8
Dari hasil perhitungan diperoleh besar
sampel adalah 68 orang

Keterangan n : Sampel minimal Variabel penelitian yang dinilai


p : Prevalensi kejadian berdasarkan status gizi remaja yang normal
obesitas dan obesitas, jenis kelamin, asupan zat gizi
q :I–P kalori, karbohidrat, protein, lemak, aktivitas
d : Tingkat kesalahan harian ( kebiasaan olahraga). Variabel bebas
yang dikehendaki peneliti dalam penelitian ini adalah obesitas dan
± 10% = Antisipasi drop out variabel terikat dalam penelitian ini adalah
data pola makan dan aktivitas fisik.

HASIL pengukur/metline dalam cm, dinyatakan


obesitas ≥ 90 pada laki-laki dan ≥80 pada
Secara keseluruhan, jumlah sampel perempuan. Jumlah sampel yang dijadikan
penelitian sebanyak 80 orang. Jumlah sampel 40 orang obesitas dan 40 orang non
sampel siswi lebih banyak (50 orang) obesitas.
dibandinkangkan dengan sampel siswa (30 Berdasarkan pengolahan data,
orang). Kriteria obesitas didapat dari hasil karakteristik subjek berdasarkan jenis
perhitungan ditentukan dengan nilai IDF, kelamin status gizi, asupan energi dan zat
dengan cara mengukur lingkar pinggang gizi makro, dan aktifitas fisik dalam
pada remaja siswa/siswi diukur dengan pita penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 4.1

Page 4
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
Tabel 4.1 Gambaran karakteristik responden

Variabel Frekuensi Persentase (%)

Jenis kelamin
Laki – laki 30 37,7
Perempuan 50 62,5
Status Gizi
Obesitas 40 50

Non Obesitas 40

Asupan energi
Tinggi (>100% AKG) 4

5.0
Cukup (80-100% AKG) 20 25.0
Kurang (<80% AKG) 56 70.0

Asupan karbohidrat
Tinggi (>100% AKG) 3 3.8
Cukup (80-100% AKG) 23 28.8
Kurang (<80% AKG) 54 67.5

Asupan protein
Tinggi (>100% AKG) 21 26.3
Cukup (80-100% AKG) 26 32.5
Kurang (<80% AKG) 33 41.3

Asupan lemak
Tinggi (>100% AKG) 9 11.3
Cukup (80-100% AKG) 19 23.8
Kurang (<80% AKG) 52 65.0

Kebiasaan Olahraga
Olahraga Kurang 33 41.25
Olahraga Cukup 47 58.75

Hasil tabel 4.1 diatas menunjukkan karbohitrat (67,5%), asupan protein (41.2%),
asupan energi dan zat gizi makro subjek asupan lemak (65%). Namun terdapat juga
penelitian lebih banyak yang kurang ( <80% asupan energi dan zat gizi makro yang lebih
AKG) yaitu asupan energi (70%), asupan (>80% AKG) yaitu asupan energi (5%),

Page 5
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
asupan karbohitrat (3,75%), asupan protein responden. Namun terdapat juga kebiasaan
(26,3%), asupan lemak (11,2%). Hasil tabel olahraga yang cukup sebanyak (58,75%)
4.1 menunjukkan kebiaasan olahraga yang dari 47 orang responden.
kurang sebanyak (41,25% ) dari 33 orang

Hubungan Asupan energi dan Zat Gizi makro dengan kejadian obesitas digunakan uji chi
dengan kejadian Obesitas pada remaja square. Hasil uji statistik hubungan asupan
siswa/siswi SMA N 5 Pekanbaru energi dan zat gizi makro dengan kejadian
Untuk menilai ada tidaknya obesitas pada remaja siswa/siswi SMA
hubungan asupan energi dan zat gizi makro Negeri 5 Pekanbaru pada tabel 4.2
Tabel 4.2 Hubungan Asupan Energi dan Zat Gizi Makro dengan kejadian obesitas pada
remaja siswa/siswi SMA Negeri 5 Pekanbaru
Variabel Obesitas Tot P Value
Obes Non obes al
N % N %
Asupan 0.0
energi
Tinggi 4 100 0 0 4
Cukup 20 100 0 0 20
Kurang 16 28.6 40 71.4 56
Asupan 0,0
karbohidrat
Tinggi 3 100 0 0 3
Cukup 22 95,7 1 4,3 23
Kurang 15 27,8 39 72,2 54
Asupan 0,0
Protein
Tinggi 20 95,2 1 4,8 21
Cukup 17 65,4 9 34,6 26
Kurang 3 9,1 30 90,9 33

