Evaluasi Pembelajaran - KB2
Evaluasi Pembelajaran - KB2
Evaluasi Pembelajaran - KB2
PENERAPAN PENILAIAN
AUTHENTIK
Indikator Kompetensi
Diharapkan setelah mempelajari kegiatan belajar 2 ini mahasiswa mampu:
1. Melaksanakan penilaian authentik
2. Menjelaskan macam-macam penilaian authentik
3. Menganalisis penilaian beroreantasi HOTS
4. Menyusun soal HOTS
5. Menguraikan peran soal HOTS
Uraian Materi
Dalam kurikulum 2013, menggunakan penilaian athentik dalam mengukur
perkembangan belajar atau hasil belajar siswa. Selanjutnya ada proses reformasi atau
penyempurnaan dalam penilaian yaitu penilaian beroreantasi HOTS. HOTS harus dimiliki
oleh peserta didik dalam rangka mempersiapkan perkembangan peserta didik yang mampu
memenuhi tantangan dan kebutuhan abad 21 yaitu dengan terbentuknya peribadi yang kreatif,
inovatif dan mempunyai daya saing yang tinggi. Semua hal positif yang diharapkan ada pada
peserta didik dapat diwujudkan dengan treatmen yang tepat dalam pembelajaran yang
dilakukan yang terdapat didalamnya tersebut tentang bagaimana penilaian yang dilakukan.
Dan anda dapat mempelajari dalam kegiatan belajar 2 ini tentang apa itu penilaian athentik
dengan macam-macam penilaiannya, kemudian diuraikan pula tentang penilaian beroreantasi
HOTS tentang penyusunannya soal HOTS dengan tingkatan kognitifnya, macam-macam
penilaiannya. Karakteristiknya, dan peran soal HOTS. Dan setelah mempelajari materi-materi
tersebut diharapkan anda dapat memahami dengan baik dan benar tentang materi-materi
tersebut dan dapat menerapkannya dalam pembelajaran yang anda lakukan.
1
A. Pengertian Penilaian Authentik
Penilaian Autentik adalah bentuk penilaian yang menghendaki peserta didik menampilkan
sikap, menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pembelajaran dalam
melakukan tugas pada situasi yang sesungguhnya.
Penilaian authentik dilakukan secara komprehensif untuk menilai dari masukan, proses dan
keluaran, yang mengukur hasil belajar peserta didik meliputi ranah sikap, pengetahuan dan
ketrampilan. Makna authentik adalah kondisi nyata atau keadaan sesungguhnya yang berkaitan
dengan kemampuan peserta didik. Peserta didik diberi kesempatan dalam menilai kemampuan atau
prestasi mereka sendiri. Berati, pada penilaian authentik lebih ditekankan pada proses belajar yang
disesuaikan dengan situasi dan keadaan sesungguhnya, baik itu di dalam kelas maupun di luar
kelas.
B. Macam Macam Penilaian Authentik
Kurikulum 2013 menerapkan penilaian autentik untuk menilai kemajuan belajar peserta
didik yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan, teknik dan instrumen yang dapat
digunakan adalah sebagai berikut :
1. Teknik dan instrumen yang digunakan dalam menilai kompetensi sikap :
a. Pedoman observasi adalah teknik cara yang digunakan untuk pengamatan terhadap suatu
objek amatan yang dilakukan melalui panca indra. Di dalam pedoman observasi tersebut
mencakup unsur- unsur / komponen yang hendak diukur atau diamati.
b. Penilaian diri adalah teknik penilaian terhadap dirinya sendiri, yang mensyaratkan siswa
dengan jujur mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya, alat ukur dapat berbentuk
penilaian diri.
c. Penilaian antarpeserta didik adalah teknik penilaian yang meminta siswa untuk dapat saling
menilai yang berhubungan dengan pencapaian kompetensi.
d. Teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan
pencapaian kompetensi. Alat ukur yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta
didik.
e. Jurnal didalamnya berupa catatan pengamatan pendidik terhadap siswanya di dalam dan di
luar kelas berupa kekuatan dan kelemahan siswanya yang berhubungan dengan sikap dan
perilaku.
2
f. Wawancara merupakan komunikasi antara dua orang, melibatkan pendidik yang ingin
memperoleh informasi dari peserta didik dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
berdasarkan tujuan tertentu.
