0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan25 halaman

Propsal Mpls 1718

Unduh sebagai doc, pdf, atau txt
Unduh sebagai doc, pdf, atau txt
Unduh sebagai doc, pdf, atau txt
Anda di halaman 1/ 25

I.

PENDAHULUAN
1. Dasar Pemikiran Kegiatan
Pendidikan Nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia serta
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 bertujuan mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Serta
dilandasi oleh Permendikbud no 18 tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan
Sekolah bagi Siswa Baru.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut sekolah memiliki peranan
yang dominan. Sekolah sebagai suatu sistem yang terdiri dari unsur Kepala
Sekolah, guru, orangtua siswa, para siswa dan karyawan harus merupakan suatu
lembaga yang utuh dan solid dalam menyelenggarakan proses kegiatan belajar
mengajar.
Oleh karena itu dalam pengenalan dan pemahaman lingkungan pendidikan Sekolah
bagi siswa baru SMK Yadika Sumedang, maka perlu diselenggarakan Masa
Pengenalan Lingkungan Sekolah SMK Yadika Tanjungsari Sumedang Tahun
Pelajaran 2022/2023 sehingga peserta didik baru diharapkan dapat beradaptasi
dengan lingkungan fisik sosial dan norma-norma khusus di lingkungan SMK
Yadika Tanjungsari-Sumedang.

2. Tujuan Kegiatan
Secara umum kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah SMK Yadika
Sumedang Tahun Pelajaran 2023/2024 bertujuan memberikan kesan dan
pemahaman yang positif terhadap lingkungan pendidikan SMK sebagai siswa
baru. Sedangkan secara khusus, tujuan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan
Sekolah ini adalah :
1) Membantu siswa baru menyatu dengan warga sekolah, beradaptasi dengan
lingkungan sekolah agar mengetahui hak dan kewajiban serta mampu
bertanggung jawab dalam kehidupan sekolah.
2) Membantu siswa baru memahami kehidupan sekolah dalam rangka pengenalan
lingkungan sehingga fungsi seklolah, guru, siswa dan masyarakat lingkungan
dapat mendukung terwujudnya tujuan pendidikan secara menyeluruh.
3) Mengembangkan kreatifitas dan memberdayakan potensi siswa sesuai dengan
minat dan bakatnya.
II. BENTUK KEGIATAN
Bentuk kegiatan terdiri dari 1 kegiatan utama, yaitu Masa Pengenalan Lingkungan
Sekolah (MPLS), adapun jadwal kegiatan terlampir.
III. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Waktu Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan MPLS pada hari Senin s.d Jumat tanggal 17 s.d. 21 Juli 2023. Adapun
jadwal kegiatan terlampir.
2. Tempat Pelaksanaan Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah SMK
Yadika Tanjungsari-Sumedang di Kampus SMK Yadika Tanjungsari-Sumedang,
Jalan Raya Tanjungsari, Desa Gudang Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten
Sumedang-Jawa Barat

IV. MATERI DAN METODE PENYAJIAN


1. Materi Kegitan Masa Orientasi Peserta Didik
a. Materi Umum
- Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi tentang membangun peserta didik
yang berkarakter
b. Materi Pokok Meliputi :
1. Wawasan Wiyata Mandala
2. Kepramukaan
3. Kesadaran Hukum
4. Pendidikan Karakter
5. Tata Krama Siswa
6. Pengenalan Kurikulum
7. Pengenalan Lingkungan Sekolah/Muatan Lokal
8. Pengenalan Kegiatan Ekstrakurikuler
c. Materi penunjang meliputi
1. Upacara
2. Pembiasaan Beribadah.
2. Metode Penyajian Materi
a. Metode ceramah
b. Metode non ceramah antara lain metode diskusi Tanya jawab dinamika
kelompok/dialog

V. PESERTA KEGIATAN
Peserta kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah tahun pelajaran 2023/2024
adalah peserta didik baru kelas X SMK Yadika Tanjungsari-Sumedang diperkirakan
sebanyak 100 peserta.

VI. RENCANA ANGGARAN PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KEGIATAN


Rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran kegiatan Masa Pengenalan
Lingkungan Sekolah SMK Yadika Sumedang tahun pelajaran 2023/2024 (terlampir)

VII. PENUTUP
Demikian proposal Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah SMK Yadika
Tanjungsari-Sumedang tahun pelajaran 2023/2024 diajukan untuk mendapatkan
persetujuan dari Badan Pengurus Yayasan Abdi Karya (YADIKA)

