The Form of Broadcasting Digitalization Policy in Indonesia Pola Kebijakan Digitalisasi Penyiaran Di Indonesia
The Form of Broadcasting Digitalization Policy in Indonesia Pola Kebijakan Digitalisasi Penyiaran Di Indonesia
The Form of Broadcasting Digitalization Policy in Indonesia Pola Kebijakan Digitalisasi Penyiaran Di Indonesia
76-96
Social and Political Science Faculty, Universitas Muhammadiyah Ponorogo. 76
p-ISSN 2338-5162 / e-ISSN 2338-5162
Assyari Abdullah
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Jl. H.R. Soebrantas No. 155 Km. 15 Simpang Baru Panam, 28293 Pekanbaru Indonesia
assyariabdullah@uin-suska.ac.id
* Penulis Korespondensi: assyariabdullah@uin-suska.ac.id
I N F O A RT I K E L
Keywords A BS T RA C T
Digital Broadcasting; The purpose of the study is to see how broadcasting digitalization policies in
Regulation; Indonesia after the shaking of the status of broadcast digitalization after the
Television;
Supreme Court's decision. This research uses a qualitative descriptive
method with a case study approach to explore the issues and problems that
exist around the digitalization of broadcasting in Indonesia. The practice of
broadcasting digitalization in Indonesia does not have clear regulations after
Ministerial Regulation 22/2011 has been revoked. So that policies and
regulations in managing broadcast digitalization are unclear. Simulcast
Public Broadcasting Institutions (LPPs) and Private Broadcasting
Institutions (LPS) have conducted trials in the field of broadcast
digitalization. TVRI as a Public Broadcasting Institution (LPP) already has
TVRI Digital Broadcasting Channel -1, TVRI Digital Broadcast -2, TVRI
Digital Broadcast -3, TVRI Digital Broadcast -4 and TVRI Digital-HD
Broadcasting. Private Broadcasting Institutions (LPS) that conduct trials are
Nusantara TV, Inspira TV, Kompas TV, Gramedia TV, Tempo TV, Net TV,
CNN TV, Muhammadiyah TV, Merahputih TV, Badar TV, and Persada TV.
The government and all stakeholders must seriously oversee the revision of
the broadcasting law that accommodates broadcast digitalization.
KataKunci A BS T RA K
Penyiaran Digital; Artikel ini bertujuan untuk melihat bagaimana kebijakan digitalisasi
Regulasi; penyiaran di Indonesia setelah gonjang-ganjingnya status digitalisasi
Televisi;
penyiaran pasca keputusan Mahkamah Agung (MA). Peneletian ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus
untuk mendalami isu dan problema yang ada seputar digitalisasi penyiaran
di Indonesia. Praktek digitalisasi Penyiaran di Indonesia tidak memiliki
regulasi yang jelas setelah Peraturan Menteri 22/2011 dicabut. Sehingga
kebijakan dan regulasi dalam pengelolaan digtalisasi penyiaran tidak jelas.
Secara simulcast Lembaga Penyiaran Publik (LPP) dan Lembaga Penyiaran
Swasta (LPS) sudah melakukan uji coba di bidang digitalisasi penyiaran.
TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) sudah memiliki channel
TVRI Siaran Digital -1, TVRI Siaran Digital -2, TVRI Siaran Digital -3,
TVRI Siaran Digital -4 dan TVRI Siaran Digital –HD. Lembaga Penyiaran
Swasta (LPS) yang melakukan uji coba adalah Nusantara TV, Inspira TV,
Kompas TV, Gramedia TV, Tempo TV, Net TV, CNN TV, TV
Muhammadiyah, Merahputih TV, Badar TV dan Persada TV. Pemerintah
dan semua stakeholder harus serius mengawal revisi undang-undang
penyiaran yang mengakomodir digitalisasi penyiaran.
Riwayat Artikel
Pengiriman 25 Februari 2019 Copyright ©2019 Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora)
Penelaahan 01 Agustus 2019 This is an open access article under the CC–BY-NC-SA license.
Diterima 19 November 2019 Akses artikel terbuka dengan model CC–BY-NC-SA sebagai lisensinya.
76
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Pendahuluan
Perdebatan panjang mengenai digitalisasi penyiaran jauh dari kata sudah. Banyak
yang mendukung dan tidak sedikit pulang yang berupaya “menghalangi” implementasi
penyiaran digital di Indonesia. Adu argumentasi pun selalu menyeruak di forum-forum publik
tentang urgensi pengimplementasian penyiaran digital di Indonesia, tentunya dengan dengan
memaparkan plus-minusnya.