2. Teknik dan instrumen penilaian kompetensi keterampilan :
Penilaian yang dilakukan oleh pendidik/ guru terhadap kemampuan siswa dalam mempraktikan
suatu kompetensi psikomotorik dengan penilaian kinerja. Dilakukan dengan menggunakan tes
praktik, tes projek, dan penilaian portofolio, dan alat ukur berupa daftar cek atau skala penilaian
yang dilengkapi rubrik.
a. Tes praktik adalah penilaian yang meminta respon berupa keterampilan melakukan suatu
kegiatan atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.
b. Projek berupa tugas-tugas yang memuat kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan
pelaporan.
c. Penilaian portofolio adalah penilaian terhadap kumpulan karya siswa dalam suatu bidang
tertentu yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu, sehingga teridentifikasi minat dan
perkembangan siswa. Penilain ini dapat dilkuakan bersama antara guru dengan siswa
dalamembahasi hasil kerja siswa.
3. Teknik dan instrumen penilaian kompetensi pengetahuan, pendidik menilai kompetensi
pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
a. Instrumen tes tulis seperti soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah,
menjodohkan, dan uraian.
b. Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan.
c. Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan atau projek yang dikerjakan secara
individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
3
Tidak ada perubahan Penilaian sikap pada pembelajaran yang berorientasi HOTS
dengan penilaian sikap pada Kurikulum 2013. Pada penilaian sikap diasumsikan setiap siswa
memiliki perilaku yang baik. Perilaku menonjol (sangat baik atau perlu bimbingan) yang
dijumpai selama proses pembelajaran dapat ditulis dalam bentuk jurnal atau catatan pendidik.
Penilaian sikap dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran yang dirancang dari KD
yang berasal dari KI-3 dan KI-4 yang berpasangan. Dan dapat dilakukan secara terpisah
ataupun terpadu terhadap penilaian pengetahuan dan ketrampilan, karena waktu penilaian
ketrampilan tersebut dilaksanakan maka sebenarnya telah melakukan pula penilaian
pengetahuan.
Acuan dalam penilaian pengetahuan dan ketrampilan yaitu kepada pemetaan kompetensi
dasar yang berasal dari KI-3 dan KI-4 pada periode tertentu. Penilaian pengetahuan (KD dari
KI-3) dilaksanakan dengan cara mengukur penguasaan peserta didik yang memuat dimensi
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif dalam berbagai tingkatan proses
berpikir.
Penilaian hasil belajar diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi
(Higher Order Thinking Skills/HOTS) siswa, dengan berpikir tingkat tinggi mampu memotivasi
siswa dapat berpikir secara luas, holistik dan mendalam.
1. Pengertian HOTS
HOTS adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking
Skills/HOTS). Dalam penilaian terwakili melalui instumen yang berisi soal-soal HOTS,
soal-soal HOTS berusaha mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
Kemampuan berfikir yang tidak hanya berfikir pada tahap mengingat, tetapi juga
mengungkap kembali, atau merujuk kepada sesuatu dengan tidak dicerna.
Dalam konsteks penilaian soal-soal HOTS dapat mengukur kemampuan siswa:
transfer satu konsep ke konsep lainnya, memproses dan menerapakan insfomasi, mencari
hubungan dari berbagai sumber yang beragam. Menggunakan informasi untuk selesaikan
masalah, mentelaah ide dan informasi secara kritis.
Jika diamati dari dimensi kognitif, soal-soal HOTS tersebut mayoritas mengukur
dimensi metakognitif, sehingga tidak hanya mengukur pada tahap factual, konseptual, atau
procedural saja. Dimensi mekognitif menggambarkan kemampuan mengkaitkan beberapa
konsep yang beragam, menginterpretasikan, memecahkan masalah, memilih strategi
4
pemecahan masalah, menemukan cara baru, berpendapat, dan mengambil keputusan yang
tepat.
2. Karakteristik Soal HOTS
a) Mengukur kemampuan tingkat tinggi.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu kemampuan dalam memecahkan
masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir
kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan
mengambil keputusan (decision making). Untuk itu bukan sekedar berfikir dalam teraf
menghafal atau mengingat.