Asupan 0,0
lemak
Tinggi 9 100 0 0 9
Cukup 15 78,9 4 21,1 19
Kurang 16 30,8 36 69,2 52

Tabel 4.2 di atas menunjukkan sebanyak 4 orang responden menunjukkan

secara keseluruhan asupan energi yaitu asupan energi tinggi seluruh (100%) dan

Page 6
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
pada asupan energi kurang sebanyak 16 yang kurang yaitu asupan karbohidrat

orang seluruh (28,6%) responden berisiko sebanyak 15 orang seluruh (27,8%)

obesitas sedangkan sebanyak 40 orang responden, asupan protein sebanyak 3 orang

(71,4%) responden lain nya asupan energi seluruh (9,1%) responden, asupan lemak

kurang tidak berisiko obesitas yaitu non sebanyak 16 orang seluruh (30,8%) lebih

obesitas. Pada asupan zat gizi makro yaitu berisiko obesitas sedangkan yang tidak

asupan karbohidrat tinggi sebanyak 3 orang berisiko obesitas menunjukkan secara

seluruh (100%), asupan protein tinggi keseluruhan zat gizi makro kurang yang

sebanyak 20 orang seluruh (95,2%), asupan terlihat tabel 4.2 diatas. Jadi terdapat

lemak tinggi sebanyak 9 orang seluruh hubungan asupan energi dan zat gizi makro

(100%) berisiko mengalami obesitas. dengan kejadian obesitas pada remaja di

Namun terdapat juga asupan zat gizi makro SMA Negeri 5 Pekanbaru.

Hubungan Kebiasaan Olahraga terhadap kejadian obesitas remaja SMA Negeri 5


kejadian Obesitas remaja SMA N 5 Pekanbaru digunakan uji chi square. Hasil
Pekanbaru. uji statistik hubungan kebiasaan olahraga
Untuk menilai ada tidaknya terhadap kejadian obesitas dapat dilihat pada
hubungan kebiasaan olahraga terhadap tabel 4.3
Tabel 4.3 Hubungan Kebiasaan Olahraga terhadap kejadian Obesitas

Variabel Obesitas Total P Value


Obes Non obes
N % N %
Kebiasaan 0.0
Olahraga
Kurang 27 81.8 6 18.2 33
Cukup 13 27.65 34 72,35 47

Dari tabel 4.3 di atas dapat dilihat olahraga sebanyak 27 orang responden
bahwa 33 orang responden yang jarang (81,8%) diantaranya mengalami obesitas,

Page 7
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
sedangkan dari 47 orang responden yang siswi 19 orang. Jumlah obesitas pada laki-
cukup olahraga yang mengalami obesitas 13
laki lebih banyak daripada perempuan. Hasil
orang responden (27,65%). Sedangkan
uji statistik membuktikan bahwa tidak ada
siswa/siswi yang tidak obesitas dapat dilihat
dari 33 orang responden kebiasaan olahraga beda signifikan antara jumlah siswa dan
kurang 6 orang responden (18,2%)
siswi. Hasil penelitian ini sejalan dengan
sedangkan dari 47 orang responden
penelitian Manurung (2009), terhadap
dikatakan kebiasaan olahraga cukup
sebanyak 34 orang responden (72,35%). Jadi remaja di SMU Tri Sakti Medan yang
berdasarkan hasil diatas responden yang
menunjukkan bahwa sebagian besar obesitas
jarang melakukan olahraga lebih berisiko
terjadi pada remaja laki-laki yaitu sebanyak
obesitas dibandingkan responden yang
melakukan olahraga cukup dinyatakan non 11,6% sedangkan perempuan sebanyak
obesitas, jadi hasil diatas terdapat hubungan
9,4%.13
kebiasaan olahraga terhadap kejadian
Perbedaan persentase yang
obesitas. Nilai p = 0,0
didapatkan dari penelitian ini dapat terjadi
PEMBAHASAN
karena perbedaan cakupan populasi antara
Secara keseluruhan, jumlah subjek
penelitian ini dengan penelitian Riskesdas.
penelitian sebanyak 80 orang. Jumlah subjek
Populasi penelitian ini hanya terbatas pada
siswi lebih banyak (50 orang)
siswa siswi kelas X dan XI SMA Negeri 5
dibandinkangkan dengan subjek siswa (30
Pekanbaru sedangkan penelitian yang
orang). Berdasarkan jumlah murid kelas X-
dilakukan oleh Riskesdas populasinya
XI di SMA Negeri 5 Pekanbaru.
berasal dari beberapa daerah yang ada di
Kebanyakan siswi dari pada siswa, jadi
Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh
jumlah subjek lebih banyak pada siswi
Virgianto (2005) terhadap remaja usia 15-17
dibanding siswa. Persentase obesitas lebih
tahun dari populasi kelas 1 dan 2 SMU
tinggi pada siswa 21 orang dibandingkan