Mengetahui, Tanjungsari, Juli 2023


Kepala SMK Yadika Tanjungsari Ketua Panitia,

Endi Rohendi, M.Pd Ary Yanuar Hakim S. Pd


NRKS : 19023L0550208241080409
Lampiran 1
SUSUNAN PANITIA MPLS SMK YADIKA SUMEDANG
TAHUN PELAJARAN 2023/2024

I. Kepanitiaan
Penanggung Jawab : Endi Rohendi, M. Pd (Kepala SMK YadikaTanjungsari)
Koordinator Kegiatan : Intan Purnamawati, SE.
Ketua Pelaksana : Ary Yanuar Hakim, S.Pd
Sekretaris : Indri Kurnia S.Pd.
Anggota : Ryan Adhitiawan
Kusnandar.
Teni Suparni, S.Pd
Bendahara : Emi Meliawati, A.Md
Pembantu Umum : Adi Nurdiansyah, S.Sos

II. Instruktur :
Waktu Narasumber/
No. Materi
(@ 60') Fasilitator
A. Umum
1. Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi tentang Endi Rohendi M, Pd
Membangun Peserta Didik yang Berkarakter (Kepala SMK Yadika)
B. Pokok
1. Wawasan Wiyata Mandala Endi Rohendi M, Pd
(Kepala SMK Yadika)
2. Kepramukaan Indri Kurnia, S.Pd.I
3. Kesadaran Hukum Femmy Kuspriandani,
S.Pd
4. Belajar Efetif Budi Endarto. S.Pd M.M
5. Pendidikan karakter Iis Rita Nawangsih, S.E
6. Tata Krama Siswa Iwan Faturrohman, S.Pd
7. Pengenalan Lingkungan Sekolah/Muatan Lokal Ary Yanuar Hakim, S.Pd
8. Pengenalan Kegiatan Ekstrakulikuler Ary Yanuar Hakim, S.Pd
C. Penunjang
1. Upacara Ary Yanuar Hakim, S.Pd
2. Pembiasaan Beribadah Indri Kurnia, S.Pd.I
Jumlah
Lampiran 2
Jadwal Pelaksanaaan Kegiatan
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

No Waktu Materi Pemateri/Fasilitator


Senin 17 Juli 2022
1 06.30 - 07.00 Persiapan Osis
2 07.00 – 08.00 Upacara Pembukaan Unit Yadika
3 08.00 – 09.00 Wawasan Wiyata Mandala Endi Rohendi, M.Pd
4 09.00 – 09.30 Pendidikan karakter Iis Rita Wnangsih, S.E S.Pd
5 09.30 – 10.30 Osis Osis
6 10.30 – 11.30 Istirahat
7 11.30 - 13.00 Sholat Dhuhur Berjamaah, Istirahat Osis & Guru
8 13.00 – 14.00 Kesadaran Hukum Femmy Kuspriandani, S.Pd
9 14.00 Pulang

Selasa 18 Juli 2022 Tata Krama Siswa Iwan Fathurohman. M.Pd


1 06.30 - 07.00 Persiapan Osis
2 07.00 – 08.00 Pengenalan Kurikulum Intan Purnamawati, S.E
3 08.00 – 09.00 Tata Krama Siswa Iwan Fathurohman. M.Pd
4 09.00 – 09.30 Belajar Efektif Budi Endarto, M.M
5 09.30 – 10.30 Istirahat
6 10.30 – 11.30 Osis Osis
7 11.30 - 13.00 Sholat Dhuhur Berjamaah, Istirahat Osis & Guru
8 13.00 – 14.00 Osis Osis
9 14.00 Pulang

Kamis 20 Juli 2022


1 06.30 - 07.00 Persiapan Osis
2 07.00 – 08.00 Kepramukaan Indri Kurnia, S.Pdi
3 08.00 – 09.00 Pengenalan Lingkungan Sekolah Ary Yanuar Hakim, S.Pd
4 09.00 – 09.30 Osis Osis
5 09.30 – 10.30 Istirahat
6 10.30 – 11.30 Pengenalan Kegiatan Ekstrakurikuler Pembina OSIS
7 11.30 - 13.00 Sholat Dhuhur Berjamaah, Istirahat Osis & Guru
8 13.00 - 14.00 Upacara Penutupan Indri Kurnia, S.Pdi
Jumat 21 Juli 2023
1 08.00 – 10.00 Pengenalan Kegiatan Ekstrakulikuler Ary Yanuar Hakim, S.Pd
Lampiran 3.