Hal penting yang harus dimiliki oleh siswa pada abad 21 ini adalah kemampuan
berfikir tingkat tinggi. Dan kreativitas menyelesaikan masalah dalam HOTS, terdiri
atas : kemampuan menyelesaikan masalah yang tidak dikenal, kemampuan
mengevalausi strategi yang dipakai dalam memecahkan persoalan dari berbagai sudut
pandang yang berbeda, ditemukannya cara-cara baru yang berbeda dengan sebelumnya
dalam memecahkan masalah.
Harap diketahui bahwa taraf sukar soal berbeda dengan kemampuan berfikir
tingkat tinggi, contoh, untuk mendapat jawaban arti kata yang tidak umum (uncommon
word) bisa saja dikatakan taraf sukarnya yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk
menjawab permasalahan tersebut bukan termasuk higher order thinking skills.
Sehingga dapat diketahui, soal-soal HOTS belum tentu soal-soal yang mempunyai taraf
sukar yang tinggi.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam kegiatan belajar mengajar
di kelas, yaitu dengan menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menemukan
konsep pengetahuan berbasis aktivitas.
b) Berbasis masalah kontekstual.
Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan
sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep
pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.
Masalah konstekstual dimaksud adalah masalah nyata yang ada dalam
lingkungan sekitar atau dunia, yang berkaitan dengan lingkungan hidup, kebumian,
5
kesehatan, ruang angkasa, dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
berbagai aspek kehidupan
Karakteristik penialain kontekstual, dapat disingkat REACT. 1) Relating,
penialaian yang berkaitan langsung dengan konteks pengalaman nyata 2) Experiencing,
ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan
(creation). 3). Applying, menghendaki kemampuan siswa dalam menerapkan ilmu
pengetahuan yang didapatkan di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah
nyata. 4). Communicating, menghendaki kemampuan siswa mampu menyampaikan
kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah. 5). Transfering, menghendaki
kemampuan siswa mengubah bentuk konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke
dalam situasi baru.
c) Memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran, dengan mengembangkan
HOTS dalam sikap dan perilaku positif siswa,
d) Peenilaiannya menyatu dalam proses pembelajaran dan bersifat on going
e) Menggunakan bentuk soal yang beragam
Soal beragam digunakan denga tujuan mendapatkan informasi yang mendetail dan
lengkap tentang kemampuan siswa, sehingga prinsip obyektivitas dalam evaluasi dapat
terwujud.
3. Tingkatan Kognitif
Anderson & Krathwohl (2001) mengklasifikasikan dimensi proses berpikir sebagai
berikut.
Tabel 1 Dimensi Proses Berpikir
Mengkreasi Mengkreasi ide/gagasan sendiri
Kata kerja : mengkontrusi, desain,
mengembangkan, menulis, memformulasikan
Mengambil keputusan sendiri
Mengevaluai Kata kerja : evaluasi, menilai, menyanggah,
HOTS memutuskan, memilih, mendukung
6
Menjelaskan ide atau konsep
Memahami Kata kerja : menjelaskan, mengklasifikasi,
menerima, melaporkan
Mengingat kembali
LOTS Mengetahui Kata kerja: mengingat, mendaftar, mengulang,
menirukan,
7
dengan perilaku yang diharapkan. Dan uraian materi yang akan diuraikan menuntut penalaran
tinggi, sehingga tidak selalu ada di dalam buku pelajaran. Oleh sebab itu itu dalam menuliskan
soal HOTS, dituntut penguasaan materi ajar, keterampilan menulis soal (kontruksi soal), dan
kreativitas dalam memilih stimulus soal sesuai dengan kontekstual atau keadaan daerah di sekitar
satuan pendidikan. Berikut dijelaskan langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS
1. Menganalisis KD
Dapat dilakukan secara mandiri oleh guru atau melalui forum KKG/MGMP dapat melakukan
analisis terhadap KD untuk dibuat soal-soal HOTS.
2. Menyusun kisi-kisi soal
Membantu guru dalam :
a. memilih KD
b. merumuskan IPK
c. memilih materi pokok yang berhubungan dengan KD
d. merumuskan indikator soal
e. menentukan level kognitif
f. Menentukan bentuk soal dan nomor soal
3. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Dengan stimulus menarik akan memotivasi siswa dalam membaca stimulus soal. Menarik dapat
pula karena hal itu baru. Adapun maksud stimulus kontekstual adalah sesuai dengan kenyataan
dalam kehidupan sesungguhnya sehingga memotivasi siswa membaca, sehingga guru dapat
menentukan terhadap pilihan stimulus yang akan digunakan.