Page 8
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
Negeri 3 Semarang, didapatkan siswa-siswi dengan kebiasaan olahraga kurang jadi

yang mengalami obesitas (IMT > 25 ) menyebabkan kelebihan masukan energi

sebanyak 9,03%.14 dibandingkan dengan energi yang keluar.

Menurut teori menyebukan bahwa Untuk setiap 9,3 kalori energi yang

sebagian besar remaja memilki pola makan berlebihan masuk dalam tubuh, disimpan 1

yang tidak seimbang.15 Asupan makanan gram lemak. Pemasukan jumlah makanan

dipengaruhi dengan berbagai faktor, yaitu : lebih besar daripada yang dapat dipakai

faktor ekonomi,demografi,psikologis dan tubuh untuk energi. Makanan berlebihan

faktor sosial budaya.11,16 pemilihan makanan baik lemak, karbohidrat, protein, kemudian

tidak didasari pada kandungan gizi tetapi disimpan sebagai lemak jaringan adiposa

sekedar bersosialisasi dan untuk untuk dipakai kemudian sebagai energi. 7

kesenangan.11 Secara keseluruhan menunjukkan

Berdasarkan data yang diteliti bahwa asupan energi dan zat gizi makro

siswa/siswi lebih banyak makan jajanan dalam makanan di sekolah berperan

disekolah, berupa gorengan dan jajanan terhadap kejadian obesitas pada anak,

instan cepat saji, dalam kandungan zat gizi dimana makanan dapat meningkatkan total

diperoleh hasil penelitian ini menunjukkan asupan energi dan asupan energi yang

bahwa asupan energi dan zat gizi makro berlebih tanpa diimbangi dengan

terhadap kejadian obesitas pada siswa/siswi pengeluaran energi dapat menjadi faktor

SMA Negeri 5 Pekanbaru, dan didapatkan risiko obesitas. Studi lain menyebutkan

hasil asupan energi dan zat gizi makro tentang makanan jajanan di sekolah juga

(karbohidrat, protein, lemak) cukup tinggi menjukkan bahwa kebiasaan jajan

dan diimbangi dengan pengeluaran energi

Page 9
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
memberikan konstribusi yang signifikan maka cadangan protein tubuh digunakan

terhadap asupan energi anak sekolah.17 dengan cepat untuk menghasilkan energi. 9

Pada penelitian ini ada beberapa

responden asupan energi dan zat gizi makro

yaitu karbohidrat, protein, lemak ≤ 30% Hubungan Asupan energi dan Zat Gizi

dinyatakan asupan kurang tetapi mengalami makro dengan kejadian Obesitas pada

obesitas, hal tersebut kemungkinan recall remaja SMA N 5 Pekanbaru

melewatkan makan pagi dan berusaha diet. Tabel 4.2 dapat dilihat responden

Keterbatasan penelitian, responden tidak yang memiliki pola makan yang terdiri dari

