3289-Article Text-10009-1-10-20210916 PDF

Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
You are on page 1of 19

JIM (Jurnal Ilmiah Mahasiswa) Volume 3, Nomor 1, April 2021

P-ISSN 2797-7064
E-ISSN 2797-6920

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Net Operating Margin


Pada BRI Syariah Periode Maret 2011-Maret 2019

Zikri1, Early Ridho Kismawadi2, Khairatun Hisan3


1IAIN Langsa, zikrilgs80@gmail.com
2IAIN Langsa, kismawadi@iainlangsa.ac.id
3IAIN Langsa, hisankhaira@gmail.com

ABSTRACT
The independent variables in this study are operational expenses and operating income (BOPO),
Financing To Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), and capital adequacy ratio
(CAR). This study aims to determine and analyze operational expenses and operating income
(BOPO), Financing To Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), and capital
adequacy ratio (CAR) to Net operating margin (NOM) on BRI Syariah. In this study using secondary
data. The data used in the form of published bank financial statements obtained from the Bank
Indonesia website. The bank financial statements used are quarterly financial reports on BRI
Syariah Indonesia. The analytical tool used is the classical assumption method using multiple linear
regression analysis, coefficient of determination, F test or simultaneous test and t test or partial
test. The hypothesis in this study is the test results of the SPSS variable BOPO (X1) 3,280 and the
sig value is 0.003 <0.05, therefore it can be concluded that Ho is rejected and Ha is accepted, ie
the BOPO variable significantly influences the NOM (Y) on BRI Syariah Indonesia, while the FDR
(X2) variable is 1.562 and the sig value is 0.130> 0.05, so it can be concluded that Ho is accepted
and Ha is rejected, ie the FDR variable has no significant effect on NOM (Y) on BRI Syariah
Indonesia. For the NPF variable (X3) 1.583 and the sig value of 0.125> 0.05, it can be concluded
that Ho is accepted and Ha is rejected, ie the NPF variable has no effect and the CAR variable (X4)
is 1,650 and the sig value is 0.110> 0, 05, therefore it can be concluded that Ho is accepted and
Ha is rejected, namely the CAR variable does not significantly influence the NOM (Y) of BRI Syariah
Indonesia. While simultaneously the independent variable can be seen that the calculated F value
is 5.610 and the sig value. 0.002 <0.05, therefore it can be concluded that Ho is rejected and Ha is
accepted, namely the BOPO, FDR, NPF, and CAR variables jointly have a significant effect on
NOM (Y) in BRI Syariah Indonesia.
Keyword: BOPO, FDR, NPF, CAR, NOM

ABSTRAK
Variabel independen dalam penelitian ini adalah Beban operasional dan pendapatan operasional
(BOPO), Financing To Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), dan capital
adequacy ratio (CAR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis adalah Beban
operasional dan pendapatan operasional (BOPO), Financing To Deposit Ratio (FDR), Non
Performing Financing (NPF), dan capital adequacy ratio (CAR) terhadap Net operating margin
(NOM) pada BRI Syariah. Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data yang digunakan
berupa Laporan Keuangan bank yang dipublikasikan yang didapatkan dari website Bank
Indonesia. Laporan keuangan bank yang digunakan adalah laporan keuangan triwulan pada BRI
Syariah Indonesia. Alat analisis yang digunakan adalah dengan metode asumsi klasik
menggunakan analisis regresi linier berganda, koefisiensi determinasi, uji F atau uji simultan dan
uji t atau uji parsial. Hipotesis dalam penelitian ini adalah Hasil pengujian dari SPSS variabel BOPO

1
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

(X1) 3,280 dan nilai sig.nya 0,003 < 0,05, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan
Ha diterima, yaitu variabel BOPO berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y) pada BRI
Syariah Indonesia, sedangkan variabel FDR (X2) 1,562 dan nilai sig.nya 0,130 > 0,05, maka dari
itu dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak, yaitu variabel FDR tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap NOM (Y) pada BRI Syariah Indonesia. Untuk variabel NPF (X3) 1,583
dan nilai sig.nya 0,125 > 0,05, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak,
yaitu variabel NPF tidak berpengaruh dan variabel CAR (X4) 1,650 dan nilai sig.nya 0,110 > 0,05,
maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak, yaitu variabel CAR tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y) pada BRI Syariah Indonesia.Sedangkan secara
simultan variabel independen dapat dilihat bahwa nilai F hitung sebesar 5,610 dan nilai sig. 0,002
< 0,05, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yaitu variabel BOPO,
FDR, NPF, dan CAR secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y)
pada BRI Syariah Indonesia.

Kata Kunci: BOPO, FDR, NPF, CAR, NOM

PENDAHULUAN
Pada tahun 1992, dunia perbankan di Indonesia sudah mampu membuka wajah baru dengan
berdirnya perbankan yang berbasisi syariah, yaitu Bank Muamalah Indonesia sebagai perbankan
syariah pertama di Indonesia. Sebagai salah satu bentuk dari perbankan nasional, bank syariah
mendasarkan kegiatan operasionalnya pada syariat Islam. Dalam Undang-Undang No. 21 tahun
2008 tentang perbankan syariah pasal 1, disebutkan bahwa perbankan syariah adalah segala
sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan,
kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Bank syariah
dikembangkan sebagai lembaga bisnis keuangan yang melaksanakan kegiatan usahanya sejalan
dengan prinsip-prinsip dasar dalam ekonomi Islam yang tidak hanya berfokus pada tujuan
komersial tetapi juga mempertimbangkan perannya dalam memberikan kesejahteraan secara luas
bagi masyarakat (Andriyanto, 2018).

