Synopsis
To become popular and impress his longtime crush, a nerdy teen forms a pop band with his three best buddies, but it causes a rift in their bromance.
To become popular and impress his longtime crush, a nerdy teen forms a pop band with his three best buddies, but it causes a rift in their bromance.
Bayu Skak Brandon Salim Joshua Suherman Tutus Thomson Cut Meyriska Glenca Chysara Aliyah Faizah Arief Didu Tri Yudiman Cak Sapari Cak Kartolo Richard Oh Agus Hartono Anof Zulfania Erick Estrada Yudha Keling Henasatya Wawan Saktiawan Devina Aureel Indra Widjaya Ria Ricis Erix Soekamti Sandy Pas Band Tretan Muslim Billy Boedjanger Ence Bagus Uus Muhadkly Acho Marlon Taka Show All…
Ini film kayaknya cocok ditonton 6 bulan sekali, kaya minum obat cacingan
Yowis Ben adalah sebuah drama romcom dengan paket lengkap. tidak hanya menghibur dengan komedinya, tapi juga memberi kesan baik dari sisi romantisnya. porsi drama dan komedinya tidak berlebihan, pas. performa para cast-nya pun bisa dibilang tidak mengecewakan sama sekali.
dari segi premis, mungkin tidak ada hal baru untuk kisah yang satu ini. menceritakan empat sahabat yang ingin membuktikan kepada lingkungannya jika mereka punya keahlian dan bisa berprestasi. membuat band, terkenal, konflik karena perempuan, bubar. cliche.
namun, ada hal menarik yang membuat film ini menjadi sangat solid. dialog yang diucapkan di dalam film ini hampir seluruhnya menggunakan bahasa Jawa. bahasa Jawa yang digunakan seakan memberikan kekuatan terhadap setiap elemen yang ada di film ini. apik, cok!
film romcom ala Bayu Skak…
Film ini benar-benar menghibur, walau saya bukan orang Jawa tapi saya menikmati dialognya dan interaksi antar karakternya.
Bayu Skak berhasil mengikuti jejak Raditya Dika, Ernest Prakasa dan Sholeh Solihun yg telah berhasil bertansformasi dari seorang comedian menjadi seorang aktor serta filmmaker.
WONG EDAN!
Inspiratif, emosional, menyenangkan. Cerita sederhana tentang sekelompok underdog yang berusaha mencari eksistensi dan pembuktian dari orang-orang terdekat. Dikemas secara asik dan menyenangkan, dilengkapi lagu-lagu yang sangat ear catchy. Gong nya ada pada lagu "Gak Iso Turu" yang sangat sakral dan emosional. Apik!
Ngeband pengen punya pacar, udah punya ya gak penting lagi lah band-nya haha.
SANGAR, SANGAR! Ini film yang enak ditonton pas lagi sakit demam kayak gini. Walaupun klise, tapi bikin anget hati ngeliat persahabatan Bayu, Yayan, Doni, dan Nando. Kehadiran Yowis Ben bagi para penggemarnya di film ini mungkin sama dengan kehadiran Via Vallen bagi para pecinta musik saat ini.
Butanya Bayu sama cinta bikin aku jadi inget video Hati-Hati di Internet-nya, yang isinya tentang curhatan dia terlibat digital love sama orang fake. Yayan lucu dan sama banget nih, aku juga suka kuah pop mie sama kayak dia wkakaka. Hidup kuah pop mie!
Bapaknya Nando dan ibunya Bayu so sweet bikin rahim anget. Doni yang diperanin Joshua Suherman menurutku paling hidup sih karakternya. Dialog demi dialog di film ini yang sebagian besar berbahasa Jawa, terdengar lucu berkat karakter Doni. Nando yang diperanin sama Brandon Salim, ganteng alami uwuwuwuw. Nggak sok ganteng dan nyeleb kayak Bowo Alpenliebe si bocah tiktok.
Yowis lah, ini film apik pokokne.
[Susan] "Jancuk!"
Melihat trailernya, saya langsung melewatkan film ini ketika tayang di bioskop. Bukan hanya bahasanya, cerita yang diangkat pun sepertinya gak bakal nyambung dengan saya. Ternyata saya salah, film ini sangat menghibur. Tidak terlalu lucu tapi pas. Cerita cinta-cintanya menurutku agak berlebihan tapi mampu tertutupi oleh kisah persahabatan Bayu, Doni, Nando dan Yayan.
Meski hampir seluruh dialognya menggunakan Bahasa Jawa, namun tetap bisa dinikmati dan malah terasa lebih nyata berhubung setting-nya di Malang dan sekitarnya.
Saya juga suka dengan pace filmnya yang cepat dan tidak bertele-tele.
Karakter paling pas di sini adalah Doni yang diperankan apik oleh Joshua Diobok-obok. Lalu kemudian Nando, biasanya saya paling gak suka lihat akting Brandon Salim yang sok ganteng, tapi di sini dia beneran bermain bagus.
ketawa mulu nonton ini ih soalnya dialog komedi dalam bahasa jawa itu beneran natural dan lucuuuu ya kek biasa kita kalo ngobrol gitu lohhhh ga dibuat buat
oh iya, asli, sebel banget sama Susan udah ga debat. doi nyebelin dan annoying puuuooool
punya tempat spesial di dalam list list filmku soalnya setting dan budaya Malangnya yang bikin kangen rumah :’) <3
Yo Wis Ben cukup menghibur karena bahasa Jawanya. Bayu Skak dan Fajar Nugros mencoba mendobrak kutukan film Jawa yang tidak ditonton orang Jawa.
Karena memang materinya ringan. Tentang remaja. Pembuktian diri. Toleransi bahkan. Lawakan, walau kadang artifisial. Hanya saja tokoh ceweknya masih dimainkan cewek Jakarta, cewek kota, rasanya tipikal banget.
Lah ternyata aku suka filmnya, lebih ke suka banget persahabatan mereka yang kemudian ngebentuk band. Gimana usaha mereka yang pengen pembuktian masing-masing. Terus sukanya lagi karena hampir 80% pake bahasa jawa timuran. Dengan cak cuk cak cuknya itu yang sangat khas. Lawakannya juga masuk bgt sih, aku nonton malem-malem ngakak terus. HAHAHA
Tapi Susan ngapain sih plin plan bgt bikin ngga suka. Nyebelin. Huh!
Ohya, yang pasti poin plusnya adalah LAGU-LAGU mereka enak bangettt didengerin! Seru seruuu👍
PS: Sebenernya ngga sengaja nonton Yowis Ben Series eps 1 kemarin, terus kepo sama filmnya. Terus kaget, lah Bayu Skak di series jadi lemu, pas di film pertama masih kurus poll. Hihi
Yowis Ben mempunyai cerita yang membosankan yang mungkin terinspirasi dari film comedy bertema band ‘dari negara tetangga’ akting yang menurutku sangat kaku alias gak natural (mungkin beberapa orang saja, like 70% maybe but jadi mengganggu banget). Namun disatu sisi bisa made me laugh dengan puas karena dialog dan komedinya, dan aku suka banget sama bangunan (rumah or somethin else) yang so colorful. Thats it. If you’re curious then go watch it. Ini project pertamanya Bayu Skak & I appreciate it so much!