Keywords: The Providing and Rehabilitation Program of The Production Facilities and Infrastructures For The Fishery, Fishermen Income

Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
You are on page 1of 9

EnviroScienteae Vol. 12 No.

2, Agustus 2016 p-ISSN 1978-8096


Halaman 104-112 e-ISSN 2302-3708

KAJIAN PROGRAM KEGIATAN PENYEDIAAN DAN REHABILITASI SARANA


DAN PRASARANA PRODUKSI PERIKANAN TANGKAP TERHADAP
PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN DI KABUPATEN TANAH LAUT
KALIMANTAN SELATAN

Study of the Providing and Rehabilitation Program of the Production Facilities and
Infrastructures for the Fishery to Improving Fishermen Income in Tanah Laut Regency
South Kalimantan

Saprani1), Idiannor Mahyudin2), Erma Agusliani2)


1)
Program Studi Magister Ilmu Perikanan
Program Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat
2)
Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat

Abstract

This research aimed to (1) evaluate and analyze the implication of the providing and
rehabilitation program of the production facilities and infrastructures for the fishery to the
socio-economic performance of the fishing community in Tanah Laut Regency according to
institutional after receiving program package; and (2) compare and analyze the fishermen
income level before and after receiving the package of the providing and rehabilitation program
of the production facilities and infrastructures for the fishery. This research was carried out
in Tanah Laut Regency, South Kalimantan, with the objects of receivers of the providing and
rehabilitation program of the production facilities and infrastructures for the fishery who joined
the Fishermen Joint Business Group. The collected data were the data that were directly
originated from results of observation in the location of the research, and the other supporting
data was related to the object of the research. Results of the research showed that the providing
and rehabilitation program of the production facilities and infrastructures for the fishery, which
requiring the fishing community to form a business institutional of fishermen, showed the
positive effect of the socio-economic condition of the fishing community in Tanah Laut
Regency, in form of (1) change in the fishing social status from workers to vessel owners; (2)
improvement of knowledge and technical capability of fishing from the knowledge gained
autodidactic to the knowledge acquired through the training organized by builder institution,
both central and local government; and (3) economically, the fishermen acquired income
improvement through the implementation of a system for reasonable production sharing which
was dealt by the collective agreement in the fishermen institutional. The fishermen income level
after receiving the package of the providing and rehabilitation program of the production
facilities and infrastructures for the fishery had increased very significantly, as shown by the
increase in income between 42 - 290%, or an average of 136%, from prior to receiving the
program package.

Keywords: the providing and rehabilitation program of the production facilities and
infrastructures for the fishery, fishermen income

PENDAHULUAN di bidang perikanan, yang sampai saat ini


dikategorikan sebagai masyarakat miskin
Nelayan merupakan salah satu dan memiliki banyak persoalan (terutama
komunitas masyarakat pesisir yang berusaha bagi yang berprofesi sebagai nelayan kecil