4. Penulisan butir soal sesuai dengan kisi-kisi.
Penulisan butir soal HOTS mempunyai kaidah yang sama dengan penulisan butir soal pada
umumnya, hanya dibedakan aspek materi saja, sedangkan untuk konstruksi dan bahasa adalah
sama. Menyusun panduan penskoran (rubrik) atau kunci jawaban.
5. Menyusun pedoman pensekoran (rubrik) dan kunci jawaban
Soal HOTS yang kita susun agar disertai dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.
Berikut contoh penyusunan kisi-kisi penulisan soal dan soal, dapat dipaparkan sebagai berikut:
8
Contoh Kisi-Kisi Penulisan Soal Bentuk Tes Obyektik dan Uraian
Jenjang Pendidikan: SMP
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama
Kelas : VIII Jumlah Soal: 3
Bentuk Soal : 2 PilihanGanda (PG) + 1 Uraian
Kartu Soal :
KARTU SOAL NOMOR 1 (PILIHAN GANDA)
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama
Kelas/Semester : VIII/1I
Kompetensi Dasar Menjelaskan tata cara puasa wajib dan sunah
Materi Ibadah Puasa
Indikator Soal Disajikan sebuah cerita, peserta didik dapat menguraikan pengertian puasa wajib
Level Kognitif C3
Soal :
1. Setiap bulan Ramadhan umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa, dan
yang dimaksud ibadah puasa ialah….
a. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga
terbenam matahari disertai niat dan beberapa syarat tertentu
b. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak waktu shubuh hingga
waktu magrib disertai niat dan beberapa syarat tertentu
c. Menahan diri dari yang di sunahkan sejak waktu shubuh hingga terbenam matahari
disertai niat dan beberapa syarat tertentu
d. Menahan diri dari segala sesuatu yang diharamkan Allah sejak terbit fajar hingga
terbenam matahari disertai niat dan beberapa syarat tertentu
9
No Sekor
Soal Kriteria / Kunci Jawaban
1 Kunci : a 1
Kartu Soal :
KARTU SOAL NOMOR 2 (PILIHAN GANDA)
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama
Kelas/Semester : VIII/1I
Kompetensi Dasar Menjelaskan tata cara puasa wajib dan sunah
Indikator Soal Disajikan sebuah masalah, peserta didik dapat menyimpulkan hukum puasa
wajib
Level Kognitif C3
Soal:
2. Di bulan Ramadhan, seorang siswa SMA bernama Rolan di rawat di rumah sakit karena di gigit
nyamuk aedes aegepty yang menyebabkan ia sakit demam berdarah, dengan keadaannya
tersebut apakah Rolan harus berpuasa ?
a. Boleh tidak berpuasa, dan tidak perlu meggantikannya di hari lain apabila ia sembuh
b. Boleh tidak berpuasa, dan wajib menggantikannya di hari lain apabila sudah sembuh
c. Wajib tetap berpuasa, karena puasa wajib harus dilaksanakan di bulan Ramadhan
d. Wajib tetap berpuasa, karena tidak dapat diganti di hari lain
No Sekor
Soal Kriteria / Kunci Jawaban
1 Kunci : b 1
Kartu Soal :
KARTU SOAL NOMOR 3 (URAIAN )
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama
Kelas/Semester : VIII/1I
Indikator Soal Disajikan sebuah masalah, peserta didik dapat menentukan syarat wajib puasa
10
Level Kognitif C4
Soal:
3. Bulan Ramadhan tiba, siswa dan siswi Madrasah Pembangunan (MA) dari tingkat
Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai dengan Madrasah Aliyah (MA) dididik menjalankan
ibadah puasa, dengan panduan monitoring ibadah didapati : Rolan siswa kelas II MA
tanpa adanya halangan ia tidak berpuasa, begitupula Andri siswa kelas I MI tidak
berpuasa, hanya siswa kelas I yang bernama Maryam berpuasa, kemudian
bagaimanakah hukumnya Rolan dan Andri yang tidak berpuasa dan bagaimana pula
nilai ibadah puasa yang dijalankan oleh Maryam, jelaskan !
