dhiasnauvaly

dhiasnauvaly

Kok orang bisa ya bikin film, dan bagus-bagus?

Favorite films

  • 12 Angry Men
  • The Trial of the Chicago 7
  • Superbad
  • The Batman

Recent activity

All
  • Dune: Part Two

    ★★★

  • Grave Torture

    ★★★★

  • mid90s

    ★★★★

  • The Exiles

    ★★★★★

Recent reviews

More
  • Dune: Part Two

    Dune: Part Two

    ★★★

    Saya kira, pengalaman buruk nonton "Dune: Part One" hanyalah kombinasi masuk angin karena kehujanan plus kurang tidur alih-alih cerita yang macam kain tambal-sulam; bingung mau dibuat apa. Ternyata, setelah menuntaskan sekuelnya, "Dune: Part Two", saya yakin bahwa Denis Villanueve bukan selera saya. Format bentuk sinematiknya sama: cerita yang putus-putus oleh pamer scoring dan tembakan-tembakan panoramik yang, perlu diakui, luar biasa megah.

    Saya coba mengingat-ingat pengalaman menonton Denis seperti di "Arrival", sepertinya sama, ya. Hanya, science-fiction yang tayang 2016 tersebut lebih…

  • Grave Torture

    Grave Torture

    ★★★★

    Semuanya tidak akan terjadi kalau saja Sita dan Adil masuk ke pesantren Misykat Al-Anwar asuhan Roy Murtadho agar dibekali Teologi Pembebasan ketimbang dijejali fiksi fearmongering Siksa Kubur. Atau, taruhlah sudah kadung teles, Siksa Kubur (sebagai fiksi di kepala Sita) tidak akan terjadi seandainya dia sempat berdinamika di orhanisasi macam LMND untuk bertungkus lumus dengan teks-teks materialisme dialektis semasa di kampus.

    Jokes aside, "Siksa Kubur" meneruskan konsistensi Joko Anwar: production value level dewa dan skrip yang terburu-buru. Konsistensi yang nomor dua membuatnya, sebagai pengkarya, menolak "mati" dan bangkit untuk menggoda (calon) penonton dengan intipan easter eggs dan segudang teori keminter.

Popular reviews

More
  • The Exiles

    The Exiles

    ★★★★★

    Film tentang 65 yang paling bertenaga setelah "Senyap". Kalau "Senyap" berhasil menghadirkan sebenar-benarnya senyap, dalam 3-5 detik setelah Adi mengungkap dirinya kepada lawan bicaranya sebagai adik dari orang yang disembelihnya, "Eksil" sukses menghadirkan kisah cinta yang konkret. Cinta kepada tanah dan air, cinta kepada pohon pisang dan batang bambu. Cinta kepada manusia-manusianya.

    Momen paling bikin kejer, selain ketika seorang eksil menyirami bibit pisang dan bambu di pot kembang untuk merawat "Indonesia", adalah ketika Pak Min (salah seorang eksil di Leiden)…

  • Autobiography

    Autobiography

    ★★★★★

    Autobiography adalah momen ketika saya menyadari transliterasi motion picture jadi "gambar idoep" pada permulaan sejarah sinema di Hindia Belanda sudah tepat adanya. Segalanya begitu hidup, dan hidup begitu mengerikan. Tidak ada yang sia-sia di sini dalam membangun pengisahan. Warna dan pergeserannya, hijau dan merah, disematkan pada tiap kesempatan. Bukan hanya soal grading, tapi juga tentang wardrobe -warna helm, jaket, atau pakaian- semua untuk menjelaskan kisah yang bergerak seiring tokoh-tokoh kita di sini berkembang.

    Seram tanpa setan, jargon publisis Autobiography, tepat…