104
Kajian Program Kegiatan Penyediaan Dan Rehabilitasi Sarana Dan Prasarana (Saprani, et al)

atau buruh nelayan), sehingga sangat jauh perikanan tangkap, yang telah berlangsung
dari gambaran umum mengenai masyarakat dari 2010 sampai dengan 2012. Kegiatan ini
sejahtera. Kemiskinan ini disebabkan oleh dimaksudkan untuk memenuhi sarana dan
faktor-faktor kompleks yang saling terkait, prasarana yang memadai dalam rangka
serta merupakan sumber utama yang pengelolaan sumberdaya perikanan laut,
melemahkan kemampuan masyarakat dalam terutama kapal penangkap ikan. Dengan
membangun wilayah dan meningkatkan adanya sarana dan prasarana yang memadai
kesejahteraan sosialnya. Oleh karena itu, diharapkan produksi dan mutu hasil
kemiskinan merupakan salah satu isu utama tangkapan dapat lebih meningkat, serta juga
dalam pembangunan kawasan pesisir dapat menyerap tenaga kerja, yang pada
(Kusnadi, 2007). akhirnya terjadi peningkatan kesejahteraan
Menurut Dahuri, et al (2001), ada nelayan dan keluarganya, peningkatan
indikasi bahwa terdapat sejumlah faktor pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa
yang sangat berpengaruh terhadap negara. Kegiatan ini berupa pengadaan kapal
pendapatan masyarakat nelayan diantaranya kayu 10 GT beserta mesin, alat tangkap ikan,
adalah faktor sosial, ekonomi dan budaya. alat penanganan ikan, serta alat komunikasi
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan dan navigasi melalui dana alokasi khusus
oleh Quibra dalam Dillon dan Hermanto yang disalurkan ke nelayan kecil atau buruh
(1993) bahwa kemiskinan berkaitan erat nelayan yang tidak memiliki kapal yang
dengan masalah sosial, ekonomi dan budaya tergabung dalam kelembagaan nelayan,
yang dinamis. Dalam hal ini, faktor sosial yakni kelompok usaha bersama (KUB), dan
diantaranya meliputi tingkat pendidikan tidak atau belum pernah menerima bantuan
formal/non formal, umur, kelembagaan dan sejenis dari pemerintah.
pengalaman kerja. Sedangkan faktor Sebagian nelayan kecil atau buruh
ekonomi meliputi modal, jenis pekerjaan, nelayan, khususnya yang tergabung dalam
pemasaran dan lain-lain. Adapun faktor KUB, di Kabupaten Tanah Laut telah
budaya meliputi agama, kepercayaan, menerima program kegiatan penyediaan dan
kebiasaan, tingkah laku dan adat istiadat. rehabilitasi sarana dan prasarana produksi
Satu kelompok masyarakat pesisir perikanan tangkap pada tahun 2010, dan
yang paling memprihatinkan kondisi berlanjut pada tahun 2011 dan 2012. Setelah
kehidupan ekonominya adalah buruh program ini berjalan dalam beberapa tahun,
nelayan. Buruh nelayan adalah orang-orang tentunya perlu dievaluasi sama sejauh mana
yang bekerja sebagai nelayan namun tidak dampak program ini terhadap peningkatan
sebagai pemilik kapal, sehingga praktis kesejahteraan masyarakat nelayan.
besar kecil pendapatannya tergantung pada Berdasarkan uraian tersebut, tujuan
upah atau bagi hasil yang diterimanya dari kegiatan penelitian ini adalah:
(Sukmawati, 2008). Buruh nelayan 1. Mengevaluasi dan menganalisis
diperlukan untuk mengoperasikan alat implikasi program kegiatan penyediaan
tangkap, dimana dalam satu armada dan rehabilitasi sarana dan prasarana
penangkapan diperlukan beberapa orang produksi perikanan tangkap terhadap
buruh. keragaan sosial ekonomi masyarakat
Fenomena kehidupan nelayan kecil nelayan di Kabupaten Tanah Laut
atau buruh nelayan yang akrab dengan menurut kelembagaan setelah menerima
kemiskinan dan dalam rangka upaya paket program.
peningkatan pendapatan, pemerintah pusat 2. Membandingkan dan menganalisis
yang dalam hal ini Kementerian Kelautan tingkat pendapatan nelayan sebelum dan
dan Perikanan RI menyediakan dana alokasi sesudah menerima paket program
khusus (DAK) bidang kelautan dan kegiatan penyediaan dan rehabilitasi
perikanan untuk kegiatan penyediaan dan sarana dan prasarana produksi perikanan
rehabilitasi sarana dan prasarana produksi tangkap.