TATA TERTIB
MASA PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH SMA/SMK/MA TAHUN 2018

1. Hadir 10 (sepuluh) menit sebelum sesi dimulai;


2. Menggunakan tanda pengenal pada setiap sesi;
3. Tidak menggunakan sandal dan baju kaos ketika mengikuti sesi;
4. Mengikuti semua sesi secara penuh dari pembukaan sampai dengan penutupan;
5. Tidak merokok
6. Berperan aktif pada setiap sesi kegiatan;
7. Jika karena sesuatu hal tidak dapat mengikuti sesi, harus melapor kepada panitia;
ARTI DAN MAKNA WAWASAN WIYATA MANDALA

A. Wawasan : Suatu pandangan atau sikap yang mendalam terhadap suatu hakikat. Wiyata :
Pendidikan Mandala : Tempat atau lingkungan Wiyata mandala adalah sikap menghargai
dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah sebagai tempat menuntut ilmu
pengetahuan. Unsur-unsur wiyata mandala:
1. Sekolah merupakan lingkungan pendidikan
2. Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh atas penyelenggaraan
pendidikan dalam lingkungan sekolah.
3. Antara guru dan orang tua siswa harus ada saling pengertian dan kerjasama erat untuk
mengemban tugas pendidikan (hubungan yang serasi)
4. Warga sekolah di dalam maupun di luar sekolah harus menjunjung tinggi martabat dan
citra guru.
5. Sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya dan mendukung antarwarga.

B. SEKOLAH DAN FUNGSINYA


Sekolah merupakan tempat penyelenggaraan PBM, menanamkan dan
mengembangkan berbagai nilai, ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Sekolah
merupakan lembaga pendidikan formal tempat berlangsungnya PBM untuk membina dan
mengembangkan:
1. Ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Pandangan hidup/kepribadian
3. Hubungan antara manusia dengan lingkungan atau manusia dengan Tuhannya
4. Kemampuan berkarya.

C. FUNGSI SEKOLAH
Fungsi sekolah adalah sebagai tempat masyarakat belajar karena memiliki aturan/tata
tertib kehidupan yang mengatur hubungan antara guru, pengelola pendidikan siswa dalam
PBM untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dlam suasana yang dinamis.

D. CIRI-CIRI SEKOLAH SEBAGAI MASYARALAT BELAJAR


Ciri-ciri sekolah sebagai masyarakat belajar adalah :
1. Ada guru dan siswa, timbulnya PBM yang tertib
2. Tercapainya masyarakat yang sadar, mau belajar dan bekerja keras.
3. Terbentuknya manusia Indonesia seutuhnya
E. PRINSIP SEKOLAH
Sekolah sebagai Wiyata Mandala selain harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya,
juga harus mencegah masuknya faham sikap dan perbuatan yang secara sadar ataupun
tidak dapat menimbulkan pertentangan antara sesama karena perbedaan suku, agama,
asal/usul/keturunan, tingkat sosial ekonomi serta perbedaan paham politik. Sekolah tidak
boleh hidup menyendiri melepaskan diri dari tantangan sosial budaya dalam masyarakat
tempat sekolah itu berada. Sekolah juga menjadi suri teladan bagi kehidupan masyarakat
sekitarnya, serta mampu mencegah masuknya sikap dan perbuatan yang akan menimbulkan
pertentangan. Untuk itu sekolah memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Sekolah sebagai wadah/lembaga yang memberikan bekal hidup. Dalam hal ini sekolah
seharusnya bukan hanya sekedar lembaga yang mencetak para intelektual muda namun
lebih dari itu sekolah harus menjadi rumah kedua yang memberikan pelayanan dan
pengalaman tentang hidup, mulai dari berorganisasi, bermasyarakat (bersosialisasi),
pendidikan lingkungan hidup (PLH) atau bahkan pengalaman hidup yang
sesungguhnya.
2. Sekolah sebagai institusi tempat peserta didik belajar dibawah bimbingan pendidik.
Bimbingan lebih dari sekedar pengajaran. Dalam bimbingan peran pendidik berubah
dari seorang pendidik menjadi seorang orangtua bahkan menjadi seorang kakak.
3. Sekolah sebagai lembaga dengan pelayanan yang adil/merata bagi stakeholdernya. Hal
tersebut bisa berupa pemerataan kesempatan mendapatkan transfer of knowledge,
maupun transfer of experience, dengan tanpa membedakan baik dari segi kemampuan
ekonomi, kemampuan intelegensia, dan juga kemampuan fisik (gagasan sekolah
inklusi).
4. Sekolah sebagai lembaga pengembangan bakat dan minat siswa. Prinsip ini sejalan
dengan teori multiple intelligence (Howard Gardner) yang memandang bahwa
kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya yang perlu diperhatikan oleh lembaga
pendidikan, terutama sekolah. Kemampuan bersosialisasi, kemampuan kinestik,
kemampuan seni dan kemampuan-kemampuan lainnya juga perlu diperhatikan secara
seimbang.
5. Sekolah sebagai lembaga pembinaan potensi di luar intelegensi. Peningkatan
kemampuan intelektual, emosional maupun kemampuan-kemampuan lainnya mendapat
perhatian yang seimbang.
6. Sekolah harus memberikan perhatian serius untuk mengembangkan kemampuan
emosional dan sosial, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, kemampuan
bekerjasama dalam kelompok, dan lain-lain.
7. Sekolah sebagai wahana pengembangan sikap dan watak. Sikap sederhana, jujur,
terbuka, penuh toleransi, rela berkomunikasi dan berinteraksi, ramah tamah dan
bersahabat, cinta negara, cinta lingkungan, siap bantu membantu khususnya kepada
yang kurang beruntung merupakan sikap dan watak yang perlu dibentuk di dalam
lingkungan sekolah.
8. Sekolah sebagai wahana pendewasaan diri. Di dalam dunia yang berubah begitu cepat,
salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki tiap peserta didik adalah kompetensi
dasar: belajar secara mandiri. Dengan proses pendewasaan yang diberikan di sekolah,
pendidik tidak lagi perlu menjejali pemikiran peserta didik dengan perintah. Lebih dari
itu peserta didik akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar ketika ia mencari dan
mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk hidupnya.
9. Sekolah sebagai bagian dari masyarakat belajar (learning society). Sekolah bukan hanya
sebagai tempat pembelajaran bagi peserta didik, namun juga seharusnya sekolah mampu
menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