jujur mengisi recall. Kenapa bisa asupan asupan energi dan asupan gizi makro

energi dan zat gizi makro kurang, sumber (karbohidrat, protein, lemak) dikonsumsi

energi berasal dari protein dan lemak, berlebihan berisiko mengalami obesitas dari

seseorang yang berusaha diet kemungkinan pada responden yang memiliki pola makan

asupan energi dan karbohidrat, protein, yang seimbang tidak berisiko obesitas. Jadi

lemak akan berkurang dimana terjadi salah satu faktor penyebab obesitas yaitu

penurunan berat badan, apabila protein dan bisa dilihat dari pola makan seseorang yang

karbohidrat keduanya tercampur dalam berlebihan melebihi kapasitas makan orang

media berair sehingga setiap zat biasanya normal makan 2 atau 3 kali makan sehari.

mewakili kurang. Karbohidrat maupun Dikatakan berlebih dilihat dari makan

lemak dianggap sebagai penghemat protein. sehari-hari 3 kali sehari ditambah dengan

Sebaliknya, pada saat kelaparan, setelah jajanan dan makan makanan cepat saji

karbohidrat dan lemak menjadi kurang, dengan jumlah yang berlebihan lama

Page 10
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
kelamaan berat badan makin bertambah terdapat dalam makanan. Lemak merupakan

berisiko obesitas. zat gizi penghasil energi yang lebih besar

Asupan energi yang tinggi dapat dibanding dengan protein dan karbohidrat.

menyebabkan obesitas jika tidak diimbangi Pada penelitian ini didapatkan adanya

dengan pengeluaran energi yang tinggi juga. perbedaan asupan lemak makanan pada

Penelitian yang dilakukan terhadap siswa kelompok obesitas dan non obesitas.

SMP di Semarang menyatakan bahwa Sedangkan bila protein dan karbohidrat

remaja yang kontribusi energi makanan dikonsumsi dalam jumlah berlebih maka

jajanan > 300 kkal berisiko 3,1 kali lebih tubuh akan meningkatkan laju oksidasi

besar menderita obesitas dan remaja dengan protein dan lemak, tetapi oksidasi lemak

aktivitas fisik ringan berisiko 5,1 kali lebih ditekan.11 Hal ini disebabkan tubuh memiliki

besar untuk menderita obesitas. 14 kemampuan yang terbatas dalam

Hal ini sesuai dengan teori yang menyimpan protein dan karbohidrat. Hasil

menyebutkan bahwa peningkatan berat analisis diatas didapatkan hubungan

badan dapat dipicu oleh pola konsumsi persentase protein makanan dengan kejadian

makanan yang berlebihan.14 Penelitian di obesitas menunjukkan bahwa konsumsi

Amerika , didapatkan bahwa orang yang makanan tinggi protein dapat menyebabkan

memiliki pola konsumsi yang berlebihan obesitas.

lebih berisiko obesitas dibanding orang yang Makanan cepat saji umumnya

memiliki pola konsumsi yang tidak mengandung kalori, kadar lemak, gula dan

berlebihan.18 sodium (Na) yang tinggi tetapi rendah serat,

Menurut teori energi yang dihasikan vitamin A, asam akorbat, kalsium dan folat.

tubuh berasal dari oksidasi zat gizi yang Makanan cepat saji adalah gaya hidup

Page 11
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
remaja. Peningkatan kemakmuran dan disimpan setara dengan sekitar 3 gram air.

pengaruh westernisasi dapat mengakibatkan Tetapi jika diikuti dengan latihan fisik atau

terjadinya perubahan gaya hidup dalam olahraga, kelebihan karbohidrat akan

pemilihan makanan yang cenderung terbuang. Disaat yang sama, tubuh juga akan

menyukai makanan cepat saji (fast food) mengalirkan kelebihan cairan yang

yang kandungan gizinya tidak seimbang tersimpan. Lemak yaitu menyebabkan

yaitu mengandung energi, garam, dan lemak kegemukan, dinyatakan benar. Tapi bukan

termasuk kolesterol dalam jumlah tinggi dan berarti tubuh tidak membutuhkan lemak.