Salah satu dari bentuk perbankan syariah di Indonesia adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Syariah. BRI Syariah adalah salah satu bentuk perbankan syariah yang berperan sebagai lembaga
intermediasi yang setiap kegiatannya berlandaskan prinsip-prinsip Syariah (Kasmir, 2008). Setelah
mendapatkan izin dari Bank Indonesia pada 16 Oktober 2008 melalui suratnya
o.10/67/KEP/GBI/DpG/2008, maka pada tanggal 17 November 2008 PT Bank BRI Syariah secara
resmi beroperasi, kemudian PT. BRI Syariah menjalankan kegiatan perbankan berdasarkan prinsip
syariah. Sebagai suatu badan usaha yang menjalankan bisnis, tentunya BRI Syariah memiliki
tujuan untuk menghasilkan keuntungan atau profit melalui pembiayaan yang disalurkan.

2 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

Dalam menjalankan operasionalnya, BRI Syariah harus menjaga rasio-rasio keuangan supaya
berada pada posisi yang aman. Penilaian tingkat kesehatan bank diatur berdasarkan UU No. 7
tahun 1992 pasal 29 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 tahun 1998 tentang perbankan,
bahwa bank wajib memelihara tingkat kesehatannya sesuai dengan ketentuan kucukupan modal,
kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas, serta aspek lain yang
berkaitan dengan usaha bank dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-
hatian (BI, 2011).

Selain itu, tingkat efisiensi bank juga memiliki pengaruh terhadap profitabilitas/rentabilitas bank.
Tingginya efisiensi operasional suatu bank ditunjukkan oleh rendahnya biaya operasinalnya. Biaya
operasional yang rendah akan meningkatkan peluang bank memperoleh keuntungan. Oleh sebab
itu, tingginya efisiensi operasional yang dimiliki suatu Bank Syariah maka akan semakin tinggi pula
kemampuan dalam meningkatkan laba (Haq, 2015). Adapun rasio utama yang digunakan untuk
mengukur kemampuan aktiva produktif dalam menghasilkan laba adalah rasio NOM (Net
Operating Margin). Semakin besar rasio NOM, maka menunjukkan bahwa semakin besar pula
keuntungan yang diperolah oleh bank atas aktiva produktifnya. Begitu pula sebaliknya, semakin
kecil rasio NOM, maka menunjukkan bahwa semakin kecil pula keuntungan yang diperolah oleh
bank atas aktiva produktifnya. Hal inilah yang dialami oleh BRI Syariah, dimana perkembangan
rasio NOM dari setiap periode mengalami fluktuasi yang cenderung mengalami penurunan.

10
8
6
4
2
0
-2

NOM (%)

Gambar 1. Grafik Rasio NOM Pada BRI Syariah


(Sumber: OJK)

Dari grafik diatas dapat kita liat bahwa rasio NOM mengalami fluktuasi. Walaupun demikian, rasio
NOM dari periode Maret 2011-Sesember 2014 sangat baik, dikarenakan rasio NOM berada di atas
3%, yang artinya berada pada peringkat pertama yaitu bank sangat sehat. Akan tetapi dari periode
Maret 2015-Maret 2019, rasio NOM sangat buruk, karena di bawah 1%, yang artinya berada pada

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 3
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

peringkat lima yaitu bank sangat buruk Seharusnya BRI Syariah harus tetap mempertahankan
rasio NOM tetap berada di atas 3% agar biasa memperoleh pedapatan yang baik (BI, 2007).
Rendahnya rasio Nom tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya yaitu Beban
Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO), Financing to Deposit Ratio (FDR), Non
Performing Financing (NPF), dan Capital Adequacy Ratio (CAR).

BOPO adalah rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional, dengan tujuan untuk
mengetahui seberapa besar kemampuan bank dalam mengelola beban operasional agar tidak
membengkak. Semakin kecil rasio BOPO maka menunjukkan bahwa semakin efisien suatu bank
dalam mengelola beban operasionalnya. Begitu pula sebaliknya, semakin besar rasio BOPO maka
menunjukkan bahwa bank tidak bias mengelola beban operasionalnya dengan baik. Akan tetapi
yang terjadi di BRI Syariah tidak demikian, disaat persentase rasio BOPO semakin besar,
persentase rasio NOM juga mengalami peningkatan. Seperti yang terjadi pada periode September
2017, rasio BOPO sebesar 92.19% yaitu berada pada peringkat kelima yang artinya BRI Syariah
tidak sehat. Disaat BRI Syariah mengalami kondisi seperti itu, seharusnya akan mempengaruhi
penurunan tingkat keuntungan bank, akan tetapi nyatanya tidak demikian. Pada periode
September 2017 BRI Syariah tetap memperoleh keuntungan yang besar, hal tersebut dapat dilihat
dari rasio NOM yang sebesar 4.02% yang berada pada peringkat pertama yaitu bank sangat sehat,
hal ini menunjukkan bahwa BRI Syariah sangat baik dalam mengelola aktiva produktifnya dalam
menghasilkan keuntugan.