105
EnviroScienteae Vol. 12 No. 2, Agustus 2016 : 104-112

METODE PENELITIAN buruh nelayan maupun setelah menerima


paket program.
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan Untuk mengevaluasi implikasi
di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi program kegiatan penyediaan dan
Kalimantan Selatan, dengan obyek rehabilitasi sarana dan prasarana produksi
penelitian penerima paket program kegiatan perikanan tangkap digunakan analisis
penyediaan dan rehabilitasi sarana dan deskriptif kualitatif dan kuantitatif yang
prasarana produksi perikanan tangkap yang diinterpretasikan dalam bentuk tabulasi dan
tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama dijelaskan secara rinci dan untuk
nelayan. Data yang dikumpulkan adalah data membandingkan tingkat pendapatan di
yang bersumber langsung dari hasil gunakan uji t berpasangan.
observasi di lokasi penelitian, dan data
pendukung lainnya terkait dengan obyek
penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengamatan dilakukan terhadap:
1. Faktor sosial yang terdiri dari umur, Biaya dan Pendapatan Usaha Nelayan
pendidikan formal dan non formal,
pengalaman sebagai nelayan dan jumlah Biaya usaha penangkapan adalah
anggota keluarga yang menjadi besarnya rata-rata nilai input yang
tanggungan. dikeluarkan oleh nelayan pada setiap trip
2. Faktor ekonomi yang terdiri dari jenis penangkapan ikan setelah dikalikan dengan
mata pencaharian, curahan waktu kerja, harga satuan input. Biaya usaha
modal lancar dan produksi per trip, serta penangkapan dengan alat tangkap gill net
pendapatan yang diterima dari sistem yang dialokasikan disajikan seperti pada
bagi hasil, baik ketika masih menjadi Tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata biaya dan produksi per trip usaha nelayan penerima program
Satuan Jumlah
Uraian Volume (%)
(Rp.) (Rp.)
Sarana Produksi
- Solar 700 liter 7.000 4.900.000 31
- Bensin 40 liter 7.500 300.000 2
- Oli 15 liter 33.000 495.000 3
- Garam 1.000 kg 1.200 1.200.000 8
- Konsumsi 1 paket 3.713.300 3.713.300 24
- Sarana penunjang lainnya 1 paket 1.850.000 1.850.000 12
Penyusutan barang modal 3.212.500 20
Jumlah 15.670.800 100
Produksi 1.600 kg 30.000 48.000.000
Sumber: Hasil pengolahan data (2016)

Nilai produksi sebesar Rp.48.000.000 pendapatan nelayan ABK (5 orang) adalah


setelah dikurangi dengan total biaya sebesar Rp.16.164.600. Bagian kapal/KUB
produksi sebesar Rp.15.670.800 sebesar Rp.16.164.600 terdiri dari
menghasilkan pendapatan usaha nelayan setoran/sewa kapal Rp.2000.000; perawatan
sebesar Rp.32.329.200. Setelah dibagi kapal Rp.1000.000; kas KUB Rp.500.000;
dengan ketentuan 50% untuk pemodal 10% Rp.1.616.460; dan selebihnya
nelayan/anggota KUB yang melaut (ABK) untuk anggota (10 orang) Rp.11.048.140;
dan 50% untuk bagian kapal/KUB, maka sebagaimana terinci pada Tabel 2.

106
Kajian Program Kegiatan Penyediaan Dan Rehabilitasi Sarana Dan Prasarana (Saprani, et al)

Tabel 2 memperlihatkan bahwa rata- rata-rata sebesar Rp.2.721.274/bulan. Salah


rata pendapatan nelayan adalah sebesar satu dari anggota (biasanya ketua KUB)
Rp.5.442.548/trip, dimana setiap merupakan pemodal awal dari setiap trip
nelayan/anggota KUB penerima program operasional kapal, sehingga pendapatan
kegiatan penyediaan dan rehabilitasi sarana anggota tersebut bertambah rata-rata sebesar
dan prasarana produksi perikanan tangkap Rp.1.616.140/bulan atau menjadi rata-rata
secara bergantian menjalani enam dari 12 sebesar Rp.4.337.734/bulan.
trip selama setahun operasional kapal, atau

Tabel 2. Rincian rata-rata pendapatan tiap nelayan penerima program


Pembagian Hasil
Uraian Keterangan
(Rp) (Rp/orang)
Pendapatan Usaha 32.329.200
ABK (5 orang) 16.164.600 3.232.920
Bagian kapal/KUB
setoran 2.000.000
perawatan 1.000.000
kas 500.000
pemodal (10%) 1.616.460
anggota (10 orang) 11.048.140
Jumlah 16.164.600

Rincian bagian anggota


ABK (25%) 2.762.035 552.407
non ABK (75%) 8.286.105 1.657.221
Pendapatan nelayan 5.442.548 /trip (6 trip/orang)
2.721.274 /bulan
4.337.734 /bulan (pemodal)
Sumber: Hasil pengolahan data (2016)