hanya sedikit mengandung serat.11 Karena pada dasarnya tubuh tetap

Menurut Pakar Gizi dari Institut membutuhkan kandungan lemak sekitar 70

Pertanian Bogor Prof Ali Khomsan, gram setiap harinya.12 Saat menghindari

membicarakan kegemukan atau obesitas, makanan berlemak dan karbohidrat,

lemak bukan satu-satunya persoalan. Sebab, seseorang cenderung mengonsumsi protein

kegemukan juga bisa karena kalori yang sebagai pengganti. Namun menurut Prof Ali,

bersumber pada karbohidrat dan protein.11 khomsan protein juga dapat menyebabkan

Sumber kalori penyebab kegemukan seperti kegemukan. Peningkatan Telur misalnya,

diungkap Prof Ali Khomsan. Karbohidrat mengandung protein tinggi yang juga dapat

adalah Makanan yang mengandung menyebabkan obesitas jika dikonsumsi

karbohidrat tinggi seperti nasi, kentang, secara berlebih. dengan kacang dan susu

gandum, dan roti merupakan sumber energi terdapat protein.11

cadangan.11 Otot-otot tubuh dapat Gaya hidup masyarakat sekarang,

menyimpan jenis karbohidrat yang disebut membuat mereka akhirnya memiliki banyak

glikogen. Setiap gram glikogen yang pilihan makanan. Hal itu yang sering tidak

Page 12
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
terkontrol. Beberapa faktor yang berisiko lemak akan berkurang dimana terjadi

obesitas yaitu faktor psikogen yang penurunan berat badan, apabila protein dan

memperngaruhi pengaturan atau kelainan karbohidrat keduanya tercampur dalam

hipotalamus sendiri. Psikogen adalah media berair sehingga setiap zat biasanya

kebiasaan makan yang sehat yaitu tiga kali mewakili kurang. Karbohidrat maupun

makan sehari, dan setiap waktu harus lemak dianggap sebagai penghemat protein.

dipenuhi. Banyak anak-anak dipaksa Sebaliknya, pada saat kelaparan, setelah

mengikuti kebiasaan ini oleh orang tua yang karbohidrat dan lemak menjadi kurang,

mempunyai kekhawatiran berlebihan, dan maka cadangan protein tubuh digunakan

anak meneruskan kebiasaan ini selama dengan cepat untuk menghasilkan energi. 9

hidupnya. 12
Seseorang yang dikatakan
Pada penelitian ini ada beberapa
kekurangan karbohidrat berarti tubuhnya
responden asupan energi dan zat gizi makro
tidak akan mampu menciptakan energi yang
yaitu karbohidrat, protein, lemak ≤ 30%
cukup. Hal ini bisa mengakibatkan tubuh
dinyatakan asupan kurang tetapi mengalami
mudah lelah dan terasa lemah.
obesitas, hal tersebut kemungkinan recall
Menyebabkan seseorang memiliki perilaku
melewatkan makan pagi dan berusaha diet.
yang buruk. Bagi orang-orang yang
Keterbatasan penelitian, responden tidak
melakukan diet rendah karbohidrat,
jujur mengisi recall. Kenapa bisa asupan
Menimbulkan rasa malas. Otot-otot pada
energi dan zat gizi makro kurang, sumber
tubuh manusia memerlukan asupan makanan
energi berasal dari protein dan lemak,
berupa glikogen yang berfungsi untuk
seseorang yang berusaha diet kemungkinan
mengoptimalkan dan memperkuat fungsi
asupan energi dan karbohidrat, protein,
otot. Jika seseorang kekurangan karbohidrat

Page 13
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
sebagai penghasil glikogen, . 9makan otot- sehat, kurangnya konsumsi makanan yang

ototnya tidak akan bisa bekerja optimal mengandung protein seperti daging dan

karena tidak tersedianya energi, sehingga ikan. Cukup banyak alas an sebagian orang

akan menimbulkan tubuh terasa lemas dan mengurangi konsumsi daging dan ikan salah

malas untuk melakukan kegiatan apapun. satunya adalah program diet.