FDR merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan
dibandingkan dengan jumlah dana pihak ketiga dan modal sendiri yang digunakan. FDR digunakan
sebagai tolak ukur untuk melihat sejauh mana pembiayaan yang disalurkan dapat mengimbangi
kewajiban jangka pendek terhadap nasabah yaitu penarikan dana oleh masyarakat. Hubungan
antara rasio FDR dengan NOM, semakin kecil rasio FDR akan semakin bagus untuk kesehatan
bank dalam menjaga likuiditasnya, akan tetapi akan membuat banyaknya dana yang menganggur.
Yang artinya, semakin kecil rasio FDR akan membuat semakin kecil pula tingkat keuntungan,
walaupun hal demikian akan membut bank sangat sehat. Begitu pula sebalikya, semakin besar
rasio FDR akan membuat semakin besar pula tingkat keuntungan yang diperoleh, walaupun akan
membuat bank berada pada posisi tidak sehat karena tidak bias menjaga kewajiban jangka
pendek. Akan tetapi yang terjadi di BRI Syariah tidak demikian, adakala disaat rasio FDR
mengalami penurunan, rasio NOM mengalami peningkatan. Seperti pada periode Juni 2017-
September 2017, rasio FDR pada periode Juni 2017 sebesar 76.79% dan mengalami penurunan

4 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

pada periode September 2017 menjadi 73.12%, akan tetapi rasio NOM mengalami peningkatan
dari 0.25% menjadi 4.02%. hal ini menunjukkan bahwa disaat rasio FDR mengalami peningkatan
atau penurunan, maka rasio NOM belum tentu juga mengalami peningkatan atau penurunan.

NPF mencerminkan risiko pembiayaan, semakin tinggi rasio ini menunjukkan kualitas pembiayaan
bank syariah semakin buruk. Risiko pembiayaan yang diterima bank merupakan salah satu risiko
utama bank, yang diakibatkan dari tidak dilunasinya kembali cicilan pokok dan bagi hasil dari
pinjaman yang diberikan atau investasi yang sedang dilakukan oleh pihak bank. Hubungan rasio
NPF dengan NOM yaitu, semakin besar rasio NPF akan membuat semakin kecil rasio NOM, hal
tersebut dikarenakan semakin banyak nasabah yang menunggak akan mempengaruhi penurunan
tingkat keuntungan suatu bank. Begitu pula sebaliknya semakin kecil rasio NPF akan membuat
semakin besar rasio NOM. Akan tetapi yang terjadi di BRI Syariah tidak demikian, disaat rasio NPF
berada pada tingkat yang rendah, rasio NOM juga ikut mengalami penurunan, hal tersebut tidak
sesuai dengan kenyataan. Seperti yang terjadi pada periode Juni 2018, rasio NPF sebesar 0.92%
berada dibawah nilai maksimumnya yaitu 2%, seharusnya rasio NOM mengalami peningkatan
dikarenakan sedikitnya nasabah yang menunggak. Akan tetapi rasio NOM mengalami penurunan
yaitu sebasar 0.42% berada jauh di bawah nilai minimumnya yaitu 3%, hal tersebut tidak sesuai
dengan kenyataan.

CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung
aktiva risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana
modal sendiri bank disamping memperoleh dana-dana dari sumber diluar bank, seperti dana
masyarakat, pinjaman (utang), dan lain sebagainya. Hubungan rasio CAR dengan NOM yaitu,
semakin besar rasio CAR maka akan membuat semakin besar pula rasio NOM nya. Hal tersebut
dikarenakan disaat rasio CAR semakin besar, maka akan mampu untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya pembiayaan bermasalah yang akan berdampak pada peningkatan
keuntungan. Akan tetapi yang terjadi di BRI Syariah tidak demikian, adakalanya disaat rasio CAR
semakin meningkat, rasio NOM mengalami penurunan. Seperti yang terjadi pada periode Maret
2019, rasio CAR sebesar 27.82% berada di atas nilai minimunya yaitu 12%, akan tetapi rasio NOM
mengalami penurunan yaitu sebesar 0.97% jauh di bawah nilai minimumnya yaitu 3%. Hal ini
menunjukkan bahwa walaupun rasio CAR sudah sangat bagus dalam mengantisipasi
kemungkinan terjadinya risiko terhadap aktiva produktif, akan tetapi bisa juga terjadi penurunan
terhadap rasio NOM.

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 5
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

LANDASAN TEORI
Net Operating Margin
Net Operating Margin (NOM) merupakan rasio utama Rentabilitas pada bank syariah untuk
mengetahui kemampuan aktiva produktif dalam menghasilkan laba (Ihsan, 2013). Net Operating
Margin juga dapat diartikan rasio rentabilitas untuk mengetahui kemampuan aktiva produktif dalam
menghasilkan laba melalui perbandingan pendapatan operasional dan beban operasional dengan
rata-rata aktiva produktif.

Net Operating Margin dapat dilihat dari dua perspektif. Jika dilihat dari perspektif pertama yaitu dari
sisi sifat kompetitif bank dan sisi rentabilitas, margin yang kecil mengindikasikan sistem perbankan
yang kompetitif dengan biaya intermediasi yang rendah, namun disisi rentabilitas margin yang
tinggi menggambarkan stabilitas dari sistem perbankan ini dilatar belakangi bank yang dapat
menambahkan margin yang tinggi ke dalam rentabilitas dan modal sehingga dapat melindungi dari
resiko. Namun jika dilihat dari perspektif kedua yaitu dari sifat efisiensi bank, margin yang lebih
tinggi biasanya mengindikasikan rendahnya efisiensi sektor perbankan, ditandai dengan biaya
yang tinggi karena ketidak efisienan perbankan dengan rendahnya investasi dan rendahnya
aktivitas ekonomi. Tingginya margin juga dapat mengindikasikan tingginya risiko karena kebijakan
yang tidak tepat dari sektor perbankan (Cahyo, 2013).