Sistem penyiaran digital tidak muncul begitu saja, banyak tahapan yang sudah dilalui,
begitupan penyempurnaan demi penyempurnaan seiring dengan perkembangan sains dan
teknologi. Bahkan mengutip apa yang pernah ditulis oleh Galih Arindra Putra bahwa
Perkembangan teknologi penyiaran televisi digital yang terjadi di Indonesia merupakan suatu
proses yang harus dipersiapkan. Berdasarkan rekomendasi International Telecommunication
Union (ITU) yang tertuang dalam Geneva 2006 (GE-06) Agreement, pemerintah yang
diwakili oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menetapkan program migrasi
teknologi analog ke digital. ITU menyatakan bahwa tanggal 17 Juni 2015 merupakan batas
waktu bagi seluruh negara di dunia untuk melakukan migrasi teknologi (ITU, 2015). Di
beberapa negara telah meluncurkan program layanan televisi digital serta berencana untuk
mematikan jaringan analog. Demikian juga dengan Indonesia, proses peralihan teknologi
analog ke digital dilakukan secara bertahap dan dan pada awalnya ditargetkan selesai pada
tahun 2018, kemudian diubah menjadi tahun 2020 (setnas-asean.id, 2018), sebab Analogue
Switch-off (ASO) adalah proses yang tidak mudah dan perlu dipersiapkan dengan
perencanaan yang tepat (ITU, 2013). Indonesia telah melakukan perencanaan alih teknologi
secara bertahap sejak tahun 2007, dari perencanaan standar Digital Video Broadcasting -
Terrestrial (DVB-T) hingga pemilihan standar penyiaran TV digital menggunakan Digital
Video Broadcasting – Second Generation Terrestrial (DVB-T2). Ujicoba teknologi penyiaran
digital juga telah dilakukan dari tahun 2008 dan dilanjutkan dengan tahap penyiaran
simulcast pada tahun 2012 yang direncanakan sampai 2017. Keputusan pemerintah untuk
mengadopsi teknologi DVB-T2 ditetapkan melalui pengesahan regulasi yang diterbitkan pada
tanggal 2 Februari 2012, yaitu Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor
5/PER/M.KOMINFO/2/2012 tentang Standar Penyiaran Televisi Digital Penerimaan Tetap
Tidak Berbayar (Free To Air). Dengan adanya kebijakan tersebut maka aspek teknologi
maupun non teknologis perlu dipersiapkan untuk proses digital switchover. Regulasi
penyiaran di Indonesia mendukung adanya jaminan kualitas layanan bagi pengguna.
Pengawasan dan monitoring kelayakan isi siaran dan kualitas siaran menjadi sangat penting
sehingga melahirkan sistem monitoring Service Level Agreement (SLA) sebagai fungsi
77
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
pengawasan dan monitoring penyiaran televisi digital. Service level agreement merupakan
jaminan kualitas layanan yang didapat oleh pengguna. Sistem ini melakukan fungsi kontrol
parameter SLA pada penerima TV digital DVB-T2 sesuai regulasi Peraturan Menteri
Komunikasi dan Informatika Nomor 32 Tahun 2013 bagian kedua tentang Tata Cara dan
Persyaratan Perizinan Penyelenggaraan Penyiaran Multipleksing Melalui Sistem Terestria
(Putra, Endroyono, & Kusrahardjo, 2015)
Digitalisasi penyiaran menjadi sebuah keniscayaan dan dianggap sebagai solusi untuk
mengatasi keterbatasan dan tidak efisiennya penyiaran analog. Seperti diketahui, teknologi
analog tidak dapat mengimbangi permintaan industri penyiaran dalam hal penyaluran
program siaran yang terus bertambah karena terbatasnya jumlah kanal frekuensi yang
tersedia. Selain itu, penggelaran infrastruktur penyiaran analog pun tidak efisien karena
belum menyentuh ranah konvergensi. Dalam Sistem penyiaran analog yang masih berlaku
sampai sekarang ini, masing-masing lembaga penyiaran memiliki infrastruktur penyiaran
sendiri–sendiri seperti menara pemancar, antena dan sebagainya. Akibatnya, biaya
pemeliharaan relatif mahal, pemakaian daya listrik yang besar, serta pemanfaatan lahan yang
lebih boros. Di sisi penerimaan siaran pun, kualitas siarannya tidak merata meski berada
dalam wilayah layanan yang sama.
Penerapan teknologi penyiaran digital diharapkan memberikan efisiensi penggunaan
spektrum frekuensi yang lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan penyediaan
program siaran yang lebih banyak dibandingkan penyiaran analog. Dengan demikian,
teknologi digital untuk penyiaran TV dan radio memberikan peluang yang lebih besar
terhadap ketersediaan ruang bagi penyelenggaraan penyiaran, baik pengembangan dari yang
ada sekarang maupun permintaan penyelenggaraan penyiaran baru yang tidak dapat
ditampung pada Masterplan penyiaran analog. Selain peningkatan di sisi kuantitas program
siaran yang dapat disalurkan dalam satu kanal frekuensi, teknologi penyiaran digital pun
menawarkan keuntungan lain, yakni kualitas penerimaan yang jauh lebih baik dibandingkan
penyiaran analog. Program siaran yang dapat disalurkanpun lebih bervariasi jenisnya. Selain
itu, teknologi penyiaran digital memungkinkan penggunaan menara pemancar bersama untuk
menyalurkan semua program siaran pada suatu wilayah layanan sehingga akan tercapai suatu
efisiensi infrastruktur yang sangat baik dan penerimaan siaran yang sampai di masyarakat
pun akan merata (Rianto et al., 2013)
Di Indonesia, digitalisasi penyiaran sudah mulai dibahas dan menjadi perdebatan
publik. Dewan Perkwakilan Rakyat (DPR) telah merancang undang-undang penyiaran baru
sebagai penyempurna undang-undang penyiaran lama dengan memasukkan pengaturan
78
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
penyiaran digital. Di sisi lain, Pemerintah sudah membuat Peraturan Menteri (Permen)
tentang penyiaran digital. Namun sayangnya, Permen itu mempunyai persoalan hukum (tidak
sesuai dengan undang-undang penyiaran) dan kurang mengadopsi kepentingan publik karena
lebih berpihak ke pasar dan lembaga-lembaga penyiaran yang sudah existing. Pemerintah
Indonesia begitu antusias terhadap hadirnya teknologi baru ini sehingga segera
mencanangkan program digitalisasi televisi. Berbagai persiapan telah dilakukan menyusul
kebijakan Kementerian Komunikasi dan Telematika yang segera akan mengoperasikan
televisi digital ke semua warga Negara yang memiliki televisi analog. Merujuk kepada latar
belakang yang dipaparkan diatas, maka dapat disusun rumusan permasalahnnya adalah
bagaiamana pola kebijakan digitalisasi penyiaran di Indonesia.