No Sekor
Soal Kriteria / Kunci Jawaban
11
Pada kompetensi sikap. Penilaian utama didapatkan dari observasi harian yang ditulis di
dalam jurnal harian. Penilaian penunjang didapatkan dari penilaian diri dan penilaian antar teman,
yang hasilnya dapat dijadikan dasar konfirmasi dari hasil penialian sikap oleh pendidik. Teknik
penilaian yang digunakan dapat berupa observasi melalui wawancara, catatan anekdot, dan catatan
kejadian tertentu sebagai unsur penilaian utama.
Sikap merupakan ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang terdapat pada seseorang,
yang dapat terbentuk, sehingga terjadinya perilaku atau tindakan yang diinginkan. Terdapat tiga
aspek dalam yakni: afektif, kognisi, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki
oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognisi berkaitan dengan
kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif berupa
kecenderungan atau kesiapan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan
dengan kehadiran objek sikap. Dan anda dapat memilih model-model intrumen atau alat ukur
sikap sesuai dengan kebutuhan pengukuran atau penilaian, adapun langkah-langkah menyusun
pengukuran atau penilaian sikap, secara umum adalah sebagai berikut: merumuskan tujuan (sesuai
dengan jenis obyek yang akan diukur/dinilai) dan sesuai dengan jenis instrumen sikap, membuat
kisi-kisi yang mewakilai isi dimensi/indikator, menyusun aspek-aspek sikap yang akan di ukur,
menyusun alat ukur (istrumen) sikap.
12
b. Jurnal Penilaian Sikap
Jurnal
Nama :
Kelas :
Hari/tgl Kejadian (positif atau negative) Keterangan
Tindak lanjut berfungsi untuk mengidentifikasi siswa yang perlu pembinaan sikap
berdasarkan catatan yang tertulis di dalam jurnal. Pembinaan dilakukan kepada siswa yang tercatat
mempunyai sikap yang kurang, untuk diperbaiki sehingga siswa mempunyai perilaku yang baik.
Selain jurnal, dalam proses penilaian sikap, guru dapat membuat format penilaian diri dan
penilaian antar teman. Penilaian diri dan antarteman berfungsi sebagai alat konfirmasi terhadap
penilaian yang dilakukan oleh pendidik. Penilaian antarteman paling baik dilakukan pada saat
peserta didik melakukan kegiatan berkelompok.
d. Penilaian diri siswa
Nama : ----------------------------
Nama-nama anggota kelompok : ----------------------------
Kegiatan kelompok : ----------------------------
Isilah pernyataan berikut dengan jujur. Untuk No. 1 s.d. 6,
13
isilah dengan angka sesuai dengan keadaan anda yang sesungguhnya:
4 = selalu , 3 = sering, 2= kadang-kadang, 1=tidak pernah.
1.--- Selama diskusi saya mengusulkan ide kepada kelompok untuk didiskusikan
2.--- Ketika kami berdiskusi, tiap orang diberi kesempatan mengusulkan sesuatu
3.--- Semua anggota kelompok kami melakukan sesuatu selama kegiatan
4.--- Tiap orang sibuk dengan yang dilakukannya dalam kelompok saya
5. Selama kerja kelompok, saya….
---- mendengarkan orang lain
---- mengajukan pertanyaan
---- mengorganisasi ide-ide saya
---- mengorganisasi kelompok
---- mengacaukan kegiatan
---- melamun
6. Dan seterusnya….
4. Penilaian Keterampilan
Penilaian ketrampilan didalamnya terdapat aspek-aspek HOTS, instrumen yang digunakan
berupa teknik praktik, produk dan proyek, sebab dalam proses tersebut ada kreativitas, ada proses
transfer knowledge dan ada proses penyelesaian masalah. Jadi proses penilaian keterampilan
mencakup aspek transfer knowledge, critical thinking dan creativity serta problem solving.
Adapun langkah langkah penilaian kinerja : identifikasi semua langkah-langkah penting
yang diperlukan, tentukan perilaku kemampuan-kemampuan yang hendak diukur, membuat
14
kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur, tentukan dengan jelas kriteria kemampuan yang
akan diukur, urutan kriteria-kriteria kemampuan dengan urutan yang sistematis.