Keragaan Sosial Ekonomi Nelayan Penerima Program


Uraian
Sebelum Sesudah
Tabulasi keragaan sosial ekonomi Jumlah 1 - 6 jiwa;
nelayan penerima program kegiatan Tanggungan rata-rata 3
penyediaan dan rehabilitasi sarana dan Keluarga jiwa
prasarana produksi perikanan tangkap Pendidikan non Sebagian (ada
Kabupaten Tanah Laut dapat dilihat pada Tidak
Formal di tiap KUB)
Tabel 3. Ekonomi
Sampingan/
Tabel 3. Keragaan sosial ekonomi nelayan Jenis Mata Nelayan
nelayan
penerima program Pencaharian murni
murni
Penerima Program Curahan Waktu
Uraian 5 - 7 jam 8 - 10 jam
Sebelum Sesudah Kerja
Sosial Produksi rata-rata 1.300 kg 1.600 kg
22 - 57 tahun; rata-rata Pendapatan/ 800 ribu -
Umur 2,4 - 5,2 juta
36 tahun bulan (rupiah) 2,0 juta
Pendidikan Kelembagaan
SD - SLTA
Formal Kelembagaan Tidak Ya (KUB)
6 - 30 tahun; rata-rata 17 Sumber: Hasil pengolahan data (2016)
Pengalaman
tahun

107
EnviroScienteae Vol. 12 No. 2, Agustus 2016 : 104-112

Tabel 3 memperlihatkan bahwa para buruh nelayan adalah sebesar 50% dari
nelayan yang tergabung dalam KUB pendapatan bersih usaha yang kemudian
penerima program berusia antara 22 - 27 dibagi jumlah buruh atau ABK (biasanya
tahun dengan usia rata-rata 36 tahun. lima orang) sedangkan yang 50% lagi untuk
Kebanyakan dari mereka berpendidikan juragan atau pemilik kapal, setelah menjadi
formal hingga tamat sekolah dasar, nelayan pemilik disamping mendapat bagian
meskipun ada juga yang tamat SLTP dan dari 50% sebagai ABK juga mendapat
SLTA. Para nelayan ini sudah berkeluarga bagian lagi dari 50% sisanya, sebagaimana
dan memiliki tanggungan keluarga antara 1 telah diuraikan pada subbab sebelumnya.
- 6 jiwa dengan rata-rata tiga jiwa, atau rata- Kenyataan ini dapat dilihat pada Tabel
rata menanggung satu istri dan dua anak. 3 dimana pendapatan nelayan meningkat
Keahlian dalam hal teknik dari sebelumnya berkisar antara 800 ribu - 2
penangkapan ikan dari para nelayan juta rupiah/bulan menjadi antara 2,4 - 5,2
diperoleh secara turun-temurun tanpa pernah juta rupiah/bulan. Peningkatan pendapatan
mengikuti pendidikan/pelatihan non formal ini selain dikarenakan adanya sistem
mengenai penangkapan ikan sebelumnya, pembagian hasil yang lebih pantas, juga
dengan pengalaman selama 6 - 30 tahun atau dikarenakan kemampuan kapal yang
rata-rata 17 tahun. Pengalaman diperoleh digunakan. Secara umum kapasitas kapal
secara autodidak dengan bekerja sebagai yang digunakan ketika masih sebagai buruh
buruh nelayan yang mungkin pada mulanya nelayan tidak jauh berbeda dengan setelah
hanya ikut-ikutan pada musim-musim menjadi nelayan pemilik, yakni kapal
tertentu, lalu menjadi pekerjaan sampingan dengan kapasitas 10 GT ke atas. Yang
atau pekerjaan utama sebagai buruh nelayan. membedakan adalah peralatan/
Setelah adanya kegiatan penyediaan perlengkapan yang dipergunakan. Kapal
dan rehabilitasi sarana dan prasarana yang diperoleh dari bantuan program
produksi perikanan tangkap, para nelayan kegiatan penyediaan dan rehabilitasi sarana
memperoleh manfaat berorganisasi melalui dan prasarana produksi perikanan tangkap
kelembagaan Kelompok Usaha Bersama ini dilengkapi dengan perangkat alat
(KUB) nelayan. Disamping mendapat paket komunikasi dan navigasi modern seperti
program berupa kapal dan perlengkapannya, radio VHF, fish finder + GPS dan Electro
juga mendapat bimbingan dari pemerintah Fish. Kapal juga dilengkapi dengan cooler
melalui instansi terkait. Pengetahuan dan box sebanyak lima unit untuk mempermudah
pengalaman sebagai nelayan yang tadinya proses penanganan ikan hasil tangkapan.
hanya diperoleh secara autodidak menjadi Kondisi memungkinkan kapal yang
semakin diperkaya dengan mengikuti digunakan memiliki daya jelajah menuju ke
pendidikan/pelatihan non formal yang fishing ground yang lebih tinggi
diselenggarakan oleh pemerintah, dimana dibandingkan kapal yang digunakan ketika
kesempatan untuk bisa mengikutinya hanya masih sebagai buruh nelayan, sehingga
jika terdaftar sebagai anggota kelompok. produktivitas yang dihasilkan bisa lebih
Saat ini, setelah para nelayan besar.
bergabung menjadi anggota KUB dan Kegiatan penyediaan dan rehabilitasi
menerima paket program kegiatan sarana dan prasarana produksi perikanan
penyediaan dan rehabilitasi sarana dan tangkap yang mengharuskan nelayan
prasarana produksi perikanan tangkap, atau penerima program bergabung dalam suatu
dengan kata lain memiliki kapal dan alat wadah organisasi yang bernama Kelompok
tangkap sendiri, status sosial mereka tidak Usaha Bersama (KUB) telah membawa
lagi sebagai buruh nelayan. Mereka telah perubahan yang berarti bagi para nelayan.
menjadi nelayan pemilik kapal dengan Tidak hanya perubahan pada status sosial
pembagian hasil yang pantas. Jika dari buruh nelayan menjadi nelayan pemilik
sebelumnya rata-rata yang diperoleh sebagai dan memperoleh pendapatan dengan