Metode
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini
dilakukan dengan pendekatan studi kasus, yang melihat fenomena penyiaran di Indonesia
sebagai sesuatu yang bersifat kasuistik dengan batas-batas yang jelas (Arifianto, 2008).
Sebagaimana halnya studi kasus, penelitian ini menggunakan berbagai sumber data guna
lebih memperdalam hasil temuan. Tentunya penelitian ini berusaha mengambarkan,
meringkaskan berbagai kondisi, situasi atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada
dimasayarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke
permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat model, tanda atau gambaran tentang kondisi,
situasi, ataupun fenomena tertentu. Dengan demikian format deskriftif kualitatif lebih tepat
apabila digunakan untuk meneliti masalah-masalah yang membutuhkan studi mendalam
seperti studi tentang prilaku konsumen, efek media, dan implementasi suatu kebijakan
(Bungin, 2008) yaitu dengan menggunakan kalimat-kalimat yang sesuai dengan teori-teori
yang terdapat pada penyajian data.
Data apabila digolong menurut asal sumbernya dapat dibagi menjadi dua kategori
yaitu Pertama, primer dan kedua, data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh
langsung dari objek yang akan diteliti, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh
dari lembaga atau instansi tertentu, seperti biro pusat statistik dan lain-lain(Suyanto, 2005).
Peneliti mengumpulkan data menggunakan tatap muka dengan wawancara mendalam kepada
lembaga pemerintah, regulator, Non Govermental Organization (NGO), Asosiasi Telvisi
Digital Indonesia dan peneliti dari lembaga penelitian seperti CIPG (Tabel. 1). Untuk data
sekunder, peneliti mengumpulkan bahan dari berbagai arsip yang diambil dari karya
akademis, laporan industri, publikasi pemerintah, laporan tahunan kementerian, laporan
79
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
teknis, dan semua materi yang berkaitan dengan digitalisasi penyiaran. Bahan arsip ini
bermanfaat untuk mendapatkan data faktual seperti angka dan data statistik terkait data yang
berhubungan dengan digitalisasi penyiaran (Shin & Song, 2012).
Tabel 1. Informan Penelitian
Nama Institusi kategori
Yuliandre Darwis Komisi Penyiaran Indonesia Regulator
Syaharuddin Kementerian Komunikasi dan Informatika Regulator
RI
Ahmad Budiman DPR RI Regulator
Leonardus Kristianto Center for Innovation Policy and NGO
Nugroho Governence (CIPG)
Klara Esti Center for Innovation Policy and NGO
Governence (CIPG)
Eris Munandar Asosiasi Televisi Siaran Digital Indonesia Asosiasi/Industri
(ATSDI) Media
Sumber: diolah dari data hasil penelitian
Data penelitian kualitatif dinyatakan absah apabila memiliki derajat kepercayaan
(credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependability), dan kepastian
(confirmability). Derajat kepercayaan (credibility) dilakukan dengan cara memeriksa data
yang diperoleh dan memastikan bahwa data diperoleh dari sumber yang berkompoten dan
data relevan dengan kajian ini. Transferability dilakukan dengan cara membuat laporan yang
baik (sistematis) agar terbaca dan dapat memberikan informasi yang lengkap dan jelas.
Dependability dengan menunjukkan konsistensinya dalam hal stabilitas data atau temuan
yang dijumpai dalam melakukan analisis. Confirmability dengan cara melakukan proses uji
ketergantungan dengan cara menguji hasil penelitian dikaitkan dengan proses penelitian yang
telah dijalankan. Ini berguna untuk menyakinkan kembali bahwa hal-hal yang dilaporkan
memang demikian adanya dan relevan dengan penelitian ini. (Satori & Komariah, 2009)
80
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
organisasi penerbit seperti Serikat Penerbit Surat kabar (SPS), serta organisasi wartawan dan
jurnalis seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Untuk dunia perbukuan dan para penerbit buku, ada Ikatan Penerbit Buku Indonesia (IKAPI)
yang mengatur diri sendiri (Siregar, 2008) Kemudian, bagi seseorang, kelompok, badan, atau
lembaga tertentu yang ingin menerbitkan buku atau surat kabar dan majalah, cukup
mendirikan badan hukum sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Selanjutnya, dengan modal tertentu, dapat menerbitkan buku dan/atau surat kabar, tanpa
diperlukan izin khusus untuk menerbitkannya. Selanjutnya, jika dalam praktik terjadi
pelanggaran hukum, maka sanksi diberikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Khusus untuk kegiatan jurnalistik, berlaku Undang-undang Pers No. 40 tahun
1999 (Siregar, 2008)
Sementara itu, regulasi media yang menggunakan public domain sangat berbeda
dengan media yang tidak menggunakan public domain. Di negara demokrasi manapun, jika
suatu media menggunakan public domain, maka regulasinya sangat ketat. Ini karena ketika
seseorang atau suatu badan telah diberi frekuensi, sebenarnya ia telah diberi hak monopoli
oleh negara untuk menggunakan frekuensi tersebut dalam kurun waktu tertentu. Dengan
demikian, berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus, yaitu
peraturan perundang-undangan di bidang penyiaran. Dalam kaitan ini, regulasi terhadap radio
dan televisi berlangsung sangat ketat (highly regulated). Di Amerika Serikat, misalnya,
regulatornya adalah “Federal Communications Commission” (FCC). Sementara itu, regulator
di Afrika Selatan adalah “Independent Communication Authority of South Africa”(ICASA),
dan banyak lagi lembaga semacam itu di negara demokrasi di dunia. Regulator di negara-
negara demokrasi ini adalah badan independen negara yang bersifat “quasi judicial” (Siregar,
2008). Untuk Indonesia, regulatornya adalah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang
berhubungan dengan isi, dan Pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan
Informatika (Depkominfo), yang berhubungan dengan penggunaan frekuensi dan pemberian
izin penyiaran (Rianto, 2012)
Secara filosofis, ada beberapa alasan penting mengapa regulasi media yang
menggunakan public domain berbeda dengan media yang tidak menggunakan public domain.
