Synopsis
Bring Back My Body!
Returning home after their honeymoon, a couple find themselves haunted by a disembodied head seeking its missing body.
Returning home after their honeymoon, a couple find themselves haunted by a disembodied head seeking its missing body.
Carmela van der Kruk Rangga Nattra Fattah Amin Wulan Guritno Shalom Razade Alexzander Wlan Willem Bevers Elly D. Luthan Gendhis Maharani Goetheng Iku Ahkin Ernanta Kusuma W.N. Naufal Bambang Paningron Samantha Willemina Rasya Yoga Enzo Rici Dek Wawan Heru Menthel Ari Purnomo Mbah Gareng Agik Steve Gumilar Sholeha Azzaro Faradillah Evariani Hisyam Shidqi Nasarius Ardhani Sudaryono Aditya Nugraha Putra A. Muh Aidyl Chairun Kukuh Riyadi Suparno Show All…
Trinil: Give Me Back My Body, ทวงร่างนางแค้น, Trinil: Balekno Gembungku, Trả Xác Cho Ta
This was a pretty interesting movie that i really enjoyed. It was pretty brutal which i really liked, the story was very interesting and entertaining. The acting was pretty good as well and the cinematography was very good. I should check out more Indonesian horror movies because this one was very good.
I would highly suggest this one to everyone it's pretty good.
Trinil is a campy and ridiculous fun horror film which is very light and old-school stupid spooky that you don't need to use your brain to see it -- stupid in a good way, I mean. This is a horror film
that handles the intensity and jumpscares nicely without losing the credibility of what they wants to deliver through the story. Loved the cinematography and the CGI is overall good. Hanung Bramantyo wants to have some fun by making his horror comeback after 17 years and luckily, this turns out to be a good
entertainment.
rara n sutan fuck them
poor yusuf
Colorful; goofy; Netflix-y; overacted; silly; unscary.
Honestly, you never know you need it so bad until you realize it. Itu yang gue dapatin setelah nonton film ini. Film Trinil ini punya banyak hal yang bener bener baru dan ga kepikiran banget kalo ternyata kita butuh hal hal baru ini di industri perfilman horor lokal kita, kaya...ya kapan lo terakhir liat ada dukun hipster Melayu yang lawan setan pake ajian Melayu Jawa? Gapernah coi! Gapernah!
Trinil bisa gue sebut sebagai sinema riang gembira buat gue karena film ini bener bener bikin gue gembira sekali! Gimana nggak? Film ini treatment nya dibuat dari sisi visualisasi sampai teknis nya kaya film horor jadul Indo era 70-80an banget. Jadi nonton film ini, terasa seperti lo nonton film horor jadul yang…
- untuk konsep sih hanung gak pernah gagal ya, cuma ini eksekusinya jelek banget anjir berasa film low budget yang kurang enak buat ditonton.
- sutan dan rara ini macem elvis dan priscilla presley aja gayanya wkwk, mana si rara sepanjang film beneran annoying banget lagi najis. sutan tekanan batin banget ngadepin rara dan segala teror yang terjadi, kesian bangat.
- setelah dukun di film susuk, ada lagi ni dukun nyentrik nan ganteng udah kek vokalisnya guns n' roses tai tai.
- ada adegan sutan tiba-tiba menggal kepala nya si yusuf, gua kan bingung lu ngapain minta pertolongan dia kalo ujung-ujungnya begitu? kalo otak lu jalan dikit kan pasti rahasia bakal kebongkar sama ntu dukun. ini ter-gakjelas sih.
- dialog-dialog…
yusuf ngapain digorok anjir wqwqw
btw dari si shalom ke wulan guritno itu pas ye, lah yang jadi willem, dari muda masa langsung tua bener kek bapak gua wqwqwqwqw
"Kamu ini masih hidup suka menggangguku, sudah matipun masih menggangguku. Maumu apa SETANNNNNN!!"
Kalau James Wan punya Malignant, nampaknya Trinil adalah filmnya Hanung Bramantyo untuk bersenang-senang. This is so UNSERIOUS in many ways. So campy, ridiculous yet entertaining. Siapa sangka kita akan mendapatkan drama cegil ibu dan anak, cogan kagetan dan dukun hippie melayu yang menganut research-based method dalam satu layar. Untuk masalah teknis rasanya ga perlu dipertanyakan kecuali inkonsistensi aksen dan ejaan lama.
Trinil sesungguhnya memang drama opera sabun 70-an berbalut horor yang akan bikin senyam senyum dengan twist berlapis ala sinetron jadul. Menyenangkan, bisa dinikmati tanpa otak.
Sutan, you such a dickhead klamar klemer guy.
Tak disangka ternyata awal tahun ada horor lokal yang lumayan bagus dan bisa ditonton enjoy tanpa perlu berpikir keras. Walaupun konfliknya sederhana tentang centil ibu dan anak tapi bisa berakhir sebrutal ini. Trinil sejatinya adalah horor jadul tahun 70an yang dikemas cukup menarik dengan sajian gore yang lumayan intens. Hanung Bramantyo mengemas desain interior dan tata artistik yang beneran dapet banget nuansa jadulnya. Rumah, kostum, rambut yang dipakai visualnya terlihat seperti klasiknya ala-ala Belanda. Gua suka sama dialog Jawa yang terasa natural dan pengucapannya enak didengar.
Music scoringnya pun memakai lagu dan instrumen jadul yang ngena banget sama suasana. Sinematografinya ciamik sekali, dari awal udah berasa mencekam dan terornya. Openingnya cukup meyakinkan dengan gorenya yang lumayan sadis. Dari awal sampai akhir nonstop dikasih gore yang sadisnya konsisten. Siapa sangka ternyata Wulan Guritno totalitas dalam memerankan karakter Kuyang yang tampil berani. Cara dia menampakkan diri dan meneror sebagai Kuyang dapet banget seremnya.
This is some crazy hantu story, la?
Gue paham konsepnya tuh emang sengaja dibuat horor jadul kayak siaran radionya dan emang ada beberapa scene yang konyol banget gitu. Tapi gue sampe 3 kali ketiduran nontonnya mungkin saking nggak engaging dan continuity ceritanya kurang enak.
Bahasanya emang baku dan kaku tapi akting yang jadi Rara dan Sultan atuhlah .. 🥹 (semoga bisa belajar lagi 🙏) . Naskahnya sering banget si Rara ngomel-ngomel : " Saya nggak suka ada orang asing yang masuk kamar saya!"
Sisanya di awal paruh kedua ada adegan tebas-tebas kepala lumayan ok dan bikin melek laah. Kostum juga ala-ala 70 an banget. Meski wignya bikin kesel bgt . Wkwkw .
Oke lah mas Hanung horornya yg kali ini emang berbeda tapi lebih bisa dinikmati yang genre drama aja deh 🙏