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia (2007), kriteria penilaian rasio NOM adalah
sebagai berikut:

1. Peringkat 1: NOM > 3%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki kinerja
keuangan yang sangat sehat.
2. Peringkat 2: 2% < NOM ≤ 3%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki kinerja
keuangan cukup sehat.
3. Peringkat 3: 1,5% < NOM ≤ 2%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang sehat.
4. Peringkat 4: 1% < NOM ≤ 1,5%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang kurang sehat.
5. Peringkat 5: NOM ≤ 1%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bankmemiliki kinerja
keuangan sangat tidak sehat.

6 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

Biaya Operasional Pendapatan Operasional


Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) yang bagus dicerminkan dari kemampuan
untuk mengelola profitabilitas aktivanya dengan biaya lebih rendah. Variabel ini diharapkan
memiliki hubungan positif dengan margin bank. Ini berarti semakin tinggi BOPO bank semakin
tinggi bank menetapkan marginnya. Rendahnya BOPO mencerminkan kualitas manajemen yang
tinggi pada bank. Semakin rendah rasio ini semakin bagus karena bank menghasilkan banyak
pendapatan operasional dari pengelolaan aktivanya dengan biaya operasional yang rendah.
Variabel ini dihitung dengan rasio antara biaya operasional dibagi pendapatan operasional (Cahyo,
2013).

Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam
melakukan kegiatan operasinya (Dendawijaya, 2009). Semakin rendah tingkat rasio BOPO berarti
semakin baik kinerja manajemen bank tersebut, karena lebih efisien dalam menggunakan sumber
daya yang ada di perusahaan.

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia (2007), kriteria penilaian rasio BOPO adalah sebagai
berikut:
1. Peringkat 1: BOPO ≤ 83%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki kinerja
keuangan yang sangat tinggi.
2. Peringkat 2: 83% < BOPO ≤ 85%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan tinggi.
3. Peringkat 3: 85% < BOPO ≤ 87%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan rendah.
4. Peringkat 4: 87% < BOPO ≤ 89%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang cukup rendah.
5. Peringkat 5: BOPO > 89%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bankmemiliki kinerja
keuangan sangat rendah.

Financing to Depoit Ratio


Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah menunjukkan kesehatan bank dalam memberikan
pembiayan (Muhammad dan Suwiknyo, 2009). Rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) dapat
digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas pembiayaan yang disalurkan, sehingga apabila rasio
Financing to Deposit Ratio (FDR) meningkat maka laba bank juga akan meningkat dengan asumsi
bahwa bank dapat menyalurkan pembiayaan secara efektif (Widyaningrum, 2015). Financing to

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 7
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

Deposit Ratio (FDR) adalah perbandingan antara total kredit yang diberikan dengan total Dana
Pihak Ketiga (DPK) yang dapat dihimpun oleh bank yang bersangkutan (Wityasari, 2014).

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia (2007), kriteria penilaian rasio BOPO adalah sebagai
berikut:

1. Peringkat 1: 50% < FDR ≤ 75%, yaitu kemampuan likuiditas bank untuk mengantifikasi
kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas sangat kuat
2. Peringkat 2: 75% < FDR ≤ 85%, yaitu kemampuan likuiditas bank untuk mengantifikasi
kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas kuat.
3. Peringkat 3: 85% < FDR ≤ 100%, yaitu kemampuan likuiditas bank untuk mengantifikasi
kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas memadai.
4. Peringkat 4: 100% < FDR ≤ 120%, yaitu kemampuan likuiditas bank untuk mengantifikasi
kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas lemah.
5. Peringkat 5: FDR > 120%, yaitu kemampuan likuiditas bank untuk mengantifikasi
kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas sangat lemah.

Non Performing Financing


Non Performing Financing (NPF) adalah pembiayaan bermasalah dimana pembayaran kembalinya
dalam bahaya, terutama apabila sumber-sumber pembayaran kembali yang diharapkan
diperkirakan tidak cukup untuk membayar kembali kredit sehingga belum mencapai atau
memenuhi target yang diinginkan oleh bank (Cokrohadisumarto, dkk, 2016). Dengan
meningkatnya pembiayaan bermasalah bagi perbankan secara tidak langsung akan menghambat
terbentuknya pendapatan yang akan diterima dan akan mengganggu kegiatan operasional
perbankan. Hal ini juga akan berimbas pada beban pencadangan piutang aktiva produktif, karena
beban pencadangan piutang aktiva produktif pun akan meningkat seiring dengan meningkatnya
pembiayaan bermasalah, sehingga laba yang diterima bank akan berkurang. Selain itu tingginya
tingkat NPF juga dapat mempengaruhi tingkat reputasi bank tersebut (Mada, 2015).

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia (2007), kriteria penilaian rasio BOPO adalah sebagai
berikut:

1. Peringkat 1: NPF ≤ 7%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki kinerja
keuangan yang sangat baik.

8 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

2. Peringkat 2: 7% < NPF ≤ 10%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang baik.
3. Peringkat 3: 10% < NPF ≤ 13%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang cukup baik.
4. Peringkat 4: 13% < NPF ≤ 16%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang kurang baik.
5. Peringkat 5: NPF > 16%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki kinerja
keuangan yang tidak baik.