Kekurangan lemak, juga bisa


Hubungan Kebiasaan Olahraga terhadap
berdampak pada berbagai jenis penyakit.
kejadian Obesitas remaja SMA N 5
Berikut ini ciri-ciri seseorang yang divonis
Pekanbaru.
kekurangan lemak, seperti : Kulit menjadi
Dari hasil diatas menunjukkan siswa
kasar dan kering (keratosis pilaris), Rambut
yang kurang olahraga dan aktivitas tidak
menjadi kering dan berketombe, Kuku-kuku
aktif memiliki kecendrungan lebih besar
menjadi rapuh, Kurang konsentrasi,
mengalami obesitas dari pada siswa yang
Emosional, Depresi, Sering mengalami
memiliki aktivitas fisik yang aktif dan
kecemasan. 9
kebiasaan olahraga yang cukup cendrung
Tubuh memerlukan energi dari
memiliki lingkar pinggang yang normal.
karbohidrat dan lemak untuk beraktivitas.
Dari tabel dapat dilihat bahwa
Selain itu protein juga mempunyai peranan
aktivitas fisik yang kurang aktif adanya
yang memperbaiki sel yang rusak dan
hubungan yang signifikan dengan obesitas
mengembalikan vitalitas tubuh. Bila tubuh
dengan aktivitas fisik yang kurang aktif
kekurangan protein maka akan mengalami
mempunyai peluang lebih besar mengalami
gangguan kesehatan. . Oleh karena itu,
obesitas dibanding siswa yang aktivitas yang
bukan hanya kekurangan gizi, hal ini
lebih aktif. Hal tersebut sesuai dengan teori
disebabkan oleh pola makan yang tidak

Page 14
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
yang menyebutkan bahwa orang yang Hasil penelitian Ekelund et al,

memikili pola aktivitas yang kurang aktif penurunan penggunaan kalori akibat

memiliki risiko yang lebih besar mengalami kegiatan yang bersifat menetap berhubungan

obesitas dari pada orang yang aktif.11 dengan penambahan berat badan.8 Dari

Setiap aktivitas fisik memerlukan penelitian yang dilakukan oleh Huriyati

energi untuk bergerak. Pengeluaran energi pada 280 siswa SLTP di Yogyakarta dan di

untuk aktivitas fisik harian ditentukan oleh Bantul, didapatkan bahwa kelompok remaja

jenis, intensitas dan lama aktivitas fisik. obesitas menghabiskan lebih banyak

Teori menyebutkan bahwa aktivitas yang waktunya melakukan kegiatan bersifat

kurang aktif menyebabkan penggunaan menetap daripada kelompok remaja yang

kalori menurun sehingga jumlah kalori yang non obesitas.19

digunakan lebih kecil dari pada jumlah Hal ini disebabkan karena kemajuan

kalori yang masuk dalam tubuh yang dapat teknologi saat ini, mulai dari kegiatan yang

menimbulkan kelebihan kalori. Semakin dilakukan di dalam rumah maupun di luar

lama kelebihan kalori ini akan terakumulasi rumah. Tersedianya teknologi canggih pada

dalam tubuh dan dapat menyebabkan zaman sekarang ini menyebabkan seseorang

peningkatan berat badan dan dikatakan kurang dalam hal aktivitas fisik baik dari

berisiko obesitas.11 dilihat lagi berdasarkan aktivitas fisik ringan sampai aktivitas fisik

orang yang berisiko obesitas yang kebiasaan berat. Kurangnya aktivitas fisik yang

lebih malas bergerak dibandingkan orang dilakukan dapat menyebabkan terjadinya

yang non obesitas sehingga berat badan obesitas karena terjadinya ketidak

seorang yang berisiko obesitas semakin seimbangan energi dimana asupan lebih

meningkat berat badan. besar daripada keluaran energi tersebut.