F. PENGGUNAAN SEKOLAH
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang diperuntukan sebagai tempat proses
kegiatan belajar mengajar, tidak diperbolehkan dijadikan sebagai tempat :
1. Ajang promosi /penjualan produk-produk perniagaan yang tidak berhubungan dengan
pendidikan.
2. Sekolah merupakan lingkungan bebas rokok bagi semua pihak.
3. Penyebaran aliran sesat atau penyebarluasan aliran agama tertentu yang bertentangan
dengan undang-undang.
4. Propaganda politik/kampanye.
5. Shooting film dan atau sinetron tanpa seijin Pemerintah Daerah.
6. Kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan kerusakan, perpecahan, dan perselisihan,
sehingga menjadikan suasana sekolah tidak kondusif.
G. PENATAAN WIYATA MANDALA DALAM UPAYA KETAHANAN SEKOLAH
1. Ketahanan sekolah lebih menitikberatkan pada upaya-upaya yang bersifat preventif.
2. Untuk menjadikan sekolah sesuai dengan tujuan dan fungsinya, perlu dilakukan
penataan Wiyata Mandala di sekolah melalui langkah-langkah :
a) Meningkatkan koordinasi dan konsolidasai sesama warga sekolah untuk dapat
mencegah sedini mungkin adanya kegiatan dan tindakan yang dapat mengganggu proses
belajar mengajar.
b) Melaksanakan tata tertib sekolah secara konsisten dan berkelanjutan.
c) Melakukan koordinasi dengan Komite sekolah dan pihak keamanan setempat untuk
terselenggaranya ketahanan sekolah.
d) Mengadakan penyuluhan bagi orangtua dan siswa yang bermasalah
e) Mengadakan penyuluhan dan pembinanan kesadaran hukum bagi siswa.
f) Pembinaan dan pengembangan keimanan, ketaqwaan, etika bermoral Pancasila,
kepribadian sopan santun dan berdisiplin.
g) Pengembangan logika para siswa, rajin belajar, gairah menulis, gemar membaca/
informasi/penemuan para ahli.
h) Mengikutsertakan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri.
i) Mengadakan karya wisata dalam rangka pengembangan iptek.

H. TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH DALAM


HAL PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Kepala Sekolah sebagai pimpinan utama, bertugas dan bertanggung jawab memimpin
penyelenggaraan belajar mengajar serta membina pendidik dan tenaga kependidikan serta
membina hubungan kerja sama dan peran serta masyarakat. Kepala Sekolah dalam
melaksanakan penataan Wiyata Mandala di sekolah, dengan melakukan kegiatan-kegiatan :
1. Melaksanakan program-program yang telah disusun bersama Komite Sekolah.
2. Menyelenggarakan musyawarah sekolah yang melibatkan pendidik, OSIS, Komite
Sekolah, tokoh masyarakat serta pihak keamanan setempat.
3. Menertibkan lingkungan sekolah baik yang berbentuk perangkat keras (sarana prasarana)
dan perangkat lunak (peraturan-peraturan, tata tertib, tata upacara dan lain lain).
4. Mengadakan pertemuan baik rutin maupun insidentil yang bersifat intern sekolah (kepala
sekolah, pendidik, orangtua siswa, siswa).
5. Menyelenggarakan kegiatan yang dapat menunjang ketahanan sekolah seperti PKS,
Pramuka, PMR, Paskibraka, kesenian dan sebagainya.
I. MEKANISME DALAM PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Dalam rangka pelaksanaan Wiyata Mandala perlu upaya penang-gulangan secara dini
setiap permasalahan yang timbul sehingga dapat menghilangkan dampak negatifnya, yaitu
dilaksanakan secara terpadu, bertahap dan berlanjut sebagai berikut :
1. Tahap Preventif Upaya untuk meniadakan peluang-peluang yang dapat memungkinkan
terjadinya kasus-kasus negatif di sekolah, melalui antara lain :
a) Memelihara sekolah, dan lingkungan sekolah serta menciptakan kebersihan dan
ketertiban agar siswa merasa nyaman dan menyenangkan dan tidak ada tempat tertentu
yang dijadikan siswa untuk hal-hal negatif.
b) Menciptakan suasana yang harmonis antara pihak pendidik/staf dan siswa serta
penduduk di sekitar sekolah.
c) Membentuk jaring-jaring pengawasan/kontrol dan razia terhadap kegiatan siswa di
lingkungan sekolah.
d) Menghilangkan bentuk-bentuk perpeloncoan pada saat MOS.
e) Meminimalisir keterlibatan kelompok maupun perorangan dalam kegiatan sekolah.
f) Mengisi jam-jam kosong dengan pelajaran atau kegiatan ekstra lainnya.
g) Meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler pada masa awal/akhir semester dan masa
liburan sekolah.
h) Peningkatan keamanan dan ketertiban khususnya pada saat berangkat/ usai sekolah.
2. Tahap Represif Upaya untuk menindak siswa yang telah melanggar peraturan-peraturan
dan tata tertib sekolah. Upaya Represif seperti :
a) Mendamaikan para pihak yang terlibat perselisihan berikut orangtua/pendidik
pembinanya.
b) Membatasi areal tempat terjadinya aksi.
c) Menetralisir isu-isu yang berkembang dan mencegah timbulnya isu-isu baru.
d) Berkoordinasi dengan pihak keamanan apabila terdapat pihak luar sekolah yang
melanggar keamanan, ketertiban dan perbuatan kriminalitas di lingkungan sekolah.
e) Mengungkap lebih lanjut keterlibatan pihak luar sekolah atas kasus yang timbul dan
menyelesaikan secara hukum.
f) Mengikutsertakan para ahli untuk mengadakan bimbingan dan penyuluhan.
g) Memberikan sanksi sesuai tata tertib yang berlaku.
MATERI MPLS PRAMUKA

Kata "Pramuka" merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti
Orang Muda yang Suka Berkarya.
"Pramuka" merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi; Pramuka Siaga
(7-10 tahun), Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pramuka Penegak (16-20 tahun) dan
Pramuka Pandega (21-25 tahun).
Sedangkan yang dimaksud "Kepramukaan" adalah proses pendidikan di luar lingkungan
sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan,
sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar
Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak
dan budi pekerti luhur. Kepramukaan adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan
dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Sejarah Gerakan Pramuka atau Kepanduan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1923
yang ditandai dengan didirikannya (Belanda) Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di
Bandung. Sedangkan di tahun yang sama, di Jakarta didirikan (Belanda) Jong Indonesische
Padvinderij Organisatie (JIPO).
Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka:
a. memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat
hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat
jasmani, dan rohani;menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh
kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang
baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta
bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki
kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan.
 Gerakan Pramuka berlandaskan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
 Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
 Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya
 Peduli terhadap dirinya pribadi
 Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka
 Metode Kepramukaan merupakan cara belajar interaktif progresif melalui:
· pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
· belajar sambil melakukan;
· kegiatan berkelompok, bekerjasama, dan berkompetisi;
· kegiatan yang menarik dan menantang;
· kegiatan di alam terbuka;
· kehadiran orang dewasa yang memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan;
· penghargaan berupa tanda kecakapan; dan
· satuan terpisah antara putra dan putri;
MATERI KESADARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA
(Kesadaran Hukum)

Di era globalisasi ini banyak tantangan memang bagi negeri kita, namun kesadaran
berbangsa dan bernegara sudah selayaknya rakyat dan pemerintah untuk bersama sama
memberikan pemahaman bagi rakyatnya, khususnya kaum muda. Pemerintah ikut
bertanggung jawab mengemban amanat untuk memberikan kesadaran berbangsa dan
bernegara bagi warganya, bila rakyat bangsa Indonesia sudah tidak memiliki kesadaran
berbangsa dan bernegara, maka ini merupakan bahaya besar bagi kehidupan berbangsa dan
bernegara, yang mengakibatkan bangsa ini akan jatuh ke dalam kondisi yang sangat parah
bahkan jauh terpuruk dari bangsa-bangsa yang lain yang telah mempersiapkan diri dari
gangguan bangsa lain.

Mengingat kondisi bangsa kita sekarang, merupakan salah satu indikator bahwa warga
bangsa Indonesia di negeri ini telah mengalami penurunan kesadaran berbangsa dan
bernegara. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai daerah sering bergejolak diantaranya tawuran
antar warga, perkelaian pelajar, ketidakpuasan terhadap hasil pilkada, perebutan lahan
pertanian maupun tambang, dan lain-lain. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara mempunyai
makna bahwa individu yang hidup dan terikat dalam kaidah dan naungan di bawah Negara
Kesatuan RI harus mempunyai sikap dan perilaku diri yang tumbuh dari kemauan diri yang
dilandasasi keikhlasan/kerelaan bertindak demi kebaikan Bangsa dan Negara Indonesia.