Pertama, Media tersebut menggunakan public domain, barang publik. Oleh karenanya, harus
diatur secara ketat. Frekuensi adalah milik publik yang dipinjam sementara oleh lembaga
penyiaran yang harus dipergunakan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran
rakyat. Dengan kata lain, pengaturan tersebut ditujukan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan
dan kemakmuran publik yang luas, bukan perorangan atau kelompok. Kedua, Public domain
81
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
mengandung prinsip scarcity (scarcity theory). Scarcity theory ini menegaskan bahwa
frekuensi yang berasal dari spektrum gelombang radio merupakan ranah publik yang terbatas.
Permintaan frekuensi jauh lebih banyak dari yang tersedia. Meskipun teknologi maju mampu
membuat frekuensi dimanfaatkan lebih banyak saluran siaran, tapi ia tetap terbatas. Terlebih,
di Indonesia sekarang ini, teknologi maju tersebut belum dipergunakan secara meluas. Itulah
juga sebabnya izin frekuensi untuk penyiaran mempunyai masa waktu yang terbatas, dapat 10
atau 15 tahun, meskipun dapat diperpanjang. Dalam pengaturan spektrum frekuensi yang
terbatas tersebut, dibutuhkan wasit yang adil dan demokratis untuk menjamin tersedia,
terdistribusikan, dan terawasinya ranah publik tersebut. Ketiga, Sifatnya yang menembus
(pervasive presence theory). Pervasive presence theory menjelaskan bahwa program siaran
media elektronik memasuki ruang pribadi, meluas, dan tersebar secara cepat ke ruang-ruang
keluarga tanpa diundang. Ketika seseorang membaca koran, misalnya, maka kontrol atas apa
yang dibaca dan di mana membacanya akan sangat tergantung pada si pembaca. Namun,
media-media yang menggunakan public domain karena sifatnya yang menembus, masuk ke
dalam ruang-ruang tanpa batas, muatan isi media hampir tidak bisa dikontrol oleh siapapun.
Media ini juga bisa hadir dimana-mana dalam ruang dan waktu yang tidak terbatas. Oleh
karena itu, perlu ada regulasi untuk media-media yang menggunakan public domain
(Dominick, Messere, Sherman, & Dominick, 2012)
Penyederhanaan tiga model penyiaran dilihat dari tujuan, regulasi, pendanaan, dan
jenis program seperti dapat dilihat dalam tabel 2 berikut:
Tabel 2. Tiga Model Penyiaran Dunia
Pemilikan Governent Agency Governent Corporation Private
Media (Penguasa) (Publik) (Swasta)
Tujuan Mobilization Education/Cultural Profit (Mencari
(Mobilisasi Enlightenment Untung)
Sosial-Politik) (Pendidikan, Budaya, dan
Penyadaran)
Regulasi Strong (Ketat) Moderate (Sedang) Weak (Lemah)
Pendanaan Government (Dana Licence Fee/Tax Government Advertising
Pemerintah) Subsidy/ (Periklanan)
Advertising (Pajak, Iuran, dan
Dana Pemerintah)
Tujuan Ideological/Cultural Cultural/Educational/Entertai Entertainment
(Ideologisasi) nment (Hiburan)
(Budaya, Pendidikan dan
Hiburan)
Sumber : (Dominick et al., 2012)
Indonesia adalah negara yang demokratis sehingga membutuhkan sistem penyiaran
yang demokratis pula. Untuk mewujudkan sistem penyiaran yang demokratis diperlukan
adanya jaminan terhadap freedom of expression, freedom of speech, dan freedom of the press.
82
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Hal ini sejalan apa yang pernah dikatan oleh Amir Effendi Siregar bahwa Indonesia sudah
sepakat mengambil jalan demokrasi sebagai sebuah pilihan politik dalam kontek berbangsa
dan bernegara. Implikasi dipilihnya demokrasi sebagai sistem politik bahwa negara harus
menghormati dan memperjuangkan kebebasan sipil, yang diantaranya dalam bentuk jaminan
terhadap freedom of the press, freedom of expression, dan freedom of voices. Namun,
sebagaimana sering ia katakan, jaminan ketiga freedom ini saja tidaklah cukup. Negara harus
menjamin adanya diversity of voices, diversity of content, dan diversity of ownership (Rianto,
2012).