Capital Adequacy Ratio


Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank
dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha serta menampung kemungkinan
resiko kerugian yang diakibatkan oleh operasional bank (Nasution, 2017). Menurut peraturan Bank
Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 pasal 2 ayat 1 tercantum bank wajib menyediakan modal
minimum sebesar 8% dari aset tertimbang menurut resiko (ATMR). CAR adalah rasio yang
memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit,
penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai sendiri disamping memperoleh
dana-dana dari sumber-sumber lain.

Penetapan CAR pada titik tertentu bertujuan agar bank memiliki kemampuan modal yang cukup
untuk meredam kemungkinan timbulnya resiko sebagai akibat dari berkembangnya ekspansi aset
terutama aktiva yang dikategorikan dapat menghasilkan hasil sekaligus mengandung resiko yang
tidak diimbangi dengan penambahan modal menurunkan kesempatan bank untuk berinvestasi dan
menurunkan kepercayaan masyarkat sehingga berpengaruh pada penurunan rentabilitas
(Wedaningtyas, 2002). Semakin tinggi CAR maka kondisi bank akan semakin baik. Jika nilai CAR
tinggi berarti bank tersebut mampu membiayai operasi bank, dan dapat melindungi deposan
sehingga memberikan dampak meningkatnya kepercayaan masyarkat terhadap bank.

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia (2007), kriteria penilaian rasio BOPO adalah sebagai
berikut:

1. Peringkat 1: N KPMM ≥ 12%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki kinerja
keuangan yang jauh lehih tinggi dari ketentuan.

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 9
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

2. Peringkat 2: 9% ≤ KPMM < 12%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang lebih tinggi dari ketentuan.
3. Peringkat 3: 8% ≤ KPMM < 9%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang sedikit lebih tinggi dari ketentuan.
4. Peringkat 4: 6% < KPMM 8 12%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki
kinerja keuangan yang lebih rendah dari ketentuan.
5. Peringkat 5: KPMM ≤ 6%, yaitu mencerminkan bahwa kondisi Bank memiliki kinerja
keuangan yang jauh lebih rendah dari ketentuan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam bentuk data rasio yaitu data yang diukur
dengan suatu proporsi (Kuncoro, 2007). Data dikumpulkan berdasarkan pada data runtut waktu
(time series). Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksplanatif. Penelitian eksplanatif
atau penelitian yang menemukan penjelasan mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi (Prasetyo
dan Jannah, 2005).

Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah BRI Syariah Indonesia periode Maret 2011-
Maret 2019. Digunakannya BRI Syariah Periode Maret 2011-Maret 2019 sebagai sampel. BRI
Syariah Periode Maret 2011-Maret 2019 telah dianggap sebagai bank yang murni menggunakan
transaksi berprinsip syariah oleh Bank Indonesia.

Pada penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif menggunakan teknik
perhitungan statistik dengan bantuan program Microsoft excel dan program IBM SPSS versi 20.
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antar variabel dan
juga untuk menunjukkan arah hubungan antar variabel dependen dengan variabel independen.
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat (Ghozali, 2006). Adapun model matematikanya sebagai berikut:

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e
Keterangan:
Y = NOM
Α = Konstanta
β1 – β4= Koefisien regresi
X1 = BOPO

10 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

X2 = FDR
X3 = NPF
X4 = CAR
e = Residual atau predietion error

HASIL DAN PEMBAHASAN


Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui dan menguji kelayakan atas model regresi yang
digunakan serta untuk memastikan bahwa regresi tidak terdapat multikolinieritas dan
heteroskedastisitas, selain itu juga digunakan untuk memastikan bahwa data yang dihasilkan
berdistribusi secara normal, oleh karena itu uji asumsi klasik perlu dilakukan.

Uji Normalitas
Pengujian normalitas data dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi, variable dependen
dan independennya memiliki distribusi normal atau tidak. Jika data menyebar di sekitar garis
diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 2. Hasil Uji Normalitas


Berdasarkan tampilan normal P-P Plot Regression standardized terlihat bahwa titik-titik menyebar
di sekitar garis diagonal. Oleh karena itu berdasarkan uji normalitas, analisis layak digunakan
meskipun terdapat sedikit plot yang menyimpang dari garis diagonal.

Uji Multikolinieritas
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tiap-tiap variabel saling berhubungan secara
linier. Uji multikolinearitas dapat di lihat dari variance inflation faktor (VIF) dan nilai tolerance.
Multikolinearitas terjadi jika nilai tolerance <0.10 atau sama dengan VIF >10. Jika nilai VIF tidak
ada yang melebihi 10, maka dapat dikatakan bahwa multikolinearitas yang terjadi tidak berbahaya
(lolos uji multikolinearitas).

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 11
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

Tabel 1. Hasil Uji Multikolinieritas


Coefficientsa
Model Unstandardized Standardized Collinearity Statistics
Coefficients Coefficients
B Std. Error Beta Tolerance VIF
(Constant) 8.328 3.774
BOPO (X1) -.042 .013 -.475 .944 1.060
1 FDR (X2) .040 .026 .228 .934 1.071
NPF (X3) -.802 .507 -.232 .926 1.079
CAR (X4) -.127 .077 -.248 .876 1.142
a. Dependent Variable: NOM (Y)

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa nilai VIF variabel BOPO sebesar 1.060, variabel FDR
sebesar 1.071, variabel NPF sebesar 1.079, dan variabel CAR sebesar 1.142, yang berarti bahwa
semua variabel bebas yang diamati memiliki nilai VIF lebih kecil dari 10, sehingga tidak terjadi
multikolinearitas dalam variabel independen penelitian ini.

Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara
kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1
(sebelumnya).
Tabel 2. Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of


Model R R Square Durbin- Watson
Square the Estimate

1 .667a .445 .366 2.771 .884

a. Predictors: (Constant), CAR (X4), FDR (X2), BOPO (X1), NPF (X3)
b. Dependent Variable: NOM (Y)

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai Durbin Watson sebesar 0,884 yang berarti nilai Durbin
Watson berada diantara -2 sampai +2, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi pada
penelitian ini.

Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan
variabel dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain. Uji heteroskedastisitas dalam
penelitian ini menggunakan uji Scatter plot. Suatu model dinyatakan tidak terjadi masalah

12 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

heteroskedastisitas apabila titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas di atas dan di bawah
angka 0 pada suatu sumbu Y.

Gambar 3. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Berdasarkan tampilan pada gambar terlihat bahwa plot menyebar secara acak di atas maupun
dibawah angka nol pada sumbu regreesion standardized predicted value. Oleh karena itu maka
berdasarkan uji heteroskedastisitas pada model regres yang membentuk dinyataan tidak terjadi
gejala hereroskedastisitas.

Analisis Regresi Linier Berganda


Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antar variabel dan
juga untuk menunjukkan arah hubungan antar variabel dependen dengan variabel independen.
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat.
Tabel 3. Persamaan Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients
B Std. Error Beta
(Constant) 8.328 3.774
BOPO (X1) -.042 .013 -.475
1 FDR (X2) .040 .026 .228
NPF (X3) -.802 .507 -.232
CAR (X4) -.127 .077 -.248

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4
Y = 8,328 – 0,042 X1 + 0,40 X2 – 0,802 X3 – 0,127 X4

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:


1. Nilai koefisien beta variabel BOPO (X1) sebesar -0,042, jika nilai variabel lain konstan

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 13
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

dan variabel X1 mengalami peningkatan satu satuan, maka variabel NOM (Y) akan
mengalami penurunan sebesar 4,2%.
2. Nilai koefisien beta variabel FDR (X2) sebesar 0,040, jika nilai variabel lain konstan dan
variabel X2 mengalami peningkatan satu satuan, maka variabel NOM (Y) akan
mengalami peningkatan sebesar 4%.
3. Nilai koefisien beta variabel NPF (X3) sebesar -0,802, jika nilai variabel lain konstan
dan variabel X3 mengalami peningkatan satu satuan, maka variabel NOM (Y) akan
mengalami penurunan sebesar 80%.
4. Nilai koefisien beta variabel CAR (X4) sebesar -0,127, jika nilai variabel lain konstan
dan variabel X4 mengalami peningkatan satu satuan, maka variabel NOM (Y) akan
mengalami penurunan sebesar 12,7%.

Koefisien Determinasi (R2)


Koefisien Determinasi (R2) pada intinya digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Tabel 4. Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summary

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the


Square Estimate

1 .667a .445 .366 2.771

a. Predictors: (Constant), CAR (X4), FDR (X2), BOPO (X1), NPF (X3)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0,366. Dalam hal ini variabel
independen mampu menjelaskan variabel dependen sebesar 36,6% sedangkan sisanya 63,4 %
dipengaruhi oleh variabel lain seperti modal, aktiva produktif, DPK dan variabel lainnya yang tidak
digunakan dalam penelitian ini.

Uji Parsial (Uji t)


Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (independen) secara parsial terhadap
variabel terikat (dependen). Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan perbandingan nilai t
hitung masing-masing koefisien regresi dengan nilai ttabel (nilai kritis) sesuai dengan signifikan
yang digunakan.

14 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

Tabel 5. Hasil Uji t


Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.
Coefficients
B Std. Error Beta
(Constant) 8.328 3.774 2.206 .036
BOPO (X1) -.042 .013 -.475 -3.280 .003
1 FDR (X2) .040 .026 .228 1.562 .130
NPF (X3) -.802 .507 -.232 -1.583 .125
CAR (X4) -.127 .077 -.248 -1.650 .110
a. Dependent Variable: NOM (Y)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai t hitung variabel BOPO (X1) 3,280 dan nilai
sig.nya 0,003 < 0,05, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yaitu
variabel BOPO berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y). Nilai t hitung variabel FDR (X2)
1,562 dan nilai sig.nya 0,130 > 0,05, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha
ditolak, yaitu variabel FDR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y). Nilai t hitung
variabel NPF (X3) 1,583 dan nilai sig.nya 0,125 > 0,05, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Ho
diterima dan Ha ditolak, yaitu variabel NPF tidak berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y).
Nilai t hitung variabel CAR (X4) 1,650 dan nilai sig.nya 0,110 > 0,05, maka dari itu dapat
disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak, yaitu variabel CAR tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap NOM (Y).