108
Kajian Program Kegiatan Penyediaan Dan Rehabilitasi Sarana Dan Prasarana (Saprani, et al)

pembagian hasil yang pantas, tetapi juga dengan pihak lain, sehingga mampu
mendapatkan pengetahuan dan pengalaman menghadapi berbagai tantangan dan masalah
mengenai teknologi penangkapan ikan serta memiliki posisi tawar yang baik.
melalui kegiatan pendidikan/pelatihan non Kelompok merupakan wadah membangun
formal yang diselenggarakan oleh solidaritas sesama anggota; (2) unit
pemerintah. produksi. Dengan berkelompok maka usaha
Hal ini dikarenakan sistem pendekatan yang dilakukan secara individu dapat
yang diterapkan oleh pemerintah terhadap mencapai skala ekonomi baik dari segi
pelaku utama usaha perikanan adalah sistem kuantitas, kualitas dan kontinuitas; dan (3)
pendekatan kelompok, sebagaimana diatur tempat belajar.
dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun Manfaat kelembagaan atau
2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, berkelompok jelas sangat dirasakan oleh
Perikanan dan Kehutanan yang para nelayan anggota KUB penerima
mengharuskan ditumbuhkembangkannya program. Secara ekonomi, pendapatan
kelompok-kelompok di wilayah pedesaan sebagai nelayan jauh lebih meningkat,
dengan alasan karena sebagian besar meskipun ini tentunya sangat tergantung
penduduk Indonesia tinggal di pedesaan pada produksi tangkapan yang dihasilkan.
dengan jumlah masyarakat pelaku utama Namun terlepas dari faktor-faktor non teknis
yang jauh lebih banyak dibandingkan jumlah seperti kondisi alam/cuaca, setidaknya
petugas pemerintah yang melayaninya. sistem bagi hasil yang diterapkan dalam
Selain itu, kondisi sosial ekonomi dan kelompok memberikan bagian yang lebih
budaya juga mendukung untuk pantas dan lebih berpihak kepada nelayan
menggunakan pendekatan kelompok. Dalam dibandingkan ketika masih sebagai buruh
hal sosial ekonomi, pendekatan kelompok nelayan. Kemudian dari segi sosial dan
sangat potensial untuk meningkatkan budaya, manfaat yang diperoleh diantaranya
produktivitas, karena diantaranya dengan adalah jaminan keamanan dalam berusaha,
cara berkelompok dapat melakukan kerja mempercepat dan memperluas proses
sama dalam pembelian sarana produksi dan pembelajaran, meningkatkan peran dalam
pemasaran hasil. Dalam hal sosial budaya, pembangunan perikanan, mempermudah
pendekatan kelompok selaras dengan pola pembinaan dan memperlancar proses
kebiasaan masyarakat yang sangat pemberdayaan, meningkatkan rasa
berorientasi pada kelompok dalam setiap kebersamaan dan kemandirian,
masalah kehidupan. Aktivitas masyarakat menumbuhkan jiwa kepemimpinan, dan
sangat ditentukan melalui keputusan- meniadakan kecemburuan sosial.
keputusan kelompok.
Menurut Johnson and Johnson (1997), Pendapatan Nelayan Sebelum dan Setelah
kelompok merupakan salah satu faktor Menerima Program
penting dalam kehidupan manusia sebagai
makhluk sosial. Manusia berinteraksi Pendapatan nelayan adalah
dengan berbagai kelompok dalam kehidupan penghasilan bersih yang diterima nelayan
sehari-hari. Manusia hidup sebagai bagian dari usaha penangkapan ikan yang dijalani,
dari suatu kelompok, belajar dalam baik ketika masih sebagai buruh nelayan
kelompok, bekerja dalam kelompok, maupun setelah bergabung sebagai anggota
berinteraksi dengan orang lain dalam KUB penerima program kegiatan
kelompok dan menghabiskan sebagian besar penyediaan dan rehabilitasi sarana dan
waktunya dalam kelompok. prasarana produksi perikanan tangkap, dari
Kelompok memiliki berfungsi sebagai sistem bagi hasil yang telah disepakati,
(1) wadah kerja sama antar anggota dan dengan hasil seperti pada Tabel 4.