Gillian Doyle mengemukakan bahwa warga mengharapkan dan membutuhkan
diversity dan plurality isi dan sumber media (Doyle, 2002). Kebutuhan akan diversity dan
plurality yang dimaksud di atas seringkali diasosiasikan dengan hak dasar dalam kebebasan
berekspresi. Pluralisme yang dimaksud dalam hal ini, yaitu diversity of ownership atau
keragaman kepemilikan (adanya berbagai pemasok media yang terpisah dan otonom) dan
diversity of output atau keragaman output (variasi isi media). Lebih lanjut, Edwin Baker,
menjelaskan democratic vision is an egalitarian distribution of control, most obviously
meaning ownership, of the mass media (Baker, 2006)
Demokratisasi adalah distribusi kontrol yang setara, paling jelas mengenai
kepemilikan, yaitu kepemilikan media massa. Ditambahkan bahwa demokratisasi dalam
dunia pers adalah untuk mendukung penyebaran seluas mungkin kepemilikan media. Ini
karena konsentrasi kepemilikan media jika dijalankan dapat mengganggu demokrasi. Baker
mengemukakan hal tersebut sebagai berikut:
“In any local, state, or national community, concentrated media ownership creates the
possibility of an individual decision maker exercising enermous, unequal and hence
undemocratic, largely unchecked, potentially irresponsible power.” (Dalam setiap daerah,
negara bagian, atau komunitas nasional, konsentrasi kepemilikan media menciptakan
kemungkinan seorang pembuat keputusan menjalankan kekuasaan yang sangat besar, tidak
merata, tidak demokratis, tidak tercegah, dan yang berpotensi tidak bertanggung jawab
(Baker, 2006)
Doyle berpendapat, democracy would be threatened if any single voice, with the
power to propagate a single political viewpoint, were to become too dominant (Doyle, 2002).
Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya konsentrasi kepemilikan media yang berlebihan
dapat menyebabkan over-representasi dari pandangan politik atau nilai-nilai tertentu yang
disukai oleh pemilik media yang dominan, baik atas dasar komersial atau ideologis. Dengan
kata lain, individu pemilik media dengan kekuatannya dapat menyebarkan pandangan politik
tunggal yang dapat mengorbankan orang lain.
83
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
84
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Dari regulasi yang ada, setidaknya tidak kurang dari 15 buah regulasi yang mengatur
tentang penyiaran di Indonesia dan inipun dipandang tidak kuat untuk memayungi digitalisasi
penyiaran karena digitalisasi penyiaran itu merupakan fenomena yang sangat berpengaruh
kepada publik sehingga regulasi yang mengatur tenteng regulasi itu harus lahir dari rahim
Undang-Undang Penyiaran. Dari 15 regulasi diatas terdapat 3 regulasi yang mengatur tentang
penyiaran publik, 4 regulasi untuk penyiaran swasta, 5 regulasi untuk penyiaran digital dan 2
regulasi mengatur penyiaran komunitas.
85
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
penyiaran adalah sesuatu yang mustahi untuk dibendung apalagi dihentikan karena
digitalisasi penyiaran sudah menjadi keniscayaan teknologi hari ini.
Digital adalah sebuah keniscayaan perkembangan teknologi dimana teknologi analog
yang kita pakai saat ini untuk penyiaran tidak relevan lagi dengan perkembangan
zaman. Karena sudah muncul teknologi baru [yaitu] teknologi digital, dan sebagian
besar negara-negara di dunia itu sudah beralih bermigrasi dari analog ke
[teknologi] digital, mereka sudah meninggalkan teknologi analog dan sudah full
[teknologi] ke teknologi digital (Syaharuddin, 2018)
Peneliti dari Centre for Innovation Policy and Governance Clara Esti juga
menuturkan hal yang sama dengan Saharuddin. Clara mengatakan:
Digitalisasi penyiaran itu memang sudah waktunya hanya saja kalau di konteks
indonesia ini kan susahnya karena tatakelola penyiarannya sendiri selama ini masih
sembraut. Apa yang seharusnya kita tuh punya televisi berjaringan [Sistem Stasiun
Berjaringan] tapi kenyataannya tidak berjalan, semua terkonsentrasi di Jakarta.
Akhirnya ada kekhawatiran kalau digitalisasi penyiaran jalan, nanti siapa yang akan
punya frekuensinya? (Esti, 2018)
Seiring bergulirnya waktu, ternyata permen ini menjadi topik menarik bagi kalangan
insan dan stakeholder penyiaran. Dalam tataran pradigma kritis, permen ini lahir tanpa ada
regulasi yang lebih besar diatasnya yang bisa dijadikan sandaran atau payung hukum lebih
kuat sebagai filosofis lahirnya permen ini. Peraturan Menteri ini memiliki implikasi serius
dan secara langsung bagi penyelenggara penyiaran digital di indonesia. Bahkan, saktinya
Permen ini mengatur hal-hal yang belum diatur dalam undang-udang penyiaran. Padahal
dalam tata urutan perundang-undangan di Indonesia, Permen menjadi peraturan pelaksana
atas peraturan Undang-Undang diatasnya. Namun tidak demikian dengan kelahiran Permen
22/2011 ini. Regulasi ini merefresentasikan diri menjadi suatu bentuk ”peraturan baru” dalam
penyelenggaraan digitalisasi penyiaran di Indonesia, dan inilah yang menjadikan permen ini
kontroversial.