Uji Simultan (Uji F)


Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (independen) secara simultan
terhadap variabel terikat (dependen). Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan
perbandingan nilai F hitung lebih besar dai F tabel atau nilai ttabel (nilai kritis) lebih kecil dari 0,05.
Tabel 6. Hasil Perhitungan Uji F
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Regression 172.327 4 43.082 5.610 .002b
1 Residual 215.007 28 7.679
Total 387.333 32
b. Dependent Variable: NOM (Y)
c. Predictors: (Constant), CAR (X4), FDR (X2), BOPO (X1), NPF (X3)

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai F hitung sebesar 5,610 dan nilai sig. 0,002 < 0,05, maka
dari itu dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yaitu variabel BOPO, FDR, NPF,
dan CAR secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y).

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 15
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

Interpretasi Hasil Penelitian


Variabel BOPO berpengaruh signifikan terhadap NOM
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel BOPO berpengaruh negatif terhadap rasio NOM di
BRI Syariah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio BOPO maka rasio NOM akan
semakin menurun, begitu pula sebaliknya. Rasio BOPO yang bagus itu yaitu lebih kecil dari 83%,
sedangkan rasio NOM yang bagus itu yaitu lebih besar dari 3%. Makanya dari itu, hubungan antara
rasio BOPO dan rasio NOM yaitu hubungan negatif. Suatu lembaga keuangan seperti BRI Syariah
pasti akan menekankan dan mengoptimalkan operasionalnya untuk dapat mendapatkan rasio
BOPO yang kecil, dengan demikian BRI Syariah akan mendapatkan keuntungan yang tinggi atau
rasio NOM yang tinggi. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Fiawati
(2017) dan Nasution (2017), dimana BOPO berpengaruh terhadap NOM.
Variabel FDR tidak berpengaruh terhadap NOM
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel FDR tidak berpengaruh terhadap rasio NOM di BRI
Syariah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi atau semakin rendah rasio FDR maka rasio
NOM tetap konstan atau tidak mengalami peningkatan atau penurunan. Hal tersebut dikarenakan
oleh beberapa faktor seperti faktor internal bank dan faktor eksternal bank. Faktor internal bisa
terjadi karena kesalahan bank dalam menganalisis calon nasabah yang layak untuk diberikan
pembiayaan, sehingga menyebabkan pembiayaan bermasalah. Maka dari itu pembiayaan yang
disalurkan tidak berpengaruh terhadap pendapatan atau keuntungan BRI Syariah. Sedangkan
faktor eskternal seperti faktor ekonomi makro, tingkat inflasi, kurs, dan lain sebagainya yang dapat
mempengaruhi usaha nasabah yang diberikan pembiayaan tidak berjalan dengan baik dan tidak
mendapatkan profit. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Fiawati (2017) dan Nasution (2017), dimana FDR berpengaruh terhadap NOM.

Variabel NPF tidak berpengaruh terhadap NOM


Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel NPF tidak berpengaruh terhadap rasio NOM di BRI
Syariah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi atau semakin rendah rasio NPF maka rasio
NOM tetap konstan atau tidak mengalami peningkatan atau penurunan. Hasil penelitian ini
didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Chasanah (2016), dimana kredit macet/pembiayaan
bermasalah tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Hal tersebut dikarenakan
sumber pendapatan BRI Syariah bukan hanya berasal dari pembiayaan yang disalurkan, akan
tetapi ada sumber lain yaitu BRI Syariah mengandalkan kerja sama yang telah dijalin dengan

16 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

sejumlah institusi untuk menggenjot pendapatan operasional non-bagi hasil atau fee based
income (FBI). selama ini pendapatan komisi perusahaannya banyak berasal dari transaksi di
berbagai layanan elektronik, serta pembukaan tabungan dan giro. Selain itu, BRI Syariah juga
banyak mendapat FBI dari penyaluran gaji aparatus sipil negara, anggota TNI dan Polri.

Hingga September 2019 sudah ada 146 institusi yang menjalin kerja sama dengan BRI Syariah
untuk pembayaran gaji. Dari kerja sama itu, jumlah nasabah tabungan ini tumbuh 24,4% secara
tahunan (year-on-year/yoy) di akhir Juni 2019. Pada periode yang sama BRI Syariah juga mampu
meningkatkan pendapatan komisi sebesar 46,74% yoy. Kenaikan ini di atas angka rata-rata industri
pada periode yang sama. BRI Syariah akan mengembangkan ekosistem digital untuk
meningkatkan pendapatan komisi, seperti pembayaran zakat, isi ulang uang elektronik, serta isi
ulang layanan pembayaran digital. Untuk memfasilitasi kebutuhan nasabah, BRI Syariah Online
juga bisa digunakan untuk top up uang elektronik seperti Gopay, Ovo dan Paytren. Fitur seperti
ini akan dapat menaikkan fee based income (Rahadian, 2019).

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Fiawati (2017), dimana NPF
berpengaruh terhadap NOM. Rasio NPF merupakan suatu rasio yang digunakan untuk mengukur
tingkat pembiayaan bermasalah yang dihadapi oleh suatu lembaga keuangan syariah seperti BRI
Syariah, semakin tinggi rasio NPF membuktikan bahwa kinerja keuangan bank dilihat dari segi
rasio NPF tidak bagus karena banyak nasabah yang gagal dalam menunaikan kewajibannya
kepada bank. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil rasio NPF maka semakin sedikit pembiayaan
bermasalah yang dialami oleh bank yang berdampak pada tingkat keuntungan yang tinggi.