Page 15
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
Semakin modern zaman semuanya canggih jumlah siswa dan siswi. Status gizi
sebanding antara obesitas sebanyak 40
ada nya kendaraan semakin malas orang
responden dan non obesitas sebanyak 40,
berjalan kaki. Disini membuktikan bahwa
sebagian besar responden obesitas
orang yang berkendaraan sedikit menunjukkan asupan energi dan zat gizi
makro karbohitrat, protein, lemak cukup
mengeluarkan energi dibandingkan dengan
dibandingkan dengan non obesitas sebagian
orang yang berjalan kaki lebih banyak
besar menunjukkan asupan energi dan gizi
mengluarkan energi dengan aktivitas fisik makro karbohitrat, protein, lemak kurang.
Sedangkan kebiasaan olahgara kurang lebih
yang aktif.
berisiko mengalami obesitas dibandingkan
Strategi untuk meningkatkan
dengan kebiasaan olahraga cukup aktif
aktivitas fisik harus mencakup peningkatan menandakan tidak berisiko obesitas.
2. Terdapat hubungan Asupan energi dan
aktivitas fisik terstruktur dan tidak
Zat Gizi makro dengan kejadian
terstruktur. Sekolah memiliki kombinasi
Obesitas pada remaja siswa/siswi SMA
unik dari berbagai faktor, termasuk fasilitas, N 5 Pekanbaru dalam penelitian ini.
3. Terdapat hubungan kebiasaan olahraga
instruktur kebugaran, dan kontak dengan
terhadap kejadian obesitas remaja di
orang banyak selama berjam-jam setiap hari,
SMA Negeri 5 Pekanbaru dalam
yang membuat mereka biasa bersosialisasi penelitian ini.

dengan lingkungan untuk mempelajari


Saran
20
aktivitas fisik.
Berdasarkan hasil penelitian maka
SIMPULAN DAN SARAN peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1. Responden
Simpulan
Kepada remaja obesitas sebaiknya
1. Responden siswi sebanyak 50 orang mengatur pola makan dengan asupan
(62,5%) dan siswa sebanyak 30 orang energi dan zat gizi makro
(37,7%). Hasil uji statistik membuktikan (karbohidrat, protein, lemak)
bahwa tidak ada beda signifikan antara seimbang dengan pengeluaran energi

Page 16
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
yang disertai aktivitas fisik lebih penyebab dari obesitas agar dapat
aktif. mencegah terjadinya
2. SMA Negeri 5 Pekanbaru peningkatan prevalensi obesitas pada
Kepada pihak sekolah untuk remaja.
meningkatkan kegiatan yang
meningkatkan aktivitas fisik lebih
UCAPAN TERIMA KASIH
banyak seperti diadakannya kegiatan
Penulis mengucapkan terima kasih
ekstrakurikuler dan kegiatan
kepada dekan Fakultas Kedokteran
olahraga di sekolah dan memberikan
Universitas Riau beserta staf pengajar yang
pelajaran mengenai asupan energi
telah memberikan bekal ilmu yang
dan zat gizi makro (karbohidrat,
bermanfaat sehingga dapat diaplikasikan
protein, lemak) dan risiko obesitas
dalam kehidupan. Kepada pembimbing,
kepada siswa siswinya tentang
penguji yang bersedia memberikan
pentingnya menjaga pola makan
masukan, nasehat, bimbingan serta
dan pola aktivitas yang seimbang
meluangkan waktu dan pikiran demi
untuk menghindari terjadinya obesitas.
kesempurnaan penelitian ini dan kepada
kepala sekolah beserta seluruh guru SMA
Negeri 5 Pekanbaru yang telah memberikan
3. Peneliti lain
bantuannya kepada penulis serta siswa siswi
Penelitian lebih lanjut dapat
SMA Negeri 5 Pekanbaru yang telah
dilakukan untuk meneliti mengenai
bersedia meluangkan waktunya untuk
hubungan pengetahuan pola makan
menjadi subjek penelitian. Penulis juga
dan aktivitas fisik obesitas dengan
mengucapkan terima kasih kepada semua
kejadian obesitas pada remaja dan
pihak yang telah turut serta membantu
mengidentifikasi faktor-faktor
sehingga penelitian ini dapat terlaksana.