Pada akhirnya dari drama kelahiran Permen ini, Mahkamah Agung mencabut Permen
ini karena tidak sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. Pasca
pencabutan Permen 22/2011 ini resmilah digitalisasi penyiaran di Indonesia tidak memiliki
regulasi dan kebijakan yang jelas alias tanpa landasan hukum yang pasti. Disisi lain,
digitalisasi penyiaran semstinya harus bergulir dengan baik sehingga manfaat dari kehadiran
digitalisasi penyiaran di Indonesia itu sangat dirasakan manfaatnya baik oleh pemerintah,
Industri Penyiaran, Productions House dan masyarakat.
86
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Lahirnya peraturan menteri itu tadi [Permen 22 Tahun 2011] dimaksudkan untuk
mengatasi persoalan keterbatasan frekuensi dengan maksud bahwa secara
operasional menteri [Kominfo] dapat mempunyai landasan hukum untuk
menyelenggarakan digitalisasi penyiaran. Tapi dalam kenyataan regulasi yang
dimaksud dibatalkan MA, karena regulasi tersebut dinilai tidak sah dalam perspektif
hukum, karna rujukan tertinggi dari permentan 22 Tahun 2011 itu adalah UU
Penyiaran, dan UU [penyiaran] ini belum mengatur digitalisasi penyiaran (Budiman,
2018)
87
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Sampai saat ini, Draft UU Penyiaran [terbaru] baru sampai di Badan Legislasi
[DPR] untuk difinalisasi terkait harmonisasi UU penyiaran. Artinya, rancangan UU
Penyiaran belum dilakukan Pembahasan dengan Pemerintah. Untuk menjadi
Undang-Undang memang belum, namun, untuk menjadikan panduan penyiaran di era
digtal itu mememang sudah dilakukan. Hal yang sudah dilakukan pertama, yang
dilakukan secara sistematis adalah merubah definisi penyiaran di dalam rancangan
undang-undang yang sekarang yaitu, tidak lagi berada pada perspektif penyiaran
analog namun sudah penyiaran digital, ini bisa dilihat dari penggunakan kata
“pancar luaskan dan pancar teruskan”. Jadi ‘dipancar’ teruskan ini bisa
menggunakan teknologi, dan ini adalah digitalisasi penyiaran (Budiman, 2018)
Status perubahan RUU Penyiaran yang merupakan inisiatif DPR ini masih dalam
tahap pembahasan ditingkat Badan Legislasi DPR. Terkait hal tersebut, Kementerian
Kominfo dalam hal ini Ditjen SDPPI dan Ditjen PPI terus memantau progres
perkembangannya. Dengan pertimbangan tersebut maka diputuskan bahwa finalisasi
Perubahan Masterplan televisi digital baru dapat dilakukan sampai ditetapkannya RUU
Penyiaran yang baru. Hal ini dimaksudkan agar perubahan masterplan televisi digital in-line
dengan kebijakan yang ditetapkan di Undang-Undang. Sehubungan dengan hal tersebut, yang
pada awalnya ditargetkan melakukan perubahan masterplan televisi digital, difokuskan untuk
melakukan perubahan masterplan televisi analog (PM No. 31/2014) guna menyelesaikan
permasalahan-permasalahan televisi analog sehingga dapat meminimalisir timbulnya masalah
dikemudian hari saat ditetapkannya siaran televisi digital di Indonesia
88
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
89
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Tapi di luar itu salah satu isu yang juga menarik kalau digitalisasi penyiaran itu kan
pasarannya teknologi yang bisa membuat frekuensi lebih efisien jadi sisa frekwensi
barangkali bisa dimanfaatkan untuk yang lain. Karena ini menjadi ajang rebutan
bukan hanya untuk mencari uang di dunia penyiaran tetapi juga dari telekomunikasi
juga punya kepentingan untuk memanfaatkan frekwensi yang ada (Kristianto
Nugroho, 2018)
90
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
mentransfer program dari stasiun-stasiun televisi lain yang ada di dunia menjadi satu paket
layanan sebagaimana penyelenggaraan televisi kabel berlangganan yang ada saat ini.
Walaupun demikian untuk membuka kesempatan bagi pendatang baru di dunia TV siaran
digital ini, dapat ditempuh pola Kerja Sama Operasi antar penyelenggara TV yang telah
mapam dengan calon penyelenggara tv digital baru. Sehingga di kemudian hari
penyelenggara TV digital dapat dibagi menjadi "network provider" dan "program/content
provider"(TVDigital.id, 2018). Kedua, Efisiensi infrastruktur industri penyiaran, Ketiga,
Mempertahanan diversity of ownership, menumbuhkan industri konten (diversity of contents),
Keempat, Memperoleh digital dividend yang dapat digunakan untuk broadband kebencanaan
(public protection and disaster relief), pendidikan dan lain-lain. Kelima, Menghemat biaya
listrik sebesar 94%, biaya modal capital expenditure) sebesar 79% dan biaya operasional
(Operational Expenditure) sebesar 57% dibandingkan dengan tetap menggunakan pemancar
TV Analog. Keenam, Meningkatkan kualitas penerimaan siaran TV(Kominfo RI, 2018).
91
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Penyiaran No. 32 Tahun 2002. Kelima, Untuk mengantisipasi kekosongan regulasi, akhirnya
Kominfo melahirkan regulasi baru berupa Permen 32 Tahun 2013. Permen ini juga dianggap
secara prinsip sama isinya dengan Permen 22 Tahun 2011 yang sudah dibatalkan oleh
Mahkamah Agung tahun 2012. Keenam, Dalam perspektif Kominfo, Permen 32 Tahun 2013
itu masih berlaku meskipun Mahkamah Agung menolak gugatan terhadap Permen 32 karena
dianggap secara essensial masih sama dengan Permen 22 Tahun 2011. Namun anehnya,
dalam putusan MA tidak dicantumkan bahwah “Permen 32 itu batal” artinya Permen 32/2013
tetap berlaku (Abdullah, 2018).