Berbagai masalah yang berkaitan dengan kesadaran berbangsa dan bernegara


sebaiknya mendapat perhatian dan tanggung jawab kita semua. Sehingga amanat pada UUD
1945 untuk menjaga dan memelihara Negara Kesatuan wilayah Republik Indonesia serta
kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan.

Hal lain yang dapat mengganggu kesadaran berbangsa dan bernegara di tingkat
pemuda yang perlu di cermati secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan
kepekaan sosial di tingkat pemuda, padahal banyak persoalan-persoalan masyarakat yang
membutuhkan peranan pemuda untuk membantu memediasi masyarakat agar keluar dari
himpitan masalah, baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik, karena dengan terbantunya
masyarakat dari semua lapisan keluar dari himpitan persoalan, maka bangsa ini tentunya
menjadi bangsa yang kuat dan tidak dapat di intervensi oleh negara apapun, karena
masyarakat itu sendiri yang harus disejahterakan dan jangan sampai mengalami penderitaan.
Di situ pemuda telah melakukan langkah konkrit dalam melakukan bela negara.

Kesadaran bela negara adalah dimana kita berupaya untuk mempertahankan negara
kita dari ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup bermasyarakat yang
berdasarkan atas cinta tanah air. Kesadaran bela negara juga dapat menumbuhkan rasa
patriotisme dan nasionalisme di dalam diri masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai
kewajiban dasar juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan
dengan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada
negara dan bangsa. Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta terhadap
tanah air kita.

Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya dalam kehidupan
masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:

1. Cinta Tanah Air


Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita cintai. Kesadaran bela
negara yang ada pada setiap masyarakat didasarkan pada kecintaan kita kepada tanah air kita.
Kita dapat mewujudkan itu semua dengan cara kita mengetahui sejarah negara kita sendiri,
melestarikan budaya-budaya yang ada, menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga nama
baik negara kita.

2. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara


Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita yang harus sesuai dengan
kepribadian bangsa yang selalu dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya. Kita
dapat mewujudkannya dengan cara mencegah perkelahian antar perorangan atau antar
kelompok dan menjadi anak bangsa yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun
internasional.

3. Pancasila
Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan sungguh luar biasa,
pancasila bukan hanya sekedar teoritis dan normatif saja tapi juga diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari. Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu keberagaman yang ada di
Indonesia yang memiliki beragam budaya, agama, etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila
inilah yang dapat mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan hambatan.

4. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara


Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela berkorban untuk bangsa dan
negara. Contoh nyatanya seperti sekarang ini yaitu perhelatan seagames. Para atlet bekerja
keras untuk bisa mengharumkan nama negaranya walaupun mereka harus merelakan untuk
mengorbankan waktunya untuk bekerja sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan
hanya menjadi seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain. Begitupun supporter
yang rela berlama-lama menghabiskan waktunya antri hanya untuk mendapatkan tiket demi
mendukung langsung para atlet yang berlaga demi mengharumkan nama bangsa.

5. Memiliki Kemampuan Bela Negara


Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan dengan tetap menjaga
kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam menjalani profesi masing-masing.

Kesadaran bela negara dapat diwujudkan dengan cara ikut dalam mengamankan
lingkungan sekitar seperti menjadi bagian dari Siskamling, membantu korban bencana
sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia sering sekali mengalami bencana alam, menjaga
kebersihan minimal kebersihan tempat tinggal kita sendiri, mencegah bahaya narkoba yang
merupakan musuh besar bagi generasi penerus bangsa, mencegah perkelahian antar
perorangan atau antar kelompok karena di Indonesia sering sekali terjadi perkelahian yang
justru dilakukan oleh para pemuda, cinta produksi dalam negeri agar Indonesia tidak terus
menerus mengimpor barang dari luar negeri, melestarikan budaya Indonesia dan tampil
sebagai anak bangsa yang berprestasi baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Apabila kita mengajarkan dan melaksanakan apa yang menjadi faktor-faktor


pendukung kesadaran berbangsa dan bernegara sejak dini, yakni dengan mengembalikan
sosialisasi pendidikan kewarganegaraan di sekolah-sekolah, juga sosialisasi di
masyarakat,niscaya akan terwujud.. Pada pendidikan kewarganegaraan ditanamkan prinsip
etik multikulturalisme, yaitu kesadaran perbedaan satu dengan yang lain menuju sikap toleran
yaitu menghargai dan mengormati perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada pada etnis dan
religi sudah harusnya menjadi bahan perekat kebangsaan apabila antar warganegara memiliki
sikap toleran.