109
EnviroScienteae Vol. 12 No. 2, Agustus 2016 : 104-112

Tabel 4. Pendapatan nelayan sebelum dan sesudah menerima program


Pendapatan Nelayan (per Trip/Bulan)
No. Selisih Kenaikan
Sebelum Program Setelah Ptogram
Responden
(Rp) (Rp) (Rp) (%)
1 2.012.533 5.160.363 3.147.829 156
2 1.008.500 3.260.238 2.251.738 223
3 1.477.167 3.260.238 1.783.071 121
4 1.087.208 3.260.238 2.173.029 200
5 835.083 3.260.238 2.425.154 290
6 895.500 3.260.238 2.364.738 264
7 1.287.583 3.260.238 1.972.654 153
8 1.276.611 3.260.238 1.983.626 155
9 1.492.444 3.260.238 1.767.793 118
10 934.667 3.260.238 2.325.571 249
11 1.902.111 3.948.163 2.046.051 108
12 1.299.667 2.466.038 1.166.371 90
13 1.287.167 2.466.038 1.178.871 92
14 1.664.667 2.466.038 801.371 48
15 1.737.000 2.466.038 729.038 42
16 916.667 2.466.038 1.549.371 169
17 935.000 2.466.038 1.531.038 164
18 1.127.000 2.466.038 1.339.038 119
19 1.457.500 2.466.038 1.008.538 69
20 1.304.083 2.466.038 1.161.954 89
21 1.418.667 3.904.663 2.485.996 175
22 1.127.000 2.437.538 1.310.538 116
23 1.139.667 2.437.538 1.297.871 114
24 1.334.500 2.437.538 1.103.038 83
25 1.547.833 2.437.538 889.704 57
26 1.421.333 2.437.538 1.016.204 71
27 805.500 2.437.538 1.632.038 203
28 969.333 2.437.538 1.468.204 151
29 1.485.500 2.437.538 952.038 64
30 1.132.167 2.437.538 1.305.371 115
Sumber: Hasil pengolahan data (2016)

Tabel 4 memperlihatkan bahwa Rp.2.105.000,- (Keputusan Gubernur


pendapatan nelayan setelah bergabung Kalimantan Selatan Nomor:
sebagai anggota KUB dan menerima 188.44/0479/KUM/2015 tentang Upah
program kegiatan penyediaan dan Minimum Kabupaten/Kota Tahun 2016 di
rehabilitasi sarana dan prasarana produksi Daerah Provinsi Kalimantan Selatan).
perikanan tangkap mengalami peningkatan Secara absolut rata-rata pendapatan
yang sangat signifikan, yakni berkisar antara nelayan setelah menerima program adalah
42 - 290% dengan rata-rata 136%. Hal ini sebesar Rp.2.882.917/trip lebih besar dari
berarti pendapatan nelayan mengalami sebelum menerima program yang hanya
peningkatan rata-rata lebih dari dua kali lipat sebesar Rp.1.277.322/trip. Kenyataan ini
dibandingkan ketika masih sebagai buruh diperkuat dengan hasil pengujian secara
nelayan, selain itu peningkatan pendapatan statistik dimana diperoleh nilai t-hitung
nelayan ini berada di atas rata-rata upah sebesar 14,65 dengan probabilitas 0,00 yang
minimum kabupaten kota sebesar lebih kecil dari 0,01, yang berarti ada