Berikut contoh instrumen penilaian sikap adalah sebagai berikut :
a. Penilaian Praktik
Format Penilaian Praktik Berwudhu
2 Mencuci tangan
3 Berkumur
4 Mencuci hidung
5 Membasuh muka
7 Membasuh kepala
8 Membasuh telinga
15
Keterangan Pensekoran :
4 = Melakukan sempurna
3 = Melakukan cukup sempurna
2 = Melakukan kurang sempurna
1 = Tidak bisa melakukan atau keliru total
Nama Sekolah/Madrasah :
Mata Pelajaran :
Nama Siswa :
Kelas / Semester :
Hari / Tanggal :
Petunjuk : Berilah penilaian dengan menggunakan tanda cek ( V ) pada setiap aspek yang tertera
di bawah ini sesuai dengan tingkat penguasaan siswa :
7 Membaca basmallah
8 Membasuh kedua telapak tangan
sampai pergelangan
9 Membersihkan sela-sela jari tangan
dan kaki
10 Mendahulukan anggota tubuh yang
kanan dari pada yang kiri
16
11 Berkumur-kumur sambil
menggosok-gosok gigi agar tidak
ada sisa makanan yang tertinggal
12 Membersihkan hidung dan
mengeluarkan kotoran dari hidung
(istinsyak)
13 Membasuh ke dua telinga luar dan
dalam
14 Membasuh (bersuci) tiga kali
15 Berturut-turut antar anggota
15 Menghadap kiblat
17 Tidak berbicara ketika berwudhu
18 Berdoa setelah berwudhu
Total sekor yang diperoleh
17
Nilai = Sekor perolehan x 100
21
Format Penilaian Praktik Sholat
Keterangan Pensekoran :
5 = Melakukan sempurna
3 = Melakukan cukup sempurna
2 = Melakukan kurang sempurna
1 = Tidak bisa melakukan atau keliru total
18
b. Penilaian Proyek
Format Penilaian Proyek
Penelitian Sederhana Tentang Pengelolaan Zakat Fitrah di Lingkungan Masjid
Mata pelajaran :
Nama proyek :
Alokasi waktu :
Nama siswa :
Kelas/smt :
Jumlah Sekor
19
Nilai = Sekor perolehan x 100
12
c. Penilaian Produk
Format Penilaian Produk
No Aspek Skor (1 – 5) *
1. Perencanaan Bahan
2. Proses Pembuatan
a. Persiapan Alat dan Bahan
b. Teknik Pengolahan
c. K3 (Keamanan, Keselamatan dan Kebersihan)
3. Hasil Produk
a. Bentuk Fisik
b. Inovasi
c.Estetika/keindahan
Total Skor
Catatan :
Sekor diberikan dengan rentang sekor (1-5), dengan ketentuan semakin lengkap /
sempurna maka semakin tinggi nilainya.
20
Format Penilaian Portopolio
Keterangan :
21
e. Peran Soal HOTS
Bentuk instrumen yang berbasis HOT mempunyai banyak manfaat bagi perkembangan
kemampuan belajar siswa, karena soal-soal HOT mempunyai peran untuk:
1. Mempersiapkan kompetensi peserta didik menyongsong abad ke-21. Penilaian dilakukan
oleh satuan pendidikan dengan tujuan membekali siswa mempunyai sejumlah kompetensi
yang dibutuhkan pada abad ke-21.
2. Menumbuhkan cinta dan peduli terhadap kemajuan daerah. Guru diharapkan dapat
mengembangkan soal-soal HOTS dalam melakukan penilaian yang konstruksi soal
disesuaikan karakteristik daerahnya masing-masing
3. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Dan pendidikan di sekolah dapat menjawab
kebutuhan di masyarakat. Ilmu pengetahuan yang dipelajari di dalam kelas, agar
berhubungan langsung dengan penyelesaian terhadap masalah di masyarakat.
4. Meningkatkan mutu Penilaian, karena penilaian yang berkualitas akan dapat
meningkatkan mutu pendidikan. Membiasakan melatih siswa untuk menjawab soal-soal
HOTS, maka diharapkan siswa dapat berpikir secara kritis dan kreatif. Dan siswa
diharapkan mampu mempunyai daya saing yang dibutuhkan di masa yang akan datang.
22