92
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Stasiun Keterangan
Nusantara TV Penyiaran Digital
Inspira TV Penyiaran Digital
Kompas TV Penyiaran Digital
Gramedia TV Penyiaran Digital
Tempo TV Penyiaran Digital
Net TV Penyiaran Digital
CNN TV Penyiaran Digital
TV Muhamadiyah Penyiaran Digital
Merah Putih TV Penyiaran Digital
Badar TV Penyiaran Digital
Tegar TV Penyiaran Digital
Sumber (ATSDI, 2017)
Kesimpulan
Merujuk kepada pemhasan yang sudah diulas diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
Pola digitalisasi penyiaran di Indonesia ini adalah: Pertama, Digitalisasi Penyiaran adalah
merupakan sebuah keniscayaan dan Indonesia harus siap untuk bermigrasi dari sistem analog
ke sistem digital. Kedua, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran
berimplikasi dengan lahirnya turunan-turunan regulasi sebanyak 16 regulasi sebagai alat yang
mengatur dan menterjemahkan UU Penyiaran tersebut tidak secara spesifik mengatur tentang
digitalisasi penyiaran dan lebih berfokus kepada penyiaran analog. Ketiga, Dengan
dicabutnya Peraturan Menteri Kominfo RI No. 22 Tahun 2011 maka tidak ada regulasi yang
kokoh untuk memayungi kebijakan digitalisasi penyiaran di Indonesia. Keempat, Sudah
terdapat 103 IPP Penyiaran digital, namun karna dicabutnya Permen 22/2011 ini semuanya
tidak berjalan atau stagnan. Kelima, Sudah terdapat 11 Stasiun Televisi yang beroperasi
menggunakan Sistem Penyiaran Digital meskipun regulasinya belum jelas. Kemudian, Untuk
mewujudkan artikel ilmiah yang terarah, penulis memandang perlu menyampaikan
pandangan dan saran untuk kebaikan penyiaran digital kedepan, diantaranya adalah: Pertama,
Migrasi dari system analog ke system penyiaran digital adalah sebuah keniscayaan dan sudah
menjadi tuntutan teknologi dengan banyak keuntungan baik secara ekonomis, kualitas
gambar dan suara dan juga dalam hal demokratisasi penyiaran di Indonesia. Kedua,
Implementasi digitalisasi sistem penyiaran ini menyangkut dengan kehidupan orang banyak,
maka seharusnya pengaturannya diatur oleh Undang-Undang. Ketiga, Pengesahan Revisi
Undang-Undang Penyiaran harus disegerakan sehingga implementasi digitalisasi penyiaran di
Indonesia itu berjalan dengan baik dan memiliki payung hukum. Keempat, Implementasi
migrasi siaran TV Analog ke Digital (digitalisasi) memerlukan biaya tinggi bagi lembaga
93
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
penyiaran lokal, komunitas, dan juga masyarakat kelas menengah ke bawah, khususnya bagi
lembaga penyiaran yang sudah berinvestasi tinggi dalam penyelenggaraan siaran analog.
Karena dengan diberlakukannya digitalisasi menyebabkan infrastruktur analog tidak dapat
digunakan lagi dan semua materi siaran akan disiarkan oleh Lembaga Penyiaran
Penyelenggara Penyiaran Multiplexing (LPPPM) dan pemerintah harus mencarikan win-win
solution agar industri penyiaran tanah air tidak terbebani akibat migrasi teknologi ini.
Ucapan Trimakasih
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Kementerian
Agama Republik Indonesia yang telah memberikan bantuan dana penelitian untuk Kluster
Peningkatan Kapasitas melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
(LPPM) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Tahun 2018 yang menjadi dasar
bagi penulisan artikel ini. Terimakasih kepada semua pihak yang membantu penelitian dan
publikasi di Jurnal Aristo yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
Daftar Pustaka
Abdullah, A. (2018). Analisis Pola Kebijakan Digitalisasi Penyiaran di Indonesia [Laporan
Penelitian]. Pekanbaru: Penelitian ini didanai oleh Kementerian Agama Republik
Indonesia melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Arifianto, S. (2008). Metodologi Riset Komunikasi: Panduan Untuk Melaksanakan Penelitian
Komunikasi. Yogyakarta: BPPI & PKMBP.
ATSDI. (2017). Masukan Asosiasi Televisi Siaran Digital Indonesia (ATSDI) Kepada Badan
Legislasi (Baleg) DPR-RI Terkait Harmonisasi RUU Penyiaran Inisiatif DPR,
Jakarta, 13 April 2017. Jakarta: Asosiasi Televisi Siaran Digital Indonesia (ATSDI).
Baker, C. E. (2006). Media Concentration and Democracy: Why Ownership Matters.
Cambridge University Press.
Budiman, A. (2018, September 14). Wawancara Terkait Pola Kebijakan Digitalisasi
Penyiaran di Indonesia. Narasumber merupakan Peneliti Komunikasi Politik Pusat
Penelitian Badan Kehalian Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.
http://bit.ly/ahmadbudiman.