Nasionalisme adalah sikap mencintai bangsa dan negara sendiri. Nasionalisme terbagi
atas ;
a. Nasionalisme dalam arti sempit, yaitu sikap mencintai bangsa sendiri secara berlebihan
sehingga menggap bangsa lain rendah kedudukannya, nasionalisme ini disebut juga
nasionalisme yang chauvinisme, contoh Jerman pada masa Hitler.
b. Nasionalisme dalam arti luas, yaitu sikap mencintai bangsa dan negara sendiri dan
menggap semua bangsa sama derajatnya.
Hans Kohn dalam bukunya Nationalism its meaning and history mendivinisikan
nasionalisme sebagai berikut :

 Suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan individu tertinggi harus diserahkan
pada negara.
 Perasaan yang mendalam akan ikatan terhadap tanah air sebagai tumpah darah.

Ada tiga hal yang harus kita lakukan untuk membina nasionalisme Indonesia :

a. Mengembangkan persamaan diantara suku-suku bangsa penghuni nusantara

b. Mengembangka sikap toleransi

c. Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan diantara sesama bangsa Indonesia

Empat hal yang harus kita hidari ndalam memupuk sermangat nasionalisme adalah :

a. Sukuisme, menganggap msuku bangsa sendiri paling baik.


b. Chauvinisme, mengganggap bangsa sendiriu paling unggul.
c. Ektrimisme, sikap mempertahankan pendirian dengan berbagai cara kalau perlu dengan
kekerasan dan senjata.
d. Provinsialisme, sikap selalu berkutat dengan provinsi atau daerah sendiri.

Sikap patriotisme bangsa indonesia telah dimulai sejak jaman penjajahan, dengan
banyaknya pahlawan pahlawan yang gugur dalam rangka mengusir penjajah seperti Sultan
Hasanudin dari Makasar, Pangeran Diponogoro dari Jawa tengah, Cut Nyak Dien Tengku
Umar dari Aceh dll. Sikap patriotis memuncak setelah proklamasi kemerdekaan pada periode
perjuangan fisik antara tahun 1945 sampai 1949 yaitu periode mempertahankan negara dari
keinginan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia.
Sikap patriotisma adalah sikap sudi berkorban segala-galanya termasuk nyawa sekalipun
untuk mempertahankan dan kejayaan negara. Ciri-ciri patriotisme adalah :
a. Cinta tanah air.

b. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.

c. Menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.

d. Berjiwa pembaharu.

e. Tidak kenal menyerah dan putus asa.

Implementasi sikap patriotisme dalam kehidupan sehari hari :


a. Dalam kehidupan keluarga ; Menyaksikan film perjuangan, Membaca buku bertema
perjuangan, dan Mengibarkan bendera merah putih pada hari-hari tertentu.
b. Dalam kehidupan sekolah ; Melaksanakan upacara bendera, mengkaitkan materi
pelajaran dengan nilaiu-nilai perjuangan, belajar dengan sungguh-sungguh untuk
kemajuan.
c. Dalam kehidupan masyarakat ; Mengembangkan sikap kesetiakawanan sosial di
lingkungannya, Memelihara kerukunan diantara sesama warga.
d. Dalam kehidupan berbangsa ; Meningkatkan persatuan dan kesatuan, Melaksanakan
Pancasila dan UUD 1945, Mendukung kebijakan pemerintah, Mengembangkan kegiatann
usaha produktif, Mencintai dan memakai produk dalam negeri, Mematuhi peraturan
hukum, Tidak main hakim sendiri, Menghormati, dan menjungjung tinggi supremasi
hukum, Menjaga kelestarian lingkungan.

MATERI PENDIDIKAN KARAKTER

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli


Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character
education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang
melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas,
maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian
remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik
orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara
tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.

Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral
(moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat
dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan
untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan di bawah ini merupakan bagan
kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.

1. Pendidikan Karakter Menurut Lickona


Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang
dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian
yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh
Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu
usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami,
memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

2. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto


Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang
menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, maupun negara.

3. Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya


Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas
tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta
merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan
merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).

4. Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi


Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis
atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang
relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
Nilai-nilai dalam pendidikan karakter
Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin,
Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta
tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca,
Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab.
Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka
mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga
negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat
diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character
development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah
untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.
Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan
dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,
metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu
untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.Pembentukan karakter
merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003
menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi
peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya
membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter,
sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang
bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga
pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal
of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang
sebenarnya)
Memahami Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek
pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona,
tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan,
seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting
dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah
dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk
berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu:
1. Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya
2. Kemandirian dan tanggungjawab
3. Kejujuran/amanah, diplomatis
4. Hormat dan santun
5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
6. Percaya diri dan pekerja keras
7. Kepemimpinan dan keadilan
8. Baik dan rendah hati, dan
9. Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan
holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good.
Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja.
Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana
merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau
berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku
kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan
kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.
Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang
biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti
sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika
anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya
pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter
dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter
anak.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis
di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat.
Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam
lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru,
yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung
tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter

Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa


penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan
penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan
oleh Character Education Partnership.
Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari
University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam
meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-
kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya
penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan
akademik.
Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins,
et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan
emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor
resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata
bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan
bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan
berkomunikasi.
Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di
masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen
ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan
emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya.
Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau
tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter
akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan,
tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.
Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di
antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-
negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara
sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.
Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu
dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain
cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.