Page 17
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
DAFTAR 6. Barasi M.E. Nutrition At a Glance
Edition. Published by Blackwell
PUSTAKA
publishing Ltd, penerbit Erlangga
1. Soegondo S. Obesitas. Dalam : 2007.102-111
Sudoyo. AW, Setiyohadi. Buku Ajar
7. Guyton. AC, Ball JE. Obesitas. Buku
Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
ajar fisiologi kedokteran. Ed 9.
penerbit ilmu penyakit dalam FKUI.
Jakarta .EGC: 1997; 1086,1116-1118
2006: 1919-25.
8. Hudha L.A. Hubungan Antara Pola
2. UNICEF. The state of World’s
Makan dan Aktivitas Fisik dengan
children 2012. Available at:
Obesitas pada Remaja Kelas II SMP
http://www.unicef.org/sowc2012/
Theresiana I Yayasan Bernadus
3. Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun Semarang. Fakultas Teknik
2010. Badan Penelitian dan Universitas Negeri Semarang [skripsi].
Pengembangan Kesehatan 2006. [ Dikutip tanggal 12 April
Departemen Kesehatan RI. Jakarta: 2012]. Diakses dari
Riset Kesehatan Dasar; 2010 http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/cellect/s
4. Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun kripsi/archives/HASH87e5.dir/doc.pdf
2013. Badan Penelitian dan
9. Hikmat. M. Mahi. Awas Narkoba Para
Pengembangan Kesehatan
Remaja Waspadalah . Bandung .
Departemen Kesehatan RI. Jakarta:
PT.Grafiti Budi utami. 2008
Riset Kesehatan Dasar; 2013.
5. Annisa M N, Ernalia Y, Amelia S M. 10. Spear BA. Nutrition In Adolescence.

Perbedaan kualitas hidup antara status Krause’s Food, Nutrition, and Therapy

gizi lebih dan status gizi normal pada 11th Edition.USA: Elsevier

siswa SMAN 1 pekanbaru[Skripsi]. Sauder,2004.284-8.292-4

Pekanbaru: Universitas Riau; 2012.


11. Khomsan A. Pangan dan gizi untuk
Available from:
kesehatan. Edisi 1. Jakarta: PT Raja G
http://lib.unri.ac.id/skripsi/index.php?
reafindo Persada,2003,90-3,120-2.
p=show_detail&id=41417

Page 18
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
12. Guyton. AC, Ball JE. Obesitas. Buku M. Physical activity but not energy
ajar fisiologi kedokteran. Ed 9. expenditure is reduced in obese
Jakarta .EGC: 1997; 1086,1116-1118 adolesents: a cere- control study.
13. Manurung, NK. Pengaruh American Journal of Clinic Nutrition
Karakteristik Remaja, Genetik, 2002; 76: 935-941
Pendapatan Keluarga, Pendidikan Ibu,
18. Gizi di Era Otonomi Daerah dan
Pola Makan dan Aktivitas Fisik
Globalisasi. Jakarta : Depkes, Badan
Terhadap Kejadian Obesitas di SMU
POM, Bappenas, Deptan, Ristek.
RK Tri Sakti Medan 2008 [tesis].
2009. 19. Huriyati E, Hadi H, Julia M. aktivitas
14. Virgianto. Konsumsi Fast fisik pada remaja SLTP kota
Food sebagai Faktor Risiko Yogyakarta dan kabupaten Bantul
Terjadinya Obesitas pada Remaja serta Hubunganya dengan kejadian
Usia 15-17 Tahun. Semarang. MFDU. Obesitas.The Indonesian Journal of
2005. Clinical Nutrition 2004; Vol.1 No.2
15. Satgas Remaja IDAI. Nutrisi pada
20. McArdle WD, Katch FI, Katch VL.
remaja. Indonesian pediatric seociety.
Obesitas and weight Control. Body
Buku Bunga Rampai Kesehatan
Composition Assessment Exercise
Remaja. 2009 th
Physiology. 4 Edition.
16. Van Dam RM, grievink L, Ocke M, Pennsylvania: Lippincott Williams &
Feskens E. Patterns of food Wilkins, 1996, 603-630
consumption and risk factor for
Kesehatan Program Studi S2 IKM,
cardiovascular disease in the general
Fakultas Kedokteran, Universitas
dutch population. American Journal of
Gajah Mada.
Clinic Nutrition 2003; 77: 1156-1163.

17. Ekelund U, Aman J, Yngve A,


Renman C, Westerterp K, Sjostrom

Page 19
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016
Page 20
Jom FK vol.3 No.I Februari 2016

You might also like