110
Kajian Program Kegiatan Penyediaan Dan Rehabilitasi Sarana Dan Prasarana (Saprani, et al)

perbedaan yang nyata antara pendapatan dampak positif terhadap kondisi sosial
nelayan sebelum dan sesudah menerima ekonomi masyarakat nelayan di
paket program pada taraf uji 99%. Kabupaten Tanah Laut, berupa (1)
Kenyataan ini mengindikasikan bahwa perubahan status sosial dari buruh
adanya kelembagaan usaha nelayan dapat nelayan menjadi nelayan pemilik kapal;
memberikan keuntungan yang sangat berarti (2) peningkatan pengetahuan dan
bagi para nelayan dibandingkan sistem kemampuan teknis penangkapan ikan
perorangan yang lebih berpihak kepada dari pengetahuan yang diperoleh secara
pemilik modal/kapal, dimana nelayan hanya autodidak menjadi pengetahuan yang
mendapat sekedar upah dari tenaga yang diperoleh melalui pelatihan yang
mereka curahkan. Berbeda dengan setelah diselenggarakan oleh instansi pembina,
para nelayan berkelompok, masih ada baik pemerintah pusat maupun
bagian dari kelembagaan yang dapat mereka pemerintah daerah; dan (3) secara
nikmati meskipun sebagian dari mereka ekonomi, para nelayan memperoleh
tidak turut atau tidak mendapat giliran peningkatan pendapatan melalui
melaut. Melalui kelembagaan kelompok, penerapan sistem bagi hasil yang pantas
para nelayan juga mendapat tambahan ilmu yang diatur berdasarkan kesepakatan
pengetahuan dan wawasan mengenai teknik bersama dalam kelembagaan usaha
usaha penangkapan melalui kegiatan nelayan.
pendidikan/pelatihan non formal yang 2. Tingkat pendapatan nelayan setelah
diselenggarakan oleh instansi pembina, baik menerima paket program kegiatan
dari pemerintah pusat maupun pemerintah penyediaan dan rehabilitasi sarana dan
daerah. Kondisi ini tentunya dapat memacu prasarana produksi perikanan tangkap
motivasi dan meningkatkan kemampuan mengalami peningkatan yang sangat
kerja para nelayan, sehingga produksi yang signifikan, yang ditunjukkan dengan
dihasilkan dapat menjadi optimal. peningkatan pendapatan antara 42 - 290%
Menurut Robins (2001), hasil kerja atau rata-rata sebesar 136% dari sebelum
yang dicapai sangat ditentukan oleh menerima paket program.
kemampuan (termasuk pengetahuan) dan
motivasi. Ketika masih sebagai buruh
nelayan, keterampilan yang dimiliki dalam DAFTAR PUSTAKA
hal penangkapan ikan relatif sama, yang
diperoleh secara turun-temurun. Mereka Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting dan M. J.
tidak pernah mendapatkan pendidikan/ Setepu. (2001). Pengelolaan
pelatihan teknis penangkapan ikan, dan tidak Sumberdaya Wilayah Pesisir dan
sedang terlibat dengan kelembagaan seperti Lautan Secara Terpadu. Jakarta:
kelompok nelayan atau koperasi nelayan. LISPI.
Setelah berkelompok, kemampuan teknis Dillon, H. S. dan Hermanto. (1993).
nelayan semakin meningkat seiring dengan Kemiskinan di Negara Berkembang.
meningkatnya pengetahuan dan wawasan Jakarta: Prisma.
para nelayan. Johnson, D. W. and F. P. Johnson. (1997).
Joining Together: Group Theory and
Group Skills. Boston: Allyn and
KESIMPULAN Bacon.
Kusnadi. (2000). Nelayan, Strategi
1. Program kegiatan penyediaan dan Adaptasi dan Jaringan Sosial.
rehabilitasi sarana dan prasarana produksi Bandung. Humaniora Utama Press.
perikanan tangkap, yang mengharuskan Robins, R. S. (2001). Teori Administrasi
masyarakat nelayan membentuk suatu Struktur Desain dan Aplikasi. Jakarta:
kelembagaan usaha nelayan, memberikan Arcan.

111
EnviroScienteae Vol. 12 No. 2, Agustus 2016 : 104-112

Sukmawati, D. (2008). Struktur dan Pola


Hubungan Sosial Ekonomi Juragan
dengan Buruh di Kalangan Nelayan
Pantai Utara Jawa Barat. Jurnal
Kependudukan Padjadjaran. 10(1):
50- 63.

112

You might also like