MATERI TATA KRAMA SISWA

Tata krama atau adat sopan santun atau sering disebut etiket telah menjadi bagian
dalam hidup, contoh; pada waktu Anda masih kanak-kanak, orang tua Anda sudah melatih
Anda menerima pemberian orang dengan tangan sebelah kanan dengan mengucapkan terima
kasih. Orang tua Anda melatih Anda cara makan, minum, menyapa, memberi hormat dan
berpakaian. Lama kelamaan perilaku Anda menjadi kebiasan. Tata krama adalah kebiasaan,
yang lahir dalam hubungan antar manusia. Tata krama yang semula berlaku dalam lingkungan
terbatas lama kelamaan dapat merambabt ke lingkungan yang lebih luas. Tata krama telah
menjadi bagian dari pergaulan sehari-hari. Jadi dapat disimpulkan bahwa tata kram adalah
kebiasaan sopan santun yang dispakati dalam lingkungan pergaulan antara manusia setempat.

Tata krama terdiri atas kata tata dan krama. Tata berarti adat, aturan, norma, peraturan.
Krama berarti sopan santun, kelakuan, tindakan, perbuatan. Tata krama berarti adat sopan
santun, kebiasaan sopan santun. Dalam pergaulan sehari-hari sering kita jumpai manusia
dengan type kedondong yaitu orang yang berpenampilan menarik dalam berpakaian,
berbicara, makan, minum, dan berjalan. Namun penampilan itu hanyalah polesan saja.
Ternyata hatinya dikuasai oleh sifat-sifat tak terpuji, suka dendam, egois, suka menyakiti hati.
Ada juga manusia yang bertype durian, penampilan tidak menarik, kasar, dan tidak
mengundang simpati, namun berhati emas, rendah hati, suka memaafkan, suka menolong dan
menghargai orang lain.
Kulit durian memang tajam dan kasar, tetapi buah durian terasa enak kalau dimakan.
Makna tata krama yang sesungguhnya bukanlah seperti kedondong yang licin kulitnya dan
masam rasanya, demikian pula makna tata krama bulanlah seperti durian yang tajam tapi enak
rasanya. Kedua-duanya sama merugikan.
Macam-macam tata krama: Tata krama pergaulan Komunikasi sebagai sifat alami manusia
Komunikasi dan tata krama pergaulan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan.

Ada beberapa kunci pokok yang perlu dicamkan dalam masalah komunkasi:
a) Perlakuan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.
b) Setiap orang mempunyai perbedaan-perbedaan perorangan tidak ada kembar satu telur
yang sama.
c) Kenal dulu baru sayang, makin kenal makin sayang, tak kenal makin tak sayang.

Tata krama berkenalan Kedua belah pihak saling menyebutkan nama, saling memandang,
berjabatan tangan, tidak mengayun-ayunkan tangan. Tata krama bertamu Hendaknya berjanji
dahulu dan datang tepat waktu. Tata krama berbicara
 Berkata peliharalah lidah, jangan menyinggung perasaan
 Jangan memotong pembicaraan orang lain
 Perhatikan Anda berbicara dengan siapa
a. Cara menggunakan pakaian
 Kalau pakai seragam sekolah harus dimasukkan pakai dasi sabuk hitam (seragam putih
abu-abu)
 Pada waktu olahraga pakailah pakaian dan olahraga §
 Memakai pakaian harus cocock denagn situasi dan tempat
b. Cara berjalan bersama
 Laki-laki harus melindungi wanita
 Kalau ada dua wanita dan satu pria, pria berjalan di sisi yang berdekatan dengan lalu
lintas
 Kalau ada dua pria dan satu wanita, wanita ada di tengah.
c. Tata cara makan
 Cicipilah makan dan minuman dengan tidak bersuara.
 jika batuk pada waktu makan tutupi mulut.
 Berdoa sebelum makan.
d. Tata cara menggunakan fasilitas umum
 Buang sampah pada tem patnya
 Jagalah kebersihan baik di dalam kelas maupun di sekitar halaman.
 Taman umum harus ikut kita jaga kebersihannya.
 Sopan berkendara di jalan.

Anda mungkin juga menyukai