Variabel CAR tidak berpengaruh terhadap NOM


Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel CAR tidak berpengaruh terhadap rasio NOM di BRI
Syariah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi atau semakin rendah rasio CAR maka rasio
NOM tetap konstan atau tidak mengalami peningkatan atau penurunan. Hal tersebut dikarenakan
perhitungan rasio CAR yaitu perbandingan modal sendiri dengan asset tertimbang menurut risiko
(ATMR), tidak memasukkan dana pihak ketiga (DPK) dalam perhitungan rasionya. Sedangkan
sumber utama modal lembaga keuangan seperti BRI Syariah adalah pendanaan dari masyarakat.
Hal tersebut sesuai dengan fungsi bank yaitu sebagai lembaga intermediasi antara pihak surplus
yaitu kelebihan dana denga pihak defisit yaitu kekurangan dana. CAR adalah rasio yang
memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit,
penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai sendiri disamping memperoleh

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 17
JIM Vol. 3, No. 1, April 2021

dana-dana dari sumber-sumber lain. Semakin besar aktiva yang mengandung risiko, sedangkan
modal sendiri yang sedikit, maka akan membuat rasio CAR semakin kecil yang berarti kondisi bank
tidak sehat. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nasution
(2017), dimana CAR berpengaruh signifikan terhadap NOM.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan sebagai berikut: Variabel BOPO
berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y) pada BRI Syariah Indonesia. Variabel FDR tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y) pada BRI Syariah Indonesia. Variabel NPF tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y) pada BRI Syariah Indonesia. Variabel CAR tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap NOM (Y) pada BRI Syariah Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Andriyanto, Irsad. (2018). Pengaruh Rasio Kesehatan Bank Terhadap Volume Pembiayaan Bank
Umum Syariah di Indonesia’, Jurnal: Journal Of Islamic Banking And Finance, Vol. 2 No.1,
2654-8569.

Chayun, Heni Chasanah. (2016). Pengaruh Kredit Macet dan Penyaluran Kredit terhadap
Profitabilitas Perbankan (Studi Kasus pada PT. BRI. Tbk Kanca Blitar)”, (Skripsi, UIN
Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur, Indonesia).

Dendawijaya, Lukman. (2009). Manajemen Perbankan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Fiawati, Rani. (2017). Pengaruh Financing to Deposit Ratio (Fdr), Non Performing Financing (Npf),
Dan Return On Assets (Roa) Terhadap Net Operating Margin (Nom) Pada Bank Umum
Syariah Di Indonesia Periode 2014-2017”, (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Indonesia).

Ghozali, Imam. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Semarang: Badan
penerbit UNDIP.

Ihsan, Dwi Nura’ini. (2013). Analisis laporan keuangan perbankan Syariah. Jakarta: UIN Jakarta
Press.

Kasmir. (2008). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kholil, Ibrahim Nasution. (2017). Pengaruh Fdr, Car, Npf Dan Bopo Terhadap Net Operating Margin
(Nom) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (Bprs) Di Indonesia (Periode 2011-2016)”, (Skripsi,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia).

Kuncoro, Mudrajad dan Suhardjono. (2002). Manajemen Perbankan: Teori dan Aplikasi, BPFE,
Yogyakarta.

18 https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim
Zikri, dkk: Faktor-Faktor ang Mempengaruhi Net Operating Margin

Lampiran Surat Edaran No.9/29/Dpbs, Jakarta, 7 Desember 2007 Tentang Sistem Penilaian
Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah.

Mislan, Widiyanto Bin Cokrohadisumarto. Dkk. (2016). BMT Dan Praktek Dan Kasus. Jakarta:
Rajawali Pers.

Muhammad dan Suwiknyo, Dwi. (2009). Akuntansi Perbankan Syariah. Yogyaka: TrustMedia.

Nadia, Rr. Arini Haq. (2015). Pengaruh Pembiayaan dan Efisiensi Terhadap Profitabilitas Bank
Umum Syariah”, Perbanas Review, Vol. 1 No. 1.

Nur, Mufti Cahyo. (2013). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Margin Bank Umum Syariah”,
(Skripsi, Universitas Diponegoro Semarang, Indonesia).

Prasetyo, Bambang dan Jannah, Lina Miftahul. (2005). Metode Penelitian Kuantitatif Teori Dan
Aplikasi, Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Putra, Romo Mada. (2015). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Non Performing Loan (Npl)
Di Indonesia (Studi Pada Bank Umum Konvensional Yang Terdaftar Di Bank Indonesia
Tahun 2011-2014)”, (Skripsi, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia).

Rahadian, Lalu. (2019). BRI Syariah Andalkan Pihak Ketiga Untuk Menggali Pendapatan
Komisi. Bisnis.com.

Wedaningtyas, Hesti. (2002). Faktor yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Take Over Pramerger
Indonesia, Jurnal Manajemen Indonesia, Vol.1. No.2.

Widyaningrum, Linda. (2015). Pengaruh Car, Npf, Financing To Deposit Ratio , Dan Oer Terhadap
Roa Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Di Indonesia Periode Januari 2009 Hingga Mei
2014, Jurnal : Jestt Vol. 2 No. 12.

Wityasari, Meryta. (2014). Analisis Pengaruh Car, Dana Pihak Ketiga (Dpk), Npl, Dan Ldr Terhadap
Profitabilitas Perbankan Dengan Ldr Sebagai Variabel Intervening”,(Skripsi, Universitas
Diponegoro, Semarang, Indonesia).

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/jim 19

You might also like