Bungin, M. B. (2008). Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan
Ilmu Sosial lainnya. Jakarta: Kencana.
Darwis, Y. (2018, September 15). Wawancara Terkait Pola Kebijakan Digitalisasi Penyiaran
di Indonesia. Narasumber merupakan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
Pusat. http://bit.ly/yuliandredarwis.
94
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Dominick, J. R., Messere, F., Sherman, B. L., & Dominick, J. R. (2012). Broadcasting, cable,
the internet, and beyond: An introduction to modern electronic media. New York:
McGraw-Hill.
Doyle, G. (2002). Media ownership: The economics and politics of convergence and
concentration in the UK and European media. London ; Thousand Oaks [Calif.]:
SAGE.
Esti, C. (2018, September 17). Wawancara Terkait Pola Kebijakan Digitalisasi Penyiaran di
Indonesia. Narasumber merupakan Peneliti Centre for Innovation Policy and
Governance (CIPG). http://bit.ly/clara-leonardus1.
ITU. (2013). Roadmap for the transition from analogue to digital terrestrial television
broadcasting in the Republic of Indonesia. Retrieved from International
Tellecommunication Union website: https://www.itu.int/net4/ITU-
D/CDS/gq/generic/asp-reference/file_download.asp?FileID=4380
ITU. (2015). GE06 Agreement – The end of the transition period. Retrieved August 2, 2019,
from https://www.itu.int/en/ITU-R/terrestrial/broadcast/plans/Documents/GE06-
End%20of%20transition%20period_information%20document-
Final%2025082015.pdf
Kominfo RI. (2014). Keuntungan Penyiaran Digital. Retrieved from
ttps://tvdigital.kominfo.go.id/wp-content/uploads/2014/08/manfaat_penyiaran.pdf
Kominfo RI. (2018). Laporan Kinerja 2017. Retrieved from Kementerian Komunikasi dan
Informatika Republik Indonesia website:
https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/FINAL%20FA%20LAKIP%20KOMINF
O%202017.pdf
Kristianto Nugroho, L. (2018, September 17). Wawancara Terkait Pola Kebijakan
Digitalisasi Penyiaran di Indonesia. Narasumber merupakan Peneliti Centre for
Innovation Policy and Governance (CIPG). http://bit.ly/clara-leonardus2.
Munandar, E. (2018, September 16). Wawancara Terkait Pola Kebijakan Digitalisasi
Penyiaran di Indonesia. Narasumber merupakan Ketua Asosiasi Televisi Siaran
Digital Indonesia (ATSDI). http://bit.ly/erismunandar.
Nugroho, Y., Putri, D. A., & Laksmi, S. (2012). Memetakan Lanskap Industri Media
Kontemporer di Indonesia (Edisi Bahasa Indonesia). Laporan. Bermedia,
Memberdayakan Masyarakat: Memahami kebijakan dan tata kelola media di
Indonesia melalui kacamata hak warga negara. Jakarta: Riset kerjasama antara
Centre for Innovation Policy and Governance dan HIVOS Kantor Regional Asia
Tenggara, didanai oleh Ford Foundation.
Putra, G. A., Endroyono, E., & Kusrahardjo, G. (2015). Rancang Bangun Software Sistem
Monitoring TV Digital DVB-T2. Jurnal Teknik ITS, 4(1). Retrieved from
https://www.neliti.com/id/publications/190441/rancang-bangun-software-sistem-
monitoring-tv-digital-dvb-t2
Rianto, P. (2012a). Digitalisasi televisi di Indonesia: Ekonomi politik, peta persoalan, dan
rekomendasi kebijakan. Yogyakarta: PR2Media : Yayasan Tifa.
Rianto, P. (2012b). Dominasi Tv Swasta (’Nasional’), Tergerusnya Keberagaman Isi dan
Kepemilikan. Yogyakarta: PR2Media-Yayasan Tifa.
95
Jurnal Aristo (Social, Politic, Humaniora) Vol. 08, No.1 (2020): January, pp. xx-xx
Rianto, P., Yusuf, I. A., Zuhri, S., Faried Cahyono, Wahyono, B., Rahayu, … Masduki.
(2013). Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik. Retrieved
from https://issuu.com/tifafoundation/docs/position_paper_digitalisasi_tv
Satori, D., & Komariah, A. (2009). Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
setnas-asean.id. (2018). Komitmen ASEAN untuk Mendigitalisasi Penyiaran. Retrieved
August 15, 2019, from http://www.setnas-asean.id/siaran-pers/read/komitmen-asean-
untuk-mendigitalisasi-penyiaran
Shin, D.-H., & Song, H.-R. (2012). The switchover to digital broadcasting in Korea.
Technological Forecasting and Social Change, 79(8), 1447–1461.
https://doi.org/10.1016/j.techfore.2012.04.017
Siregar, A. E. (2008). Melawan dan Mencegah Monopoli serta Membangun
Keanekaragaman. Jurnal Sosial Demokrasi, 3(1).
Suyanto, B. (2005). Metodelogi Penelitian Sosial, Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta:
Prenada Media.
Syaharuddin, S. (2018, September 13). Wawancara Terkait Pola Kebijakan Digitalisasi
Penyiaran di Indonesia. Narasumber merupakan Kasubdit Iklim Usaha dan
Kelayakan Teknologi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
http://bit.ly/syaharuddin.
TVDigital.id. (2018). Efisiensi spektrum. Retrieved January 20, 2019, from TVDigital.id
website: http://tvdigital.id/efisiensi-